
Musim gugur adalah musim semi yang kedua ketika tiap dedaunan ibarat bunga yang bermekaran, kata Albert Camus, seorang penulis Perancis
Adegan persis dalam film detektif itu selesai juga, meski hanya beberapa menit namun cukup menegangkan, menjadi pembicaraan semua orang dalam bus tak henti-henti. Namun ketika sampai stasiun Hannover, film detektif ini bersambung sejenak. Kami harus transit dan menunggu kedatangan bus berikutnya. Mengapa saya katakan bersambung, karena ternyata cerita detektif ini masih menyimpan beberapa seri lanjutannya sampai misi petualngan ke kota kecil Wageningen ini selesai. Transit sekitar satu jam, saya dan Okta membeli sandwich untuk makan siang, nampaknya kami sangat kelaparan. Ketegangan membuat orang ingin bercerita banyak sehingga menguras energi, dan tentu saja udara dingin yang suka membuat perut keroncongan.
Dua Penyusup, Orang Asing dan Penipuan
Tidak terasa bus tujuan Cologne sudah ada, kota tempat transit kami yang kedua. Tiga jam dari Hannover sampai juga di Cologne. Kami harus menunggu bus langsung ke Arnhem, kota tempat pemberhentian terakhir yang cukup dekat dengan Wageningen. Cukup ramai dan banyak pelancong dengan backpacknya. Tiba saatnya pemeriksaan paspor sebelum naik dan menaruh barang di bagasi. Ada kegaduhan saat menaruh barang, kali ini supirnya cukup tua, bisa dibilang seorang kakek 70 tahun, kepala bagian depannya licin dan botak, sisanya adalah kesuluruhan rambut putih yang disisir rapi.
Kami memperlihatkan tiket dan paspor, ia melayani kami dengan baik, bahkan sempat mengucapkan „terimakasih" ketika melihat paspor kami Indonesia. Wah, saya cukup senang tidak menyangka sama sekali. Kami duduk di bagian tengah bus, suasana penumpang saat menaruh barang di bagasi bus cukup heboh. Pasangan pelancong dari India sempat dimarahi sang kakek karena terlalu banyak membawa barang bagasi dan barang bawaan ke dalam bus, bahkan berceceran setelah saya amati. Tapi mereka naik bus juga setelah beradu mulut dengan berguman kesal.
Setelah sebagian penumpang naik, datang dua pemuda asing berambut hitam, kulit putih dengan ransel besar meloncat ke dalam bus. Sang kakek memeriksa tiketnya, dalam proses pemeriksaan, seorang di antara mereka masuk dengan sedikit menerobos melewati pemeriksaan. Kakek itu langsung berteriak ke arah sang pemuda dan memkasanya keluar, karena tiket mereka palsu. Mereka berdua tidak menghiraukan dan dengan tampang penyusup duduk tepat di belakang kursi saya dan Okta. Kegaduhan mulai terjadi.
Sang kakek memaksa mereka turun sambal berteriak, dua pemuda pelancong asal Italia itu – saya mengamati paspor merah bertuliskan Italy- cukup bengal untuk tidak mau turun, dan bersikeras kalau tiket mereka asli. Pasangan pelancong India membela pelancong Italia. Mereka dengan kompak mengatakan mungkin sang supir yang salah karena banyak keliru dalam melayani. Namun sang kakek supir bersikukuh dengan ketegasannya meminta dua pemuda Italia itu turun, kalau tidak ia akan menelepon polisi. Beberapa penumpang membela dua pemuda bengal, mereka mengatakan bahwa si supir tua kurang teliti. Dua pemuda itu meneriaki Sang Kakek dengan telunjuknya dan mengancam bahwa mereka akan memvideokan ketidaksopanan ini dan akan menguploadnya di Youtube. Sang kakek mengatakan tidak takut dan tidak peduli.
Selang beberapa menit mobil polisi datang. Polisi meminta dua pemuda Italia itu turun. Perjalanan terlambat cukup lama sampai menunggu kejelasan. Rupanya tiket mereka memang salah. Tiket mereka bukan untuk keberangkatan hari ini tapi besok. Sang kakek mendapat panggung saat itu, dan beberapa penumpang yang sangat kesal karena diomeli kakek saat manaruh barang di bagasi hanya bisa bergumam tidak jelas. Cukup lama berada di Cologne di dalam bus yang tidak bergerak dengan praduga-praduga siapa yang benar, bus akhirnya mulai berjalan pelan meninggalkan Jerman memasuki kota Arnhem di bawah hujan-hujan sejuk yang berjatuhan di kaca jendela bus.
Dari stasiun Arnhem, kami naik bus kota sekitar 30 menit sampai Wageningen. Sebenarnya ini bukan sepenuhnya liburan, tugas paper menunggu saya, dan kedatangan saya ke Wageningen adalah untuk bertemu salah seorang teman keturunan Jawa Suriname. Tugas paper saya waktu itu topiknya nasionalisme orang Jawa Suriname.
Dari perjalanan saya di Wageningen, saya berhasil membawa pulang dua buku catatan penting yang ditulis kakeknya sebagai sumber data primer, tak lupa dua botol sambal terasi cap toko Jawa Suriname dan satu kilo ikan teri untuk menemani sarapan sepanjang hari-hari musim gugur. (*)
Annisa Hidayat, saat ini sedang studi master jurusan Southeast Asian Study di Universitaet Hamburg, Jerman.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
