Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Mei 2017 | 23.33 WIB

Mereka Korban-Korban Donald Trump

PECAT: James Comey, Sally Yates, Preet Bharara. - Image

PECAT: James Comey, Sally Yates, Preet Bharara.


JawaPos.com - Belum setahun Donald Trump berkuasa namun dia sudah beberapa kali memecat pejabat-pebajat tinggi. Berikut di antaranya.


Sally Yates - Dipecat dari jabatannya sebagai jaksa agung sementara pada 30 Januari atau 10 hari setelah Trump dilantik. Menurut Gedung Putih, Yates dianggap telah mengkhianati Departemen Kehakiman karena menolak menerapkan perintah eksekutif untuk melindungi penduduk.


Perempuan 57 tahun tersebut membuat Trump berang karena menyatakan bahwa Departemen Kehakiman tidak akan membela perintah eksekutif yang melarang penduduk dari tujuh negara mayoritas muslim masuk ke Negeri Paman Sam.


Saat dipecat, dia adalah pejabat kunci yang terlibat dalam penyelidikan Michael Flynn, penasihat keamanan nasional Trump yang mengundurkan diri. Yates memberi tahu Penasihat Gedung Putih Donald McGahn bahwa Flynn telah berbohong kepada Wakil Presiden Mike Pence tentang pertemuannya dengan Duta Besar Rusia Sergey Kislyak. Departeman Kehakiman memperkirakan, Flynn berpotensi diperas dan telah dipengaruhi Rusia. Karena itulah, Gedung Putih harus mengambil tindakan tegas.


Preet Bharara - Sejak 2009 Bharara menjabat jaksa di Distrik Selatan New York. Setelah menang pemilu pada November tahun lalu, Trump memanggil Bharara ke Trump Tower. Trump meminta alumnus Harvard College itu bertahan pada posisinya setelah Trump dilantik. Bharara menyanggupi. Tapi, pada 10 Maret jaksa agung Jeff Sessions meminta 46 jaksa yang dipilih pada periode pemerintahan Barack Obama untuk mengundurkan diri. Bharara tidak mau karena merasa sudah diminta Trump untuk bertahan di posisinya. Sehari setelah perintah mundur itu tidak dituruti, dia akhirnya dipecat.


Senator Demokrat Elizabeth Warren memperkirakan, Bharara disingkirkan karena Trump Tower masuk wilayah yurisdiksinya. Saat dipecat, tokoh 48 tahun itu sedang menyelidiki klaim Trump bahwa Obama memerintah agar Trump Tower disadap. Hasil penyelidikan, tidak ada bukti-bukti yang menguatkan tudingan Trump tersebut. Dalam dengar pendapat dengan Komite Intelijen Senat, James B. Comey juga menegaskan bahwa tidak ada informasi yang mendukung klaim Trump. Saat itu Comey masih menjabat direktur FBI.


James B. Comey - Comey dibenci oleh Partai Republik maupun Demokrat. Sebab, mantan direktur FBI itu membuka kembali kasus skandal e-mail Hillary Clinton hanya beberapa hari menjelang pemungutan suara. Saat itu FBI mengaku memiliki bukti-bukti baru. Menurut Demokrat, tindakan Comey tersebut membuat Clinton kalah dalam Pilpres 2016. Republik membenci Comey karena tidak mendakwa Clinton dan membiarkannya bebas begitu saja.


Selasa (9/5) Comey dipecat dari jabatan direktur FBI karena dianggap gagal dalam mengurus skandal e-mail Clinton. Saat itu Comey baru menjabat 3,5 tahun sebagai direktur FBI, padahal biasanya jabatan tersebut melekat selama 10 tahun.


New York Times melaporkan, Comey dipecat beberapa hari setelah meminta tambahan staf dan pendanaan pada Departemen Kehakiman untuk penyelidikan keterlibatan Rusia dalam pilpres AS. Departemen Kehakiman tidak mengakui laporan New York Times tersebut.


Diduga, pemecatan Comey berhubungan dengan penyelidikannya atas keterlibatan Kremlin dalam menyukseskan terpilihnya Trump sebagai president of the United States (POTUS). Pemecatan Comey secara tiba-tiba menjadi bahan kritik, baik dari Demokrat maupun Republik. Banyak pihak yang menuding ada yang disembunyikan Trump di balik pemecatan Comey.(berbagai sumber/sha/c19/any)

Editor: Dwi Shintia
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore