Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Mei 2018 | 21.00 WIB

Ternyata Zimbabwe Pasok Kulit Buaya untuk Louis Vuitton, Hermes, Gucci

Zimbabwe pengekspor kedua terbesar kulit reptil - Image

Zimbabwe pengekspor kedua terbesar kulit reptil

JawaPos.com - Berjemur di Lembah Zambezi di Zimbabwe Utara, buaya Nil, pemangsa air tawar terbesar di Afrika, merasa nyaman di habitat yang panas dan lembap ini. Di sisi lain, pemangsa buaya malah merasa tak nyaman karena harus berurusan dengan meningkatnya persaingan regional dan tantangan menjual produk mereka ke pasar.


Menurut laporan United Nations Environment Programme (UNEP) PBB 2017, lebih dari dua juta kulit buaya diperdagangkan setiap tahun di seluruh dunia. Setelah Amerika Serikat, Zimbabwe menjadi pengekspor produk reptil terbesar kedua di dunia.


Namun saat ini perdagangan produk reptil Zimbabwe yang bisa mengirim lebih dari 100 ribu kulit reptil per tahun dalam kondisi terancam. Setelah bertahun-tahun mengalami isolasi internasional dan krisis ekonomi di bawah pemerintahan Robert Mugabe, Zimbabwe dinyatakan terbuka untuk bisnis dengan dunia oleh Presiden Emmerson Mnangagwa.


Mnangagwa, dijuluki Ngwena atau buaya karena sifat licik dan perannya dalam membuka isolasi negaranya. Ia mulai menjabat sejak November 2017 setelah operasi militer yang memaksa Mugabe mundur usai 37 tahun berkuasa.


Dalam upaya untuk menarik kembali investor asing, Mnangagwa meyakinkan calon investor pada pertemuan Forum Ekonomi Dunia bulan Januari di Davos, Swiss, kalau kebijakan proteksionis Mugabe hanyalah masa lalu.


Pemerintahan Mnangagwa membuat langkah-langkah kecil untuk menerapkan kemudahan melakukan reformasi bisnis. Termasuk mempercepat pendaftaran bisnis dan pemrosesan insentif eksportir.


Direktur Crocodile Farmers Association of Zimbabwe (CFAZ) Susan Childes mengatakan kepada Al Jazeera, kalau produk buaya Nil Zimbabwe telah mendominasi pasar. Negara lain selama satu dekade ini juga ikut membuat produk dari buaya adalah Zambia dan Mozambik.


Kompetisi tersebut meningkatkan permintaan produk unggulan, meningkatkan tekanan produsen Zimbabwe untuk terus meningkatkan penawaran mereka.


“Kekuatan pasar mendikte harga dan harga didasarkan pada kualitas. Ketika ada kelebihan pasokan di pasar, harga turun,” ujar Childes.


Manajer umum salah satu perusahaan kulit di Zimbabwe Arnold Britten mengatakan, pihaknya membutuhkan insentif pemerintah yang lebih besar agar mampu bersaing di pasaran.


Sembilan puluh persen dari bisnis buaya adalah ekspor. Sebagian besar dari bisnis itu dilakukan dengan menghadiri pameran di seluruh dunia, dan negara-negara seperti Afrika Selatan memahami ini.


Britten berpendapat, Pemerintah Zimbabwe perlu menawarkan bantuan yang lebih praktis untuk mempermudah berbisnis. Ia meminta agar bea masuk yang tinggi ke Zimbabwe untuk bahan kimia dan mesin yang diperlukan untuk memproses kulit reptil dihapuskan.


Perusahaannya, Zambezi Tanners, terang Britten, adalah satu-satunya pengolah kulit utama di negara ini. Lokasinya terletak di kota selatan Bulawayo. Perusahaannya melayani penyamakan kulit buaya dari Zimbabwe, Zambia, Malawi, dan Mauritius.


Juru Bicara Zimbabwe Parks and Wildlife Tinashe Farawo menggambarkan, perternakan buaya sebagai bisnis menguntungkan. “Kami dapat membantu dengan izin ekspor dan bantuan lainnya untuk menyokong peternak tetapi kami tidak menyediakan pasar bagi peternak. Mereka harus mencarinya sendiri.”


Sebenarnya, bisnis buaya adalah usaha dengan biaya tinggi. Bisnis ekspor kulit buaya juga bergantung pada hubungan yang dibangun dengan negara lain.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore