Presiden Prabowo Subianto saat berbicara dengan wartawan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta (i24News)
JawaPos.com - Indonesia kembali berada di pusat sorotan geopolitik global setelah sejumlah media internasional, termasuk media Israel, memberitakan bahwa Jakarta tengah menyiapkan hingga 8.000 prajurit untuk kemungkinan misi perdamaian di Jalur Gaza, Palestina.
Pemberitaan ini muncul di tengah perdebatan global mengenai pembentukan kekuatan penjaga perdamaian internasional di wilayah yang masih dilanda perang antara Israel dan Hamas.
Melansir dari The Straits Times, Selasa (10/2/2026), rencana tersebut belum final dan masih berada dalam tahap kajian internal militer Indonesia. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menyatakan bahwa jumlah pasukan maupun waktu pengerahan sangat bergantung pada koordinasi lanjutan di dalam rantai komando TNI.
"Rencana ini masih dalam tahap awal, dengan jumlah pasukan dan waktu penyebaran yang akan ditentukan melalui koordinasi lebih lanjut," ujarnya dalam pernyataan resmi seperti dikutip i24news pada Selasa (10/2/2026).
Selanjutnya, i24news melaporkan bahwa fokus utama persiapan Indonesia adalah unit teknik dan kesehatan militer, bukan pasukan tempur. Hal ini menandakan bahwa Jakarta memandang potensi keterlibatan di Gaza terutama sebagai misi kemanusiaan dan rekonstruksi, bukan operasi militer ofensif. Jenderal Maruli juga menegaskan bahwa pembahasan ini muncul setelah pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan pimpinan TNI–Polri di Jakarta.
Namun demikian, penting untuk membaca isu ini dalam konteks yang lebih luas. Financial Times menempatkan rencana Indonesia sebagai bagian dari diskusi global tentang pembentukan kekuatan stabilisasi internasional yang didorong oleh Amerika Serikat (AS), termasuk gagasan kerja sama dalam kerangka Dewan Perdamaian yang diinisiasi pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Dalam kerangka ini, Indonesia dipandang sebagai salah satu negara yang paling terbuka untuk berkontribusi, meski rincian mandat dan struktur komandonya belum disepakati.
Di sisi lain, klaim paling tegas justru datang dari media publik Israel, Channel Kan (KAN News), yang menyebut Indonesia berpotensi menjadi "pasukan asing pertama di Gaza" dan bisa ditempatkan di wilayah selatan antara Rafah dan Khan Younis. Klaim ini kemudian dikutip oleh sejumlah media Israel lain, termasuk The Times of Israel, tetapi hingga kini tidak didukung pernyataan resmi pemerintah Indonesia dan tetap bersifat spekulatif.
Sebagai respons terhadap narasi tersebut, The Australian melaporkan bahwa Jakarta secara implisit menepis anggapan bahwa pasukan Indonesia akan segera dikirim ke Gaza dalam waktu dekat. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa belum ada keputusan final mengenai waktu pengerahan, mandat, maupun komposisi pasukan, dan setiap langkah hanya akan dilakukan jika ada mandat resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Lebih jauh, rencana ini tidak berdiri sendiri, melainkan berakar pada visi kebijakan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada September 2025, ia menyatakan bahwa Indonesia siap mengerahkan "20.000 atau bahkan lebih pasukan penjaga perdamaian untuk Gaza atau kawasan konflik lain jika diminta oleh PBB." Pernyataan ini menunjukkan bahwa angka 8.000 prajurit hanyalah bagian dari kesiapan yang lebih besar.
Dari sudut pandang strategis, langkah ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kompleks. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel, Jakarta harus menyeimbangkan solidaritas terhadap Palestina dengan komitmen terhadap hukum internasional dan stabilitas global. Hal ini membuat setiap keputusan pengiriman pasukan menjadi sangat sensitif secara politik.
Selain itu, hingga kini, Dewan Keamanan PBB belum mengeluarkan mandat resmi untuk pembentukan pasukan internasional di Gaza. Tanpa dasar hukum yang jelas, Indonesia tidak memiliki payung legal yang kuat untuk mengerahkan pasukan dalam skala besar.
Di kawasan Timur Tengah sendiri, beberapa negara Arab masih menunjukkan sikap hati-hati, bahkan skeptis terhadap keterlibatan pasukan asing di Gaza. Kekhawatiran utama mereka adalah potensi gesekan politik dan keamanan jangka panjang di wilayah tersebut.
Dalam dinamika domestik, wacana pengiriman pasukan juga memicu perdebatan. Sebagian kalangan menilai langkah ini berisiko karena dapat menggeser tradisi politik luar negeri Indonesia yang nonblok dan berhati-hati dalam keterlibatan militer di luar negeri. Namun, pendukung kebijakan ini berargumen bahwa Indonesia perlu lebih proaktif dalam diplomasi keamanan global.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
