Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 September 2025 | 22.46 WIB

Nvidia dan Jensen Huang Dominasi Pasar AI Global Lewat Investasi Triliunan Dolar dan Strategi Cerdas

Jensen Huang, CEO Nvidia, memimpin strategi investasi triliunan dolar untuk menguasai ekosistem AI global (Dok. The Information) - Image

Jensen Huang, CEO Nvidia, memimpin strategi investasi triliunan dolar untuk menguasai ekosistem AI global (Dok. The Information)

JawaPos.com - Jensen Huang, pendiri sekaligus CEO Nvidia, semakin menegaskan perannya sebagai arsitek utama ekonomi kecerdasan buatan (AI). Dengan kas berlimpah, dia meluncurkan serangkaian investasi bernilai ratusan miliar dolar yang bukan hanya memperluas ekosistem AI global, tetapi juga memperkuat posisi Nvidia sebagai pemain tak tergantikan.

Dalam sebulan terakhir, Nvidia menyepakati pembelian GPU yang tidak terjual dari penyedia cloud CoreWeave selama tujuh tahun, dengan potensi nilai sekitar 6,3 miliar dolar AS atau Rp 105,5 triliun (kurs Rp 16.740 per dolar AS). 

Perusahaan ini juga menanamkan 700 juta dolar AS atau Rp 11,7 triliun, serta membayar lebih dari 900 juta dolar AS atau Rp 15 triliun untuk merekrut tim teknis Enfabrica sekaligus melisensi teknologinya.

Dilansir dari The Information, Selasa (30/9/2025), langkah paling mencolok datang ketika Nvidia menandatangani surat minat untuk menggelontorkan hingga 100 miliar dolar AS (Rp 1.674 triliun) kepada OpenAI. Investasi raksasa itu ditujukan untuk pembangunan pusat data AI berdaya 10 gigawatt, setara dengan 4–5 juta GPU. "Ini adalah proyek raksasa," ujar Huang kepada CNBC.

Skala investasi ini membuat Nvidia seolah-olah berfungsi layaknya "pemerintah" bagi ekosistem AI. Dana yang disuntikkan ke perusahaan rintisan AI bukan hanya membantu mereka membayar tagihan GPU, tetapi juga memutar kembali arus kas ke Nvidia. Meski Huang menegaskan tidak ada persyaratan pembelian chip dalam perjanjian investasi, keuntungan terbesar tetap kembali ke Nvidia lewat lonjakan permintaan produknya.

Selain dimensi bisnis, langkah ini juga memperlihatkan kekuatan politik Nvidia. Huang baru-baru ini tampil di London bersama Perdana Menteri Inggris Keir Starmer saat mengumumkan investasi di U.K., hanya beberapa tahun setelah regulator negara itu menggagalkan rencana akuisisi Nvidia atas Arm, perusahaan desain chip asal Inggris yang arsitekturnya dipakai di hampir semua ponsel pintar di dunia. 

Sementara di Amerika Serikat, kedekatannya dengan Presiden Donald Trump menambah lapisan pengaruh, terutama dalam isu dominasi AI dan kebangkitan Intel.

Namun, strategi agresif ini tidak bebas dari kritik. Profesor Harvard Business School, David Yoffie, mengingatkan bahwa investasi besar ke OpenAI bisa menimbulkan ilusi permintaan.

"Mereka mencoba menstimulasi permintaan produk mereka, yang merupakan arah strategis sah. Tetapi jika hanya pada satu pelanggan, risikonya adalah permintaan itu tidak berkelanjutan dan bisa menghasilkan kerugian besar di masa depan," ujarnya.

Kekhawatiran lain datang dari pesaing besar seperti Amazon dan Google, yang tengah mengembangkan chip AI internal. Bahkan, OpenAI bekerja sama dengan Broadcom untuk merancang chip server AI yang dijadwalkan meluncur tahun depan. Meski chip itu hanya berfungsi untuk inferensi, bukan pelatihan model, keberhasilannya bisa mengurangi ketergantungan pada GPU Nvidia.

Meski demikian, Nvidia masih memegang keunggulan teknis yang sulit disaingi. Selama bertahun-tahun, perusahaan membangun ekosistem perangkat keras dan perangkat lunak seperti CUDA yang membuat kompetitor kesulitan mengejar. 

Namun sejarah industri menunjukkan bahwa dominasi semacam ini tidak selalu bertahan selamanya. Upaya Apple membangun chip sendiri menjadi pengingat bagi Nvidia bahwa ancaman penggantian teknologi bisa muncul secara bertahap.

"Jika Jensen tidak mengikuti filosofi Andy Grove, bahwa hanya mereka yang paranoid yang bisa bertahan, saya akan terkejut," kata Yoffie.

Selain lewat investasi, Nvidia juga memperkuat ekosistemnya dengan menjadi pelanggan langsung bagi startup cloud. Dalam kesepakatan yang dikenal sebagai Project Osprey dengan CoreWeave, Nvidia setuju menyewa kembali chip canggih yang awalnya dipasok ke perusahaan itu untuk dipakai oleh tim riset internalnya. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore