Ilustrasi: Warga Gaza dilanda kelaparan serius. (WHO).
JawaPos.com - Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk. Kementerian Kesehatan di wilayah tersebut melaporkan bahwa sedikitnya 14 warga Palestina, termasuk dua anak-anak, meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi dalam beberapa hari terakhir.
Angka ini menambah jumlah korban jiwa akibat kekurangan pangan sejak Oktober 2023 menjadi 147 orang, dengan mayoritas korban adalah anak-anak.
Tragedi ini terjadi di tengah blokade ketat Israel yang telah membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah yang terkepung itu.
Meskipun blokade penuh sempat dilonggarkan pada Mei, akses bantuan tetap terbatas dan tak mampu memenuhi kebutuhan dasar 2,3 juta penduduk Gaza yang kini menghadapi krisis pangan akut.
“Kata-kata seperti kemarahan dan kecaman tak lagi cukup. Orang-orang di Gaza hidup seperti ‘mayat berjalan’,” ungkap Philippe Lazzarini, Kepala UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina dikutip via Al-Jazeera.
Lazzarini menyerukan gencatan senjata segera dan peningkatan besar-besaran bantuan kemanusiaan. Ia menekankan bahwa bantuan skala besar hanya bisa efektif dilakukan jika konflik dihentikan dan jalur distribusi dibuka secara luas serta aman.
Trump dan Netanyahu Beda Pandangan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pernyataannya di Skotlandia mengakui bahwa kelaparan di Gaza adalah 'nyata', dan mengatakan Israel memiliki 'banyak tanggung jawab' atas kondisi tersebut.
“Ada banyak orang yang kelaparan. Kita akan mendirikan pusat distribusi makanan yang terbuka, tanpa pagar, untuk mempermudah akses,” ujar Trump. Ia juga menyebut AS akan bekerja sama dengan negara lain untuk meningkatkan bantuan pangan dan sanitasi di Gaza.
Namun, pernyataan Trump ini bertentangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang sehari sebelumnya bersikeras bahwa “tidak ada kelaparan di Gaza.”
Meskipun begitu, dalam unggahan terbarunya di media sosial, Netanyahu mengakui bahwa situasi di Gaza sulit dan berjanji untuk terus bekerja dengan komunitas internasional dalam menyalurkan bantuan.
Militer Israel sendiri baru-baru ini menyatakan akan menghentikan serangan di beberapa wilayah Gaza dan membuka koridor tambahan untuk distribusi bantuan. Langkah ini disambut hati-hati oleh PBB, meski di lapangan dinilai tak cukup signifikan.
“Apa yang disebut ‘jeda kemanusiaan’ oleh Israel, nyatanya hanya penghentian serangan beberapa jam di area tertentu – tanpa pengawasan internasional maupun koordinasi dengan lembaga kemanusiaan,” kata jurnalis Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, dari Deir el-Balah.
PBB dan organisasi kemanusiaan lain terus mendesak agar pengiriman bantuan ditingkatkan secara drastis dan distribusinya dilakukan dengan koordinasi penuh dan akses aman.

Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Sarwendah Dikabarkan Hengkang dari Rumah Cilandak, Begini Komentar Pihak Ruben Onsu
Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Taruhan 3 Hektar Kebun Sawit Rp 420 Juta demi Final Spanyol vs Argentina Viral, Vincent jadi Saksi
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Jeritan Puluhan Tenaga Kesehatan PPPK Paruh Waktu di Balai Kota DKI: Gaji Ke-13 Tak Cair
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
