Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 November 2023 | 19.17 WIB

Presiden AS Joe Biden ke Israel: Rumah Sakit Harus Dilindungi!

 
 

Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyampaikan pidato di Gedung Putih di Washington, D.C., Amerika Serikat.

 
JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden mengatakan rumah sakit yang ada di Jalur Gaza 'harus dilindungi'. Biden berharap tindakan Israel ‘tidak terlalu mengganggu’ ketika tank militer zionis itu bergerak maju ke gerbang rumah sakit utama di Gaza.
 
"Seperti yang kita ketahui, saya tidak segan mengungkapkan keprihatinan saya atas apa yang terjadi. Harapan dan ekspektasi saya yakni, tindakan yang tidak begitu mengganggu terkait rumah sakit. Kami tetap berhubungan dengan Israel," kata Biden di Kantor Oval, Gedung Putih, dilansir dari Reuters pada Selasa (14/11). 
 
"Jadi saya tetap berharap, rumah sakit harus dilindungi," lanjutnya. 
 
Diketahui sebelumnya, wilayah di sekitar rumah sakit telah menjadi target serangan udara besar-besaran Israel, termasuk serangan di dalam kompleks rumah sakit Al-Shifa sendiri, sejak pekan lalu.
 
Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza Ashraf Al-Qidra, yang berada di dalam rumah sakit Al Shifa, pada hari Senin (13/11) mengungkapkan bahwa 32 pasien telah meninggal dalam tiga hari belakangan, termasuk tiga bayi yang baru lahir, karena pengepungan rumah sakit di Gaza utara yang mengakibatkan aliran listrik terputus.
 
Selain itu, setidaknya masih terdapat 650 pasien yang berada di dalam rumah sakit Al Shifa, yang semakin merasa putus asa untuk dievakuasi ke fasilitas medis lain.
 
Sejak pekan lalu, tank-tank milik pasukan Israel sudah ambil posisi dan bersiaga di luar rumah sakit terbesar di Gaza, yakni Rumah Sakit Al-Shifa, yang diyakini Israel bahwa Hamas menyembunyikan pusat komando dan markasnya di bawah tanah rumah sakit itu.
 
Tuduhan Israel itu sebelumnya telah dibantah oleh Hamas. Ia menyatakan bahwa klaim Israel tidak benar dan meminta PBB untuk menyelidiki rumah sakit tersebut dan menyelamatkan orang-orang di dalamnya.
 
Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Jake Sullivan mengungkapkan bahwa Washington ingin melihat rumah sakit dan para pasien dilindungi.
 
"Kami telah berbicara dengan pemerintah Israel mengenai hal ini dan mereka memiliki pendapat yang sama yakni tidak ingin melihat baku tembak di rumah sakit," kata Sullivan. dikutip dari Antara pada Selasa (14/11).
 
 
"Rumah sakit harus dilindungi. Rumah sakit harus dapat berjalan efektif sehingga layanan medis dapat diberikan kepada pasien. Dan terakhir, ketika masyarakat perlu dievakuasi dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain untuk menjamin keberlangsungan perawatan, rute evakuasi harus aman," imbuhnya.
 
Jake Sullivan membeberkan bahwa Israel baru-baru ini telah memberi tahu Washington bahwa akan ada dan terus ada rute evakuasi bagi warga Palestina untuk meninggalkan rumah sakit yang telah mereka kepung.
 
Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kini rumah sakit Al-Shifa tidak dapat beroperasi lagi sebagai fasilitas kesehatan, melainkan dianggap sebagai 'rumah kematian', karena jumlah kematian pasien meningkat.
 
"Sayangnya, rumah sakit tidak lagi beroperasi sebagai rumah sakit. Dunia tidak bisa tinggal diam ketika rumah sakit, yang seharusnya menjadi tempat berlindung, berubah menjadi tempat orang menemukan kematian, kehancuran, dan keputusasaan," ungkap Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus di media sosial X, seperti yang dikutip dari Antara.
 
Dirinya menggambarkan situasi di Gaza saat ini semakin mengerikan dan sangat berbahaya, utamanya dalam tiga hari ke belakang, rumah sakit tersebut benar-benar kehabisan bahan bakar dan aliran listrik terputus, sehingga jumlah pasien yang meninggal naik secara drastis. 
 
Sementara, dalam perkembangan konfliknya, kelompok Hamas mengatakan bahwa mereka akan membebaskan sejumlah sandera yang kini ditahan di Gaza, dengan menuntut imbalan berupa gencatan senjata selama lima hari dalam pertempuran yang sedang terjadi.
 
Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, mengunggah rekaman audio di saluran Telegramnya yang mengatakan bahwa Hamas siap membebaskan sebanyak 70 sandera wanita dan anak-anak sebagai imbalan untuk gencatan senjata selama lima hari, sebuah tawaran yang kemungkinan besar akan ditolak oleh Israel. .

“Kami mengatakan kepada mediator (Qatar) bahwa dalam gencatan senjata selama lima hari, kami dapat membebaskan 50 orang dari mereka dan jumlahnya bisa mencapai 70 orang karena sulitnya para tawanan yang ditahan oleh faksi berbeda,” kata juru bicara Brigade al-Qassam Abu Ubaida, namun Israel meminta 100 orang untuk dibebaskan, dikutip dari Reuters.
 
Israel, yang diketahui secara efektif memblokade Gaza, telah menolak gencatan senjata, dengan alasan bahwa Hamas hanya akan menggunakannya untuk bersatu kembali, namun telah mengizinkan 'jeda kemanusiaan' untuk memungkinkan makanan dan bantuan lain dapat didistribusikan serta memungkinkan evakuasi warga sipil.
 
 

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore