Hubungan AS dan Tiongkok terus memburuk. Setelah saling tuding soal Covid-19, kini kasus pengintaian membuat mereka saling serang. AS mengeluarkan bukti dengan membeber mata-mata yang bekerja untuk Tiongkok.
SITI AISYAH, Jawa Pos
---
”RASANYA seperti kecanduan.” Pengakuan itu diberikan Jun Wei Yeo alias Dickson Yeo. Dia adalah warga Singapura yang menjadi mata-mata Tiongkok. Yeo sudah mengaku bersalah. Sebelum ditahan, hampir setiap hari dia mengecek website jaringan profesional untuk mencari mangsa. Orang-orang yang bisa ditipu untuk memberikan informasi soal AS ke Tiongkok.
Dalam dokumen pengakuan bersalahnya, Yeo mengaku bekerja untuk badan intelijen Tiongkok pada 2015–2019. Saat itu dia tengah mengejar gelar PhD di bidang kebijakan publik di National University of Singapore (NUS). Yeo pergi ke Beijing untuk memberikan presentasi tentang situasi politik Asia Tenggara.
Agaknya, intelijen Tiongkok tertarik. Dia direkrut oleh orang yang mengaku dari lembaga analisis berbasis di Tiongkok. Mereka menawari Yeo uang asal memberikan laporan politik. Saat itu Yeo paham bahwa setidaknya empat orang yang menemuinya adalah agen intelijen pemerintah Tiongkok. Salah seorang di antaranya meminta Yeo tanda tangan kontrak dengan People’s Liberation Army (PLA) alias militer Tiongkok.
”Yeo menolak tanda tangan kontrak, tapi dia tetap bekerja untuk mereka,” bunyi dokumen pernyataan fakta yang sudah ditandatangani Yeo seperti dikutip Channel News Asia.
Yeo ditugasi untuk menggali informasi tentang hubungan diplomatik, ekonomi, dan politik internasional yang tidak diungkap ke publik. Itu adalah informasi yang biasanya dianggap sebagai desas-desus atau kabar angin. Awalnya hanya di Asia Tenggara, kemudian fokus ke AS. Isu yang digali terkait dengan Departemen Perdagangan AS, kecerdasan buatan, serta perang dagang AS-Tiongkok.
PEMBALASAN: Seorang pekerja menurunkan lambang yang dipasang di pintu masuk Konsulat AS di Chengdu, Provinsi Sichuan, Tiongkok, kemarin (25/7). Sehari sebelumnya pemerintah Tiongkok meminta AS menutup kantor perwakilan itu. (NOEL CBLIS/AFP)
Saat berinteraksi dengan Yeo, para agen menggunakan nama samaran. Akan tetapi, mereka terbuka terkait afiliasinya dengan pemerintah Tiongkok. Salah satunya bahkan mengaku sebagai petinggi di salah satu unit utama intelijen Tiongkok. Dia bertemu dengan salah satu agen 19–20 kali dan agen lainnya sekitar 25 kali di berbagai lokasi berbeda. Saat ke Tiongkok, Yeo juga tidak pernah melewati jalur bea cukai untuk melindungi identitasnya.
Sasaran Yeo adalah militer dan pegawai pemerintahan. Awalnya, dia mencari mangsa lewat jejaring sosial. Yaitu, warga AS yang bisa memberikan informasi. Pada 2018, dia diperintah untuk membuat perusahaan konsultasi. Dia mengunggah lowongan pekerjaan untuk perusahaannya di berbagai website pencarian kerja.
Lebih dari 400 lamaran pekerjaan dikirim dan 90 persennya berasal dari anggota militer AS serta pegawai pemerintah yang kesulitan finansial. Mereka rata-rata memiliki security clearances. Itu adalah status yang membuat seseorang bisa mengakses dokumen rahasia pemerintah. Status tersebut memiliki tingkatan.
Yeo memilih orang-orang yang dianggap menarik dan mengirimkan lamaran pekerjaan ke intelijen Tiongkok. Mereka yang dirasa layak menjadi target direkrut dan diminta menyediakan informasi serta membuat laporan tentang kabar angin di pemerintahan.
Dia sempat merekrut warga sipil yang bekerja untuk pasukan angkatan udara AS di program pesawat militer F-35B pada 2015. Orang itu punya level security clearances tinggi dan sedang kesulitan keuangan. Yeo memintanya menulis informasi tentang implikasi geopolitik pembelian F-35 oleh Jepang ke AS. Laporan itu dikirim ke intelijen Tiongkok.
Pada 2018–2019, dia menemukan orang yang bekerja di Departemen Luar Negeri AS dan memiliki keahlian profesional di bidang jaringan website. Dia tidak puas dengan pekerjaannya dan punya masalah keuangan. Dia dibayar USD 1.000– USD 2.000 (Rp 14,6 juta–Rp 29,2 juta) untuk menulis laporan tentang orang-orang di kabinet AS saat itu.
Orang ketiga yang direkrut adalah militer AS yang ditugaskan di Pentagon. Dia memiliki trauma saat ditugaskan ke Afghanistan. Dia diminta menuliskan laporan tentang penarikan pasukan militer AS dan dampaknya untuk Tiongkok. Yeo tidak pernah bilang laporan itu akan diserahkan ke intelijen Tiongkok. Dia dibayar USD 2.000.
Aksi Yeo ketahuan pada November 2019. Saat itu dia balik ke AS untuk menemui anggota militer tadi dan memintanya mengungkap informasi rahasia. Dia ditangkap di bandara. Hukuman Yeo akan ditentukan 9 Oktober nanti. Dia terancam dihukum maksimal 10 tahun penjara.
Dokumen pernyataan bersalah Yeo itu dibuka beberapa hari setelah AS memerintahkan konsulat Tiongkok di Houston ditutup. Tiongkok dituding berusaha meretas lab-lab di AS yang memproduksi vaksin SAR-CoV-2 penyebab Covid-19.
Selain Yeo, beberapa waktu lalu mereka juga menahan empat akademisi Tiongkok yang berbohong saat mengisi aplikasi visa. Mereka mengaku tidak memiliki hubungan dengan PLA, tapi kenyataannya tidak demikian. ”Ini adalah contoh lain dari eksploitasi pemerintah Tiongkok atas keterbukaan masyarakat Amerika,” tegas Asisten Jaksa Agung John Demers menanggapi kasus Yeo.