
(JUNG YEON-JE/AFP Via Getty Images)
Menurut khalayak, Korea Selatan (Korsel) merupakan tanah penuh harapan bagi pembelot Korea Utara (Korut). Akar budayanya sama. Namun, kondisi hidup di Korsel jauh lebih baik. Ironisnya, hidup Han Sung-ok, pembelot Korut berusia 42 tahun, justru berakhir di tanah harapan tersebut.
JawaPos.com - Tangan Han Sung-ok tak pernah berhenti mengangkat selada di stan penjaja sayuran dekat kompleks apartemennya, daerah Gwanak-gu, Seoul, Korsel. Seakan-akan bakal diborong semua. Padahal, akhirnya dia hanya membeli satu ikat selada seharga 500 won (sekitar Rp 5.889).
Penjual sayuran menerima uang dari Han sambil cemberut. Langganannya yang satu itu selalu suka pilih-pilih, tapi tak pernah membeli banyak sayuran. Setiap usai membeli, Han tanpa basa-basi menggandeng putranya pergi begitu saja.
Beberapa pekan kemudian, Han dan anaknya yang masih berusia 6 tahun, Kim Dong-jin, dikabarkan meninggal. Rumor yang beredar, keduanya meninggal karena kelaparan. ”Saya benar-benar kaget,” ungkap penjaja sayuran tersebut kepada BBC.
Kematian Han Juli lalu membuat heboh masyarakat. Terutama komunitas bekas warga pemerintahan Kim Jong-un. Mereka merasa berdosa telah membiarkan pembelot yang datang ke Korsel 10 tahun lalu itu meninggal tanpa bantuan. Mereka juga menilai pemerintah lebih berdosa karena membiarkan mimpi Han untuk hidup tanpa penderitaan berhenti.
"Saya masih tidak mengerti. Dia susah payah menghindari paceklik pangan di Korut hanya untuk mati kelaparan di pusat Korsel," ujar Heo Kwang-il, North Korean Defectors Emergency Response, kepada CNN.
Heo benar-benar merasa marah. Di Korsel, tersedia banyak makanan. Namun, mereka melupakan orang yang benar-benar membutuhkan.
Saking marahnya, mereka mengadakan upacara persemayaman publik pada Sabtu (21/9). Para pembelot Korut itu ingin seluruh Korsel mengetahui kematian Han. Aksi tersebut juga diwarnai dengan sedikit kekerasan.
”Kembalikan Sung-ok kami,” teriak massa dalam upacara tersebut. Mereka meminta agar Presiden Moon Jae-in meminta maaf secara pribadi.
Sebenarnya, tidak ada bukti konklusif terkait penyebab kematian Han dan anaknya. Saat ditemukan petugas perusahaan air, kondisi dua jenazah tersebut sudah membusuk. Petugas forensik tidak bisa menentukan penyebab kematian mereka.
Namun, ada fakta yang membuat publik percaya bahwa Han meninggal karena kelaparan. Di apartemen kecilnya, satu-satunya makanan yang ditemukan adalah satu kantong bubuk cabai. Ditambah fakta bahwa dia menunggak tagihan sewa apartemen bersubsidi Rp 1 juta per bulan.
Pemerintah pun tidak berusaha mengelak. Awal bulan ini, Kementerian Unifikasi Korsel meminta maaf secara terbuka. Mereka berjanji menyurvei secara menyeluruh kesejahteraan eks warga Korut di seluruh negeri. ”Kami ingin kejadian ini tak terulang,” ungkap Heo.
***
Desember 2018. Kim Yong-hwa mendengar curahan hati kawan lamanya, Han. Pikiran Kim pun langsung menuju ke momen pertama mereka bertemu. Saat itu, dia bersua dengan Han di rumah perlindungan di Kota Shenyang, Tiongkok. Kim-lah yang membantu Han untuk menetap di Korsel.
Empat tahun setelah itu, Kim kembali bertemu Han. Kali ini Han sedang bersiap-siap pindah ke Tongyeong, kota pelabuhan di Korsel. Suaminya, warga Tiongkok, bersedia pindah ke Korsel untuk bekerja di galangan kapal.
Tentu Kim bahagia. Aktivis eks warga Korut itu tahu penderitaan Han. Menurut dia, Han kabur dari Korut sejak 2007. Namun, sesampai di Tiongkok dia langsung dijual untuk dinikahi. Dari lelaki itu, Han punya dua anak.
Namun, kebahagiaan Han terhenti saat perusahaan galangan kapal bangkrut pada 2015. Menurut New York Times, Han sempat balik ke Tiongkok dengan suaminya.
Kembali ke Desember 2018. Tujuan Han menelepon Kim saat itu adalah minta tolong agar bisa kembali ke Korsel. Kata Han, dia sudah bercerai dengan suaminya. Dia juga minta dibantu mengajukan bantuan untuk orang tua tunggal. Sayang, yang disetujui hanyalah tunjangan anak umum 100 ribu won (Rp 1,1 juta) per bulan. ”Saya tak bisa membantunya,” ujar Kim.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
