Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 September 2019 | 00.15 WIB

Han Sung-ok, Pembelot Korut yang Meninggal di Tanah Harapan

(JUNG YEON-JE/AFP Via Getty Images) - Image

(JUNG YEON-JE/AFP Via Getty Images)

Menurut khalayak, Korea Selatan (Korsel) merupakan tanah penuh harapan bagi pembelot Korea Utara (Korut). Akar budayanya sama. Namun, kondisi hidup di Korsel jauh lebih baik. Ironisnya, hidup Han Sung-ok, pembelot Korut berusia 42 tahun, justru berakhir di tanah harapan tersebut.

JawaPos.com - Tangan Han Sung-ok tak pernah berhenti mengangkat selada di stan penjaja sayuran dekat kompleks apartemennya, daerah Gwanak-gu, Seoul, Korsel. Seakan-akan bakal diborong semua. Padahal, akhirnya dia hanya membeli satu ikat selada seharga 500 won (sekitar Rp 5.889).

Penjual sayuran menerima uang dari Han sambil cemberut. Langganannya yang satu itu selalu suka pilih-pilih, tapi tak pernah membeli banyak sayuran. Setiap usai membeli, Han tanpa basa-basi menggandeng putranya pergi begitu saja.

Beberapa pekan kemudian, Han dan anaknya yang masih berusia 6 tahun, Kim Dong-jin, dikabarkan meninggal. Rumor yang beredar, keduanya meninggal karena kelaparan. ”Saya benar-benar kaget,” ungkap penjaja sayuran tersebut kepada BBC.

Kematian Han Juli lalu membuat heboh masyarakat. Terutama komunitas bekas warga pemerintahan Kim Jong-un. Mereka merasa berdosa telah membiarkan pembelot yang datang ke Korsel 10 tahun lalu itu meninggal tanpa bantuan. Mereka juga menilai pemerintah lebih berdosa karena membiarkan mimpi Han untuk hidup tanpa penderitaan berhenti.

"Saya masih tidak mengerti. Dia susah payah menghindari paceklik pangan di Korut hanya untuk mati kelaparan di pusat Korsel," ujar Heo Kwang-il, North Korean Defectors Emergency Response, kepada CNN.

Heo benar-benar merasa marah. Di Korsel, tersedia banyak makanan. Namun, mereka melupakan orang yang benar-benar membutuhkan.

Saking marahnya, mereka mengadakan upacara persemayaman publik pada Sabtu (21/9). Para pembelot Korut itu ingin seluruh Korsel mengetahui kematian Han. Aksi tersebut juga diwarnai dengan sedikit kekerasan.

”Kembalikan Sung-ok kami,” teriak massa dalam upacara tersebut. Mereka meminta agar Presiden Moon Jae-in meminta maaf secara pribadi.

Sebenarnya, tidak ada bukti konklusif terkait penyebab kematian Han dan anaknya. Saat ditemukan petugas perusahaan air, kondisi dua jenazah tersebut sudah membusuk. Petugas forensik tidak bisa menentukan penyebab kematian mereka.

Namun, ada fakta yang membuat publik percaya bahwa Han meninggal karena kelaparan. Di apartemen kecilnya, satu-satunya makanan yang ditemukan adalah satu kantong bubuk cabai. Ditambah fakta bahwa dia menunggak tagihan sewa apartemen bersubsidi Rp 1 juta per bulan.

Pemerintah pun tidak berusaha mengelak. Awal bulan ini, Kementerian Unifikasi Korsel meminta maaf secara terbuka. Mereka berjanji menyurvei secara menyeluruh kesejahteraan eks warga Korut di seluruh negeri. ”Kami ingin kejadian ini tak terulang,” ungkap Heo.

***

Desember 2018. Kim Yong-hwa mendengar curahan hati kawan lamanya, Han. Pikiran Kim pun langsung menuju ke momen pertama mereka bertemu. Saat itu, dia bersua dengan Han di rumah perlindungan di Kota Shenyang, Tiongkok. Kim-lah yang membantu Han untuk menetap di Korsel.

Empat tahun setelah itu, Kim kembali bertemu Han. Kali ini Han sedang bersiap-siap pindah ke Tongyeong, kota pelabuhan di Korsel. Suaminya, warga Tiongkok, bersedia pindah ke Korsel untuk bekerja di galangan kapal.

Tentu Kim bahagia. Aktivis eks warga Korut itu tahu penderitaan Han. Menurut dia, Han kabur dari Korut sejak 2007. Namun, sesampai di Tiongkok dia langsung dijual untuk dinikahi. Dari lelaki itu, Han punya dua anak.

Namun, kebahagiaan Han terhenti saat perusahaan galangan kapal bangkrut pada 2015. Menurut New York Times, Han sempat balik ke Tiongkok dengan suaminya.

Kembali ke Desember 2018. Tujuan Han menelepon Kim saat itu adalah minta tolong agar bisa kembali ke Korsel. Kata Han, dia sudah bercerai dengan suaminya. Dia juga minta dibantu mengajukan bantuan untuk orang tua tunggal. Sayang, yang disetujui hanyalah tunjangan anak umum 100 ribu won (Rp 1,1 juta) per bulan. ”Saya tak bisa membantunya,” ujar Kim.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore