
Joshua Wong setelah bebas dari penjara, Senin (17/6). (Winson Wong/SCMP)
JawaPos.com - Halaman depan Lai Chi Kok Correctional Institute, Hongkong, riuh rendah kemarin pagi (17/6). Awak media sibuk mengarahkan kamera mereka ke pintu keluar utama lapas. Mereka menyambut seorang pemuda dengan kemeja putih yang dikawal sipir.
Pemuda itu adalah Joshua Wong. Pria 22 tahun itu dibebaskan setelah menjalani separo dari vonis dua bulan penjara. Kabar tersebut tentu disambut baik oleh rakyat dan aktivis prodemokrasi Hongkong.
”Lima tahun lalu, kami sudah bilang kami akan kembali. Dan kemarin dua juta orang turun ke jalan,” ungkap Wong kepada CNN sesaat setelah melewati pintu keluar penjara.
Wong bukanlah sembarang orang. Dia merupakan salah satu tokoh politik terkenal di Hongkong. Pria dengan nama asli Wong Chi-fung itu merupakan salah satu penggerak revolusi payung 2014. Ketika itu, ratusan ribu pemuda menduduki wilayah sekitar gedung Dewan Legislatif Hongkong. Meski gagal membawa perubahan terhadap sistem pemilu, Wong menjelma menjadi ikon demokrasi Hongkong.
Medio Mei, dia legawa setelah didakwa dua bulan penjara karena menghalangi pembubaran demo oleh aparat. ”Kurungan ini merupakan harga yang harus saya bayar untuk kota yang saya cintai,” ungkapnya dalam wawancara Time Magazine.
Tentunya, hadirnya pilar demokrasi di antara pendemo bakal memberi kekuatan lebih. Membawa semangat pemuda, Wong memutuskan untuk mengorbankan waktu bersua dengan keluarga. Setelah keluar dari lapas, dia langsung mengenakan kaus hitam dan berangkat ke Distrik Admiralty.
Di sana, dia mengucapkan belasungkawa terhadap pria yang meninggal setelah jatuh dari gedung di tengah demo. ”Dia (Chief Executive Hongkong Carrie Lam, Red) tak lagi pantas menjadi pemimpin kota ini. Saya pasti ikut bertarung melawan hukum ekstradisi Tiongkok yang jahat itu,” tegas Wong menurut Agence France-Presse.
Kehadiran Wong semakin menguatkan gelombang prodemokrasi di salah satu pusat keuangan dunia itu. Dia memberikan tenggat waktu kepada Carrie Lam untuk segera bertindak. Lam harus mengundurkan diri dan mencabut RUU Ekstradisi selamanya.
Jika sebelum 1 Juli tak ada langkah yang diambil, people power benar-benar akan meletus. Ancamannya cukup beralasan mengingat 1 Juli merupakan peringatan penyerahan kewenangan Hongkong dari Inggris ke Tiongkok.
”Hongkong adalah kota internasional kecil yang punya 7 juta penduduk. Di saat 2 juta dari mereka turun ke jalan, itu artinya rakyat sudah mencapai mufakat,” tegas Sekjen Partai Politik Demosisto itu.
Sementara itu, Beijing terus memberikan sokongan terhadap kubu petahana. Jubir Kemenlu Tiongkok Lu Kang menegaskan bahwa Lam masih cakap memimpin daerah administratif khusus itu. Lu juga menyangkal bahwa aksi demo mewakili suara rakyat. Dia masih menuding politisi dan pihak asing menunggangi penduduk untuk melakukan serangan politik.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
