
Ilustrasi
JawaPos.com - Tiap kali berkirim pesan melalui aplikasi WhatsApp, tiap kali itu pula Rayouf Alhumedhi merasakan ketidakadilan. Teman-temannya bisa mengirimkan emoji yang mewakili karakter mereka, tapi tidak dengan dirinya.
Gadis 16 tahun kelahiran Arab Saudi itu berhijab. Dia ingin ada karakter emoji yang merepresentasikan dirinya dan perempuan berhijab lainnya. ”Saya menginginkan emoji yang merepresentasikan diri saya,” ujarnya saat diwawancarai CNN.
Remaja yang kini tinggal di Wina, Austria, itu tidak tinggal diam. Dia mendekam dua hari di kamar. Bukan ngambek. Melainkan membuat proposal untuk Unicode Consortium, perusahaan nonprofit yang mengatur dan menstrandardisasi gambar-gambar emoji agar tetap muncul meski perangkat yang digunakan beda-beda.
Proposal Alhumedhi akhirnya dikabulkan. Pada Hari Emoji Sedunia pada Senin (17/7), gambar perempuan berhijab sudah bisa digunakan.
Demikianlah, hampir dua dekade sejak pertama dikembangkan di Jepang, emoji melaju kencang. Dari sekadar ungkapan perasaan menjadi bahasa universal.
Ungkapan lawas, katakan dengan bunga, pun rasa-rasanya perlu dikoreksi. Katakan saja dengan emoji.
Punya kawan di Timbuktu atau Alaska? Cukup kirim gambar smiley, dengan segera dia akan tahu bahwa Anda sedang bergurau. Minimal dia tahu hati Anda sedang senang.
Yang punya pasangan atau teman dekat, cukup kirim gambar red heart, tak peduli dari kebangsaan apa pun, dijamin dia bakal klepek-klepek. Minimal dia tahu bahwa Anda punya perhatian khusus ke dia. Tak perlu bilang susah payah mengeja I love u, ich liebe dich, Je t’aime, atau ti amo untuk mengatakan ”aku cinta padamu”.
Sekitar 6 miliar emoji dipakai per hari dalam percakapan di dunia maya. Dari pengguna yang berasal dari berbagai penjuru bumi.
Emoji bahkan diklaim sebagai ”bahasa” yang persebarannya paling cepat di dunia. Pada 2015, Oxford English Dictionary, kamus yang sangat dihormati, juga menobatkan emoji face with tears of joy sebagai ”Kata Tahun Ini”.
Bahkan, kendati tak punya struktur seperti umumnya bahasa, emoji toh bisa disusun menjadi sebuah kalimat. Contohnya adalah apa yang dilakukan oleh penulis dan seniman Joe Hale.
Dia menerjemahkan buku terkenal, Alice’s Adventures in Wonderland, karya Lewis Carroll dalam bentuk emoji. Chevrolet pernah pula membuat pers rilis yang semuanya ditulis dengan emoji dan meminta orang-orang untuk mengubahnya menjadi kalimat biasa.
Tak berlebihan pula kalau kemudian menyebut emoji sebagai bahasa yang menyatukan dunia. Setiap tahun, ikon emoji baru dirilis oleh Unicode Consortium. Sampai Mei lalu, sudah ada 2.666 ikon.
Dan, dalam setiap perkembangannya, selalu ada pembaruan agar setiap orang bisa terwakili. Misalnya, menyajikan pilihan warna yang berbeda-beda untuk ikon manusia.
Bagi para pelaku usaha, emoji juga merupakan bahasa bisnis yang bisa mengeruk banyak keuntungan. BBC mulai menggunakan rangkaian emoji untuk meringkas berita mingguannya. Itu dilakukan untuk menarik pembaca yang masih muda.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
