
SISI EMOSIONAL: Nino Fernandez (berkemeja) dan para pemain Mata Dewa syuting di depan DBL Arena Rabu lalu (19/7). Film basket pertama ini menggabungkan olahraga dengan drama remaja.
JawaPos.com – Film bertema sepak bola mungkin sudah umum di tanah air. Maklum, sepak bola masih dianggap sebagai olahraga yang paling digemari di Indonesia. Sutradara Andibachtiar Yusuf berani membuat sesuatu yang berbeda. Yakni, film bertema basket. Film yang rencananya tayang pada Oktober mendatang itu diberi judul Mata Dewa.
Yusuf boleh dibilang sutradara spesialis film olahraga. Dia pernah membuat Garuda 19 (bareng produser Avesina Soebli) dan Hari Ini Pasti Menang. Keduanya bertema sepak bola. Nah, meski baru kali pertama menggarap film basket, Yusuf menuturkan bahwa pada dasarnya semua olahraga memiliki kultur yang sama.
”Sama-sama bercerita tentang bagaimana mengatasi egoisme dari diri sendiri, teamwork, dan mencapai sasaran. Tinggal bagaimana kita membalut ceritanya,” jelasnya. Film Mata Dewa, lanjut dia, dibungkus dengan cerita remaja yang ringan dan seru. Sasaran penontonnya bukan hanya kalangan abas (anak basket). ”Anak muda, SMP, SMA, atau bahkan yang dewasa bisa tetap menonton,” lanjutnya.
Cerita film tersebut diadaptasi dari kisah nyata yang pernah terjadi dalam turnamen basket sekolah Development Basketball League (DBL) Indonesia. Dewa (Kenny Austin) adalah anggota tim basket sekolahnya, SMA Wijaya Surabaya. Dia berambisi untuk membawa timnya menjuarai DBL East Java Series. Sayang, lantaran suatu insiden, Dewa kehilangan sebagian besar penglihatan pada mata kirinya.
Untuk mendapatkan nuansa yang identik dengan aslinya, seluruh pengambilan gambar dilakukan di Surabaya. Yusuf harus merekonstruksi adegan di sekolah dan DBL Arena yang menjadi lokasi sebagian besar adegan film. Dia juga memilih sejumlah pemain yang punya pengalaman sekaligus bersentuhan langsung dengan DBL agar sisi emosionalnya lebih kental.
Misalnya, Kenny Austin, si pemeran Dewa. Dulu cowok asal Medan itu nyaris memperkuat tim sekolahnya di DBL seri Sumatera Utara, tapi terkendala peraturan batas usia. Kemudian, di jajaran cast, ada juga Dodit Mulyanto, stand up comedian yang dulu merupakan guru musik di sebuah sekolah di Surabaya. Dulu dia menjadi koordinator suporter ketika murid-muridnya bertanding di DBL.
Avesina mengakui, pemilihan cast merupakan tantangan terbesar. Para pemeran utama wajib menguasai dua skill, yaitu bermain basket dan berakting. Kenny terpilih dari puluhan kandidat. Saat casting, dia diminta mempraktikkan beberapa teknik basket. Sebagian besar rekan setim Kenny juga berpengalaman bermain di DBL.
Di antaranya, Abram Nathan (DBL All Star 2015), Rivaldo Tandra Pangestio (DBL All Star 2012 dan 2013), dan Nuke Tri Saputra (shooting guard Pacific Caesar Surabaya dan DBL All Star 2012). ”Sengaja mengajak alumni DBL supaya lebih menjiwai. Bagaimanapun, ini adalah film tentang DBL dan mereka sudah mengenal banget turnamen ini,” terangnya.
Avisena menjanjikan, film itu menyentuh emosi banyak orang. Sebab, ada ratusan ribu individu yang pernah bersentuhan dengan DBL. Entah sebagai pemain, pelatih, atau suporter. Bisa jadi, seorang ibu merasa dekat dengan DBL karena anaknya pernah bermain di salah satu seri. Juga, adiknya, keponakannya, atau temannya. Mudah untuk merasa belong dengan turnamen basket yang kini digelar di 22 provinsi di Indonesia itu.
Hal tersebut diakui Brandon Salim, pemeran karakter Bumi, koordinator sekolah Dewa. Brandon mengaku banyak belajar dari pelajar SMA yang berperan menjadi suporter. ”Aku amazed waktu kali pertama tahu bahwa antusiasme basket SMA sebesar ini. Mereka ngajarin aku gimana sih caranya jadi koordinator supporter yang benar,” tuturnya.
Commissioner DBL Indonesia Azrul Ananda menyetujui pendapat itu. ”Entah sudah berapa juta orang yang terlibat dalam pertandingan DBL,” ucapnya. ”Pasti ada jutaan cerita yang sulit kita bayangkan. Film ini semoga bisa merepresentasikan jutaan cerita itu,” lanjut Azrul yang menjadi kameo di Mata Dewa dengan memerankan dirinya sendiri tersebut.
Syuting film itu tuntas pada Kamis lalu. Scene terakhir yang diambil adalah babak final East Java Series. Yusuf menyisipkan pesan moral dalam film yang juga dibintangi Nino Fernandez sebagai coach tim sekolah Dewa tersebut. ”Jadi orang jangan gampang nyerah. Lewatin batas. Jangan pernah berhenti kalau punya target. Kalau udah tercapai, bikin target baru,” imbuhnya. (*)

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Prediksi Skor Prancis vs Maroko: Bandar Taruhan Klaim Les Bleus Menang 90 Menit, Opta Beri Peluang Pasti 60,9 Persen
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
