
Anggoa Komisioner KPAI, Retno Listyarti bersama Si Penlus Buku (kanan), Intan Noviana
JawaPos.com - Intan Noviana masih tak menyangka jika buku tentang metode belajar membaca temuannya, justru bakal mendapat sorotan dari masyarakat.
Bukan lantaran efektivitas metodenya, melainkan karena konten berbau LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, dan Transgender).
Ya, dalam buku berjudul 'Balita Langsung Lancar Membaca' itu, ada dua kalimat kurang lazim. Misalnya 'Opa Suka Waria' dan 'Widia Bisa Menikahi Vivi'.
Belakangan, terungkap jika maksud dari kalimat tersebut sejatinya bukan mengarah pada LGBT. Tetapi hanya singkatan untuk memudahkan anak.
"Widia dibenak saya Widyatmoko. Tetapi karena belum sampai ke Moko jadi disingkat. Sama sekali tidak berpikir pernikahan sejenis," ujar Intan di Kantor KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), Rabu (3/1).
Pun soal kalimat 'Opa Suka Waria'. Dia berdalih penggunaan katanya hanya sebatas agar anak mudah mengingat.
"Waria, Wanita, Walidi adalah contoh, agar anak bisa review atau mengingat kata wa nya itu," lanjutnya.
"Jadi bukan semata-mata bertujuan memperkenalkan arti dari kata waria," lanjut dia.
Sekalipun demikian, Intan sadar bahwa pencantuman kalimat di atas cukup sensitif. Terlebih buku tersebut diperuntukan bagi anak usia dini.
"Ini jadi pembelajaran buat saya. Saya tegaskan bahwa tujuan dari penulisan buku 'Balita Langsung Lancar Membaca' hanya untuk mempermudah anak dalam belajar membaca," dalih Intan.
Dia mengaku menemukan metode itu ketika menjadi honorer di Pemkab Wonogori.
"Cuma begitu saya diangkat jadi PNS, saya beberapa waktu kemudian mengundurkan diri. Saya ingin fokus memperkenalkan metode baca ini ke masyarakat," beber dia.
Dirinya menegaskan sama sekali tidak mendukung LGBT. Hal itu dibuktikannya dengan dengan membuat alat peraga edukatif untuk usia dini. Alat ini ditujukan khusus untuk laki-laki dan perempuan.
"Maksudnya adalah di usia dini mereka tahu mereka itu laki-laki dan perempuan. Di sini kartunya berbeda warna, termasuk kegiatannya," jelasnya.
Bagaimanapun juga, nasi telah menjadi bubur. Dirinya dicap bersalah karena kelalaiannya dalam menulis. Karena banyaknya buku yang ditulis, ia pun beralasan terciptanya kata itu karena ingin menghindari kata yang sama dalam satu kalimat.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
