Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Mei 2017 | 09.40 WIB

46 Persen Saluran Rusak, Rehabilitasi Irigasi Genjot Produksi Pertanian

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) memerbaiki sarana perairan guna meningkatkan produksi pertanian. Sebanyak 46 persen saluran irigasi atau sekitar 2,2 juta hektar mengalami kerusakan dari tingkat ringan, sedang sekitar dan rusak berat.

Problematika mendasar pertanian padi sawah adalah ketersediaan air, meski Indonesia berada di daerah tropis dengan curah hujan tinggi. Akibatnya, tanaman padi sawah tidak cukup air, sehingga hanya mampu mencapai panen 1 kali setahun dengan Indeks Pertanaman 1,00.

"Indonesia memiliki 4,8 juta hektar sawah dengan irigasi teknis, namun banyak saluran irigasi yang rusak," ujar Dirjen PSP Kementan, Pending Dadih dalam keterangan tertulis, Selasa (23/5).

Untuk menjaga produktivitas padi, pemerintah telah menggelontorkan anggaran untuk program rehabilitasi jaringan tersier untuk meningkatkan Intensitas Pertanaman menjadi 2,00 atau panen dua kali setahun. Dengan peningkatan Indeks Pertanaman, maka peningkatan produksi padi per tahun bisa meningkat sampai 50 persen.

"Tanpa air, pertanian tidak akan berjalan baik dan tidak akan memberi hasil optimal. Air mutlak bagi petani padi. Air menjadi kebutuhan mutlak bila ingin meningkatkan produksi padi dan mencapai swasembada beras," ujar Pending.

Pending menambahkan rehabilitasi jaringan irigasi sangat bermanfaat bagi para petani. Pada masa jeda, petani bisa menanam tanaman lain seperti palawija atau tanaman hortikultura lain, memanfaatkan lahan kosong dan ketersediaan air irigasi.

"Jaringan irigasi juga menambah luas layanan sawah yang terairi. Dengan volume yang sama, air yang dialirkan dapat mengairi sawah lebih luas karena air tersebut terdistribusi secara efisien," tambah Pending.

Menurut PP Nomor 23 tahun 1992 tentang irigasi, jaringan irigasi terdiri dari 3 tingkatan dimulai dari irigasi primer, sekunder, dan tersier. Irigasi primer dan sekunder dilakukan Kementerian PUPR, sedangkan irigasi tersier penangangan sampai pemeliharaannya dilakukan petani.

"Kementerian Pertanian membantu meningkatkan pemberdayaan petani pemakai air dalam pengelolaan jaringan irigasi tersier melalui kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier. Jaringan Irigasi Tersier inilah yang masuk ke wilayah persawahan dan langsung berhubungan dengan para petani," kata Pending.

Tanpa adanya jaringan irigasi tersier, maka aliran air dari sumber air tidak akan bisa sampai ke lahan sawah dan tidak bisa dimanfaatkan oleh petani. Kriteria lokasi penerima bantuan rehabilitasi adalah jaringan irigasi tersier yang terkoneksi dengan jaringan primer dan sekunder yang berfungsi baik.

Kriteria lainnya adalah, minimal luas yang dilayani oleh jaringan tersebut adalah 25 hektar yang dikelola oleh Kelompok Tani dan atau Perkumpulan Petani Pengelola Air. Perbaikan tersebut mampu meningkatkan Indeks Pertanaman sekurang-kurangnya 0,5.

"Petani sangat berharap terhadap saluran irigasi tersier yang berfungsi baik. Harapannya adalah kebutuhan air selama 2 musim tanam bisa dipenuhi sehingga bisa panen dua kali setahun," tandasnya. (cr1/JPG)

Editor: Muhammad Syadri
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore