
Pelukis remaja Emilio Cornain berfoto bersama karyanya yang bertemakan abstrak di kediamaanya, Jakarta. Emilio merupakan pelukis abstrak yang memiliki keterbatasan.
GURATAN tegas penuh emosi. Itulah kekuatan lukisan-lukisan Emilio Cornain, pemuda kelahiran 7 Agustus 1998 yang didiagnosis menyandang autisme sejak usia 18 bulan. Predikat anak berkebutuhan khusus (ABK) memang membatasi geraknya, tapi tak kuasa menghalangi gairah dan bakat seninya yang menggelora.
Tak mengherankan, di usia 10 tahun, dia sudah menggapai pameran tunggalnya.
Saat ditemui Jawa Pos di kediaman orang tuanya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat lalu (19/5), Emil tidak sedang beraktivitas. Seharian dia hanya mager alias malas bergerak. Berdiam diri di kamar tidurnya yang terletak di lantai 3. Rupanya, hari itu mood-nya sedang kurang baik. Emil tidak berangkat ke sekolah, tidak juga melukis. Hanya berbaring seharian di tempat tidur.
Ketika Jawa Pos masuk ke kamarnya bersama kakak sulungnya, Emilita Kristanti Cornain, dia tampak terkejut. "Siapa?" tanya dia. Kami pun memperkenalkan diri. Dengan tetap berbaring, dia kembali mengalihkan perhatiannya dari kami. Guru lukisnya, Timotius Suwarsito, mencoba mengajak dia melukis atau sekadar duduk di tempat tidurnya. Namun, dia tidak beranjak.
Bakat seni Emil sudah tercium ketika masih bersekolah di Australian International School (AIS). Keluarga Emil memilih menyekolahkan dia di sekolah tersebut karena kala itu sangat sulit mencari sekolah yang mau menerima ABK. Salah satu pelajaran yang didapat Emil di sekolah tersebut adalah menggambar.
Ketika Emil berusia sekitar 7 tahun, tidak lama setelah masuk sekolah, sang mama Endang Desrica Cornain mendapatkan pemberitahuan dari sekolah. Emil memenangi kejuaraan melukis untuk ABK. "Karya Emil diikutkan tanpa sepengetahuan kami," tutur Santi, panggilan Emilita Kristanti.
Dari situlah akhirnya keluarga mulai mengarahkan Emil untuk mengasah bakat melukisnya. Mereka akhirnya bertemu dengan Toto, panggilan Timotius. Awalnya Toto ragu mampukah mengajari Emil melukis. Namun, keluarga Emil meminta dia mencoba satu bulan. "Saya sudah hampir menyerah waktu itu," kenang Toto yang mendampingi Santi.
Pada akhir masa percobaan satu bulan tersebut, barulah Toto menyadari bahwa bakat Emil ada pada lukisan beraliran abstrak. Dari beberapa jenis aliran abstrak, Emil menganut aliran abstrak ekspresionis atau abstrak murni. "Emil melukis dengan mengikutsertakan emosinya saat itu," lanjutnya.
Beberapa waktu setelahnya, ada salah seorang kerabat jauh Emil yang datang dan melihat hasil karyanya. Dia memuji lukisan tersebut dan mengira keluarga Emil membelinya di Eropa. Setelah tahu itu adalah karya Emil, dia menyarankan agar Emil -yang waktu itu belum genap 10 tahun- dibuatkan pameran tunggal.
Pameran tersebut akhirnya terwujud pada 2008 di Four Seasons, hotel bintang lima di Jakarta. Ada sekitar 60 lukisan Emil yang dipamerkan. Sang ayah Kiagus Emil Fahmy Cornain mengundang semua relasinya untuk menyaksikan pameran. Tak disangka, karya Emil yang kala itu baru genap 10 tahun mendapat apresiasi tinggi.
Hampir 40 lukisan Emil terjual. Kala itu total hasil penjualan seluruh lukisannya sekitar Rp 300 juta. "Kami surprised, anak usia 10 tahun sudah bisa menghasilkan uang begitu besar," lanjut Santi. Keluarga pun baru mengetahui nilai lukisan tersebut melalui pembeli. Sang ayah menanyai beberapa pembeli mengapa tertarik dengan lukisan putranya. Setelah dijelaskan, baru dia memahami bahwa lukisan Emil memang berharga.
Setelah pameran tunggal itu, secara rutin Emil mengikuti pameran setiap tahun. Toto menjelaskan, setiap tahun dirinya mengadakan pameran untuk murid-muridnya di Yayasan Bina Abyakta. Emil meneruskan sekolah di yayasan itu setelah lulus dari AIS. Sejak 2008 sampai saat ini sudah sepuluh pameran yang dia ikuti.
Lukisan-lukisan Emil diincar para kolektor. Biasanya para kolektor menunggu masa pameran atau terkadang mendatangi kediaman Emil untuk menawar lukisannya. Tapi, tidak semuanya dilepas keluarga.
Misalnya lukisan kesayangan Endang yang dipajang di ruang tamu. Lukisan tersebut didominasi warna putih dengan sedikit sentuhan warna emas. Kemudian, ada gumpalan-gumpalan tisu yang sengaja ditempelkan dan menyatu dalam lukisan itu. "Sampai kiamat pun tidak akan kami lepas," ucap Santi, lantas tertawa.
Penggemar lagu Viva La Vida milik band Coldplay tersebut rata-rata melukis sekali dalam sepekan dan sangat bergantung pada mood-nya. Keluarga tahu persis, ketika mood Emil sedang tidak baik, lukisannya akan terpengaruh. "Hasilnya pasti nggak bagus, nggak enak aja dilihat," ungkap ibu satu anak itu. Sebab, setiap lukisan merupakan pelampiasan emosi yang dirasakan Emil.
Toto menimpali, kekuatan lukisan Emil terletak pada guratannya yang tegas. Tidak hanya menggunakan kuas, kadang dia juga memakai tangannya. Emil juga menandatangani setiap lukisannya berupa guratan namanya secara samar. Selain itu, mayoritas lukisan Emil selalu memiliki unsur warna emas, baik secara dominan maupun minimal.
Toto juga membimbing bungsu empat bersaudara itu untuk menambahkan media lain dalam lukisannya. Selain tisu, kadang Emil menempelkan kertas atau plastik ke dalam karyanya sehingga tampak timbul. Lokasi melukis Emil juga berpindah-pindah sesuka dia. Beberapa waktu terakhir, dia suka melukis di serambi lantai paling atas rumahnya.
Sebagai pelukis Emil cukup produktif. Dalam setahun dia bisa membuat 30-40 lukisan. Santi menjelaskan, tidak ada satu pun lukisan Emil yang dibuang. Sebagian besar disimpan di gudang dengan rapi. "Paling mama memberi tanggal pada lukisan yang dia buat," ucap perempuan 31 tahun tersebut.
Selain itu, rumah keluarga Emil didesain dengan konsep mirip galeri seni. Rumah tersebut baru berdiri sekitar dua tahun dan bergaya Eropa dengan empat lantai. Di seluruh lantai terpajang lukisan Emil. Menyusuri sudut-sudut rumah itu memang serasa berkunjung ke galeri lukisan. Lukisan ditempatkan di dinding yang strategis dengan pencahayaan yang pas.
Santi mengatakan, keluarga sangat bersyukur memiliki Emil. Meski awalnya sempat shock saat Emil didiagnosis terkena autisme, sang mama tidak menyerah. Dia tidak ragu mencoba semua hal untuk mencari mana yang paling cocok dan disukai Emil. Termasuk mencoba memberi dia peralatan musik. Rupanya, passion dan bakat tersembunyi Emil ada pada seni lukis.
Kini pihak keluarga sedang memikirkan bagaimana agar Emil bisa mandiri di masa depan. "Terutama mempersiapkan agar dia tetap bisa melanjutkan hidupnya bila kami semua sudah tidak ada," tuturnya. Salah satunya, sempat terpikir Emil akan dibuatkan bisnis merchandise yang sesuai dengan kesukaan dia melukis. (byu/c9/owi)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
9 Soto Legendaris di Bandung, Kuliner Murah Isian Melimpah tapi Rasa Juara
