Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Maret 2024 | 21.54 WIB

Puasa dan Pantang Menjadi Tradisi Umat Kristiani dalam Merayakan Jumat Agung

Ilustrasi Yesus disalib. - Image

Ilustrasi Yesus disalib.

JawaPos.com - Umat Kristiani merayakan Jumat Agung yang jatuh pada hari Jumat sebelum Paskah. Tahun ini Jumat Agung dirayakan pada 29 Maret 2024. Sebuah peristiwa yang penting bagi umat Kristiani yang secara tahunan mengenang Penyaliban Yesus Kristus, Kematian Yesus di kayu salib dan Pemakaman Yesus.

Hari ini dianggap sebagai salah satu momen paling penting dalam kalender liturgis umat Kristen, diberi predikat 'Agung' karena dianggap sebagai puncak pelayanan Yesus di dunia.

Dikutip dari imankatolik.or.id, meskipun dalam kalender Yahudi untuk merayakan puncak pelayanan Yesus jatuh pada hari Kamis, umat Kristen merayakannya pada hari Jumat karena tradisi Sabat umat Kristen jatuh pada hari Minggu.

Hari kematian Yesus ini dihitung tiga hari sebelum Sabat, sesuai dengan periode di mana Yesus dikuburkan. Dalam Alkitab, kisah penyaliban Yesus disampaikan dalam keempat Injil. Ini meliputi Perjamuan Terakhir, pengkhianatan Yudas Iskariot, doa Yesus di taman Getsemani, penangkapan Yesus, penyangkalan Petrus terhadap Yesus tiga kali, pengadilan Yesus oleh Mahkamah Agama, dan konfrontasi Yesus dengan Pontius Pilatus dan kemudian Herodes.

Cerita ini kemudian melanjutkan dengan kebangkitan Yesus, penampakan Yesus kepada murid-muridnya dan orang banyak, serta kenaikan Yesus ke surga.

Sejak zaman awal Kekristenan, Jumat Agung dihargai sebagai waktu refleksi yang sarat dengan kesedihan, pemulihan dari dosa, dan praktik puasa. Ini tercermin dalam istilah Jerman "Karfreitag".

Liturgis dalam Perayaan Jumat Agung

Dikutip dari ctsbooks.org, Jumat (29/3), fokus utama perayaan Jumat Agung adalah liturgi yang mengenang penderitaan dan kematian Kristus, biasanya diselenggarakan pada sore hari sekitar pukul 15.00 - saat yang diyakini sebagai waktu terjadinya sengsara Kristus.

Liturgi dimulai dengan imam dan diakon bersujud sepenuhnya, dalam kesunyian, di tempat yang kudus, sementara seluruh jemaat juga berlutut. Ini menunjukkan sikap tunduk dan rendah hati kepada Allah, yang menanggung dosa kita dan mati bagi kita dalam penderitaan.

Sebuah salib dibawa ke depan dengan khidmat untuk penghormatan, sering kali dengan menciumnya, sebagai pengingat yang kuat tentang makna Salib bagi umat Kristen.

Kisah sengsara Kristus kemudian dibacakan dari kitab suci, dan akhirnya Komuni Kudus dibagikan. Misa tidak diadakan pada hari Jumat Agung, dan setelah Misa Perjamuan Terakhir, gereja didiami dalam kesunyian.

Liturgi Jumat Agung dicirikan oleh suasana kekhidmatan yang tidak biasa di hari-hari lain dalam tahun liturgi. Setelah Komuni Kudus dan pemberkatan terakhir, semua orang meninggalkan gereja dalam keheningan.

Tidak ada himne penutup, dan organ tidak dimainkan saat meninggalkan gereja. Selama liturgi, tidak ada bunyi lonceng, hanya suara genta kayu yang merdu. Tidak ada bunga di altar, dan Tabernakel kosong karena Sakramen Mahakudus dipindahkan ke altar samping.

Semua aspek dari perayaan Jumat Agung bertujuan untuk menekankan bahwa hari itu adalah waktu di mana Yesus Kristus wafat di Golgota setelah menderita selama beberapa jam.

Puasa dan Pantang dalam Perayaan Jumat Agung

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore