Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 November 2015 | 00.56 WIB

Uji Kompetensi Guru, Gagal Login, Hasilnya di Bawah Standar

Uji Kompetensi Guru, Gagal Login, Hasilnya di Bawah Standar - Image

Uji Kompetensi Guru, Gagal Login, Hasilnya di Bawah Standar

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar uji kompetensi guru (UKG) bagi seluruh guru di Indonesia untuk kali pertama pada Senin (9/11) hingga Rabu mendatang (18/11).



Di Surabaya, Jawa Timur, ada 20.729 guru jenjang TK, SD, SMP, SMA/SMK, SLB, dan pengawas yang ikut UKG di 47 tempat uji kompetensi (TUK).



Beberapa persoalan muncul di lapangan pada hari pertama UKG, Senin (9/11). Mulai dari kesiapan guru hingga masalah teknis. Salah satunya terlihat di SMKN 1 Surabaya.



Pada gelombang awal UKG, pukul 08.00 hingga 10.30, para guru yang mengikuti UKG bingung karena nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK) yang digunakan untuk login tidak bisa masuk ke data soal UKG.



Kalaupun berhasil, kendala kembali muncul ketika validasi nomor yang tertera di laman UKG. Akibat kegagalan login yang pertama itu, beberapa guru bingung.



Kegagalan login hanya terjadi pada gelombang pertama. Gelombong kedua pukul 11.00 hingga 13.30 dan gelombang ketiga pukul 14.00 hingga 16.30 tidak bermasalah.



”Pasti itu memengaruhi psikologi kami,” kata guru TK Babussalam, Sri Widyati, di sela-sela mengerjakan UKG di SMKN 1 Surabaya.



Persoalan lain yang muncul pada gelombang pertama adalah banyaknya peserta yang terlambat dengan alasan jalan macet. Guru TK Juni Activitis Centre, Linda Sukamta, mengungkapkan tidak mengalami masalah teknis saat log in maupun lainnya.



Dia justru merasa belum siap menghadapi UKG karena belum berlatih di rumah. ”Bahasanya sulit dipahami. Jadi, untuk mengerjakan satu soal, butuh dua hingga tiga kali membaca,” ujarnya.



Setelah mengerjakan soal, guru-guru juga bingung dengan adanya soal survei di laman UKG. Bahkan, ada guru yang mau pulang terlebih dahulu karena tidak mengetahui bahwa soal survei di laman UKG itu dikerjakan juga.



Setelah ujian berlangsung, sebenarnya para guru sudah bisa melihat hasilnya. Ternyata, hampir semuanya meraih nilai kurang dari 5,5. Padahal, standar minimal UKG harus di atas 5,5. Kondisi yang sama terjadi pada UKG di SMAN 16 Surabaya.



Meski tidak mengalami kendala teknis, beberapa guru menyatakan asal-asalan mengerjakan soal UKG. ”Yang penting mengisi,” tandas Utami Wahyuni setelah mengerjakan UKG pada gelombang kedua.



Sementara itu, Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya Yusuf Masruch mengklaim bawah UKG pada hari pertama lancar tanpa kendala.



”Sebanyak 47 TUK yang sudah dipersiapkan memiliki fasilitas labotarium bagus dan prima,” kata pria yang disapa Ucup itu.



Sebanyak 47 sekolah yang dijadikan TUK itu memiliki kuota yang berbeda, mulai 20 kursi, 40 kursi, hingga 80 kursi. Sebanyak 47 sekolah tersebut adalah SMAN 1 hingga SMAN 22 Surabaya, SMKN 1 hingga SMKN 10, SMKN 12 Surabaya, SMP 1, SMPN 3, SMPN 4, SMPN 5, SMPN 6, SMPN 11, SMPN 12, SMPN 17, SMPN 19, SMPN 22, SMPN 28, SMPN 32, dan SMPN 39.

Editor: Arwan
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore