Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 September 2015 | 05.00 WIB

Manuskrip Sepi, Terpilih sebagai 5 Buku Puisi Indonesia Terbaik

Buku puisi Manuskrip Sepi, karya Nissa Rengganis yang menang sayembara Hari Puisi Indonesia 2015 di Taman Ismali Marzuki, Jakarta, Selasa (8/9) malam.. - Image

Buku puisi Manuskrip Sepi, karya Nissa Rengganis yang menang sayembara Hari Puisi Indonesia 2015 di Taman Ismali Marzuki, Jakarta, Selasa (8/9) malam..

JawaPos.com - Nissa Rengganis, penyair asal komunitas Rumah Kertas Cirebon menjadi salah satu peraih Anugerah Hari Puisi Indonesia 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (8/9) malam. Karya Nissa terpilih dari penjurian Sutardji Calzoum Bachri, Maman Mahayana dan Abdul Hadi W.M yang diumumkan secara terbuka.  





Seperti yang juga dilansir Indopos (Jawa Pos Group), acara penghargaan merupakan rangkaian Hari Puisi 2015 yang digelar selama sepekan sejak Sabtu (05/9) dan berakhir Selasa (8/9) malam. Seperti tahun lalu, ada lima penyair peraih anugerah buku puisi yang masing-masing mendapat hadiah sebesar Rp 10 juta.





Dewan juri memilih Manuskrip Sepi karya Nissa Rengganis (Cirebon), Perahu Badik karya Aspar Paturusi (Makassar), Tasbih Merapi karya Hamdy Salad (Jogjakarta), Susi karya Gus TF (Sumbar) dan Tersebab Daku Melayu karya Taufik (Riau).



Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini ada dua buku puisi yang mendapatkan anugerah utama berhadiah Rp 50 juta. Dua buku itu, Arus Pagi karya Soni Farid Maulana (Bandung) dan 99 Sajak karya Yudhistira Massardi (Jakarta).



Nissa mengaku kaget karyanya terpilih sebagai lima buku puisi terbaik. Mengingat yang terlibat dalam sayembara antologi puisi sangat ketat. Sedikitnya terdapat 128 buku puisi yang disayembarakan.



"Karena banyak penulis senior (ikut sayembara, red), sementara saya yang paling muda. Terlebih penghargaan ini bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang ke-27. Tentu saya anggap ini sebagai kado terindah," ujarnya.



Terkait masa depan kesusatraan Indonesia, terutama puisi, Nissa berpendapat, harus tetap hidup dan dihidupkan. Bukan hanya oleh penyairnya, tapi oleh khalayak masyarakat.



"Menghidupkan dengan cara menjaga intensitas ruang dan panggung sastra. Puisi harus menjadi daya ingat bagi masyarakat kita yang tengah amnesia," kata perempuan kelahiran 1988 ini. (hsn/tir/JPG)





 



    







  

Editor: Husain
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore