Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 Juli 2023 | 00.28 WIB

Kecantikan Tabebuya Penghias Jalanan Kota Surabaya, Ditanam di Bawah Sinar Matahari

SAAT USIA SETAHUN: Yudi memangkas daun tabebuya saat akan pindah media. Kemudian tanaman dibiarkan dalam posisi tidur hingga tumbuh daun baru. - Image

SAAT USIA SETAHUN: Yudi memangkas daun tabebuya saat akan pindah media. Kemudian tanaman dibiarkan dalam posisi tidur hingga tumbuh daun baru.

Tabebuya saat ini semakin populer di Indonesia. Tanaman asal Brasil itu juga banyak menghiasi jalanan Kota Surabaya. Ketika bunga bermekaran, masyarakat kerap menyebutnya sebagai ’’sakura’’ versi Indonesia.

SEBAGIAN besar orang sering kali menyamakan tabebuya dengan sakura. Sebab, bunga dari dua tanaman tersebut nyaris serupa. Namun, sejatinya keduanya adalah tanaman yang berbeda. Bahkan tidak berkerabat.

Di Surabaya, tabebuya menjadi salah satu tanaman yang banyak dijumpai di sepanjang kota. Mulai jalan protokol Kota Pahlawan hingga taman-taman. Keindahan bunga tabebuya dapat dinikmati setiap Oktober-November. ’’Puncak tanaman tabebuya berbunga pada Oktober-November,’’ kata Yudi, koordinator Kebun Bibit Wonorejo, saat dijumpai Jawa Pos pada Kamis (6/7) lalu.

Hingga saat ini, lebih dari puluhan ribu pohon tabebuya ditanam menyebar di Kota Surabaya. Bahkan, Pemkot Surabaya membudidayakan pohon tabebuya di Kebun Bibit Wonorejo. Dari hasil pembibitan tersebut, pohon tabebuya siap ditanam di setiap sudut Kota Surabaya. ’’Sudah lebih dari 15 tahun, Kebun Bibit Wonorejo membudidayakan tabebuya. Semua pohon tabebuya yang ditanam di Surabaya diambil langsung dari Kebun Bibit Wonorejo,’’ ujarnya.

SAAT USIA SETAHUN: Yudi memangkas daun tabebuya saat akan pindah media. Kemudian tanaman dibiarkan dalam posisi tidur hingga tumbuh daun baru.

Pohon tabebuya memiliki kekuatan pada daun yang tidak mudah rontok. Saat bunga bermekaran, keindahannya pun terlihat seperti bunga sakura. Kota Surabaya pun terlihat eksotis. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang menikmati momen bunga tabebuya bermekaran dengan berfoto. ’’Pohon tabebuya ini sangat indah. Budi dayanya sangat mudah dan sangat cocok ditanam di daerah tropis,’’ jelasnya.

Yudi menyatakan, pembibitan tabebuya hanya membutuhkan biji dari bunga tanaman tersebut. ’’Kadang kami dapat biji dari bunga-bunga tabebuya yang rontok atau metik sendiri,’’ ujarnya.

Kemudian, biji bunga tabebuya disebarkan ke bidang tanah yang sudah digemburkan dengan pupuk dan sekam. Jadi, biji bunga tidak perlu dikeringkan terlebih dahulu. Sebab, biji bunga tabebuya terlalu tipis sehingga bisa langsung disemai. ’’Proses penyemaian kurang lebih satu bulan. Biji yang disemai akan tumbuh menjadi bibit,’’ kata dia.

Setelah itu, lanjut dia, baru dipindah ke polybag. Sebagaimana proses penyemaian, tanah di polybag harus diberi pupuk dan sekam. Tujuannya, agar tanah gembur sehingga akar tanaman bisa cepat tumbuh. ’’Kalau tanahnya keras, akar tidak bisa leluasa tumbuh,’’ jelasnya.

TUMBUH BAGUS: Yudi mengecek posisi tabebuya yang sudah ditanam dalam posisi berdiri. Selain suka sinar matahari, tabebuya harus sering disiram.

Yudi menambahkan, penanaman di polybag membutuhkan waktu 2 bulan untuk tumbuh setinggi 30–40 sentimeter. Setelah itu, tanaman baru bisa dipindah ke lahan yang lebih luas dan panas. ’’Tabebuya adalah tanaman yang bisa tumbuh dengan baik ketika langsung terkena sinar matahari,’’ imbuhnya.

Setelah dipindahkan ke lahan yang lebih luas dan panas, bibit tabebuya dirawat seperti biasa dengan menyiraminya sehari sekali agar tetap terhidrasi. Setelah kurang lebih satu tahun, tanaman tabebuya dicabut dan diganti dengan media karung plastik glangsing. ’’Saat pemindahan ke media glangsing, semua daun tabebuya dipangkas. Kemudian, pohon tabebuya tersebut dibiarkan dalam posisi tidur dan dibiarkan hingga tumbuh daun yang baru,’’ ujarnya.

Yudi menyatakan, pohon yang sudah tumbuh daun baru dipindah posisi berdiri. Setelah itu, pohon tabebuya siap ditanam di seluruh penjuru Surabaya. Sekali penyemaian setidaknya menghasilkan 5–10 ribu bibit. Di Surabaya, ada tanaman tabebuya pink, putih, dan kuning. ’’Kami tidak hanya menanam tabebuya, tetapi ke depan juga mengembangkan tanaman Jacaranda, tanaman yang berbunga ungu,’’ kata dia. (ayu/c12/ai)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore