
Seto Mulyadi
JawaPos.com - Ada mispersepsi soal homeschooling dalam masyarakat. Yakni, homeschooling bikin anak tak bisa bersosialisasi alias individualistis. Menurut pemerhati anak yang juga praktisi homeschooling Seto Mulyadi, anggapan tersebut salah besar.
Dia mengakui homeschooling kerap hanya diartikan sebagai sekolah di rumah saja. Padahal, maknanya lebih dari itu. ”Makna dari homeschooling adalah sekolah yang homey. Yang seperti keluarga, seperti di rumah yang penuh perhatian dan kasih sayang,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos pada Jumat (9/6).
Bahkan, penelitian di Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa para homeschooler punya kecerdasan sosial yang lebih tinggi jika dibandingkan siswa sekolah formal. Sebab, dengan waktu yang lebih fleksibel, para siswa jadi punya waktu lebih untuk mengeksplor hobi, minat, dan bakatnya. Yang mana, mereka juga bertemu dengan berbagai macam orang dalam kegiatannya tersebut. Sehingga, kemampuan bersosialisasinya tetap terasah.
Ya, homeschooling memang cenderung lebih fleksibel waktunya. Di lembaga yang Seto asuh, dalam satu minggu mungkin hanya 2–3 kali pertemuan. Itu pun, jam pelajarannya tak seharian. Hanya 3–4 jam. Kendati begitu, psikolog asal Universitas Indonesia itu memastikan capaian belajar anak sudah terpenuhi sesuai kurikulum nasional.
”Siswa kami seperti Nikita Willy, Prilly Latuconsina, Al-El-Dul, dan yang lainnya itu sosialisasinya gak masalah kan,” ungkapnya.
Sebetulnya, bagi Seto, yang paling penting dari ini semua adalah tidak membanding-bandingkan. Bahkan, memaksakan sebuah pendapat kepada orang lain. Ketika anak sudah cocok dan nyaman di sekolah formal, tak perlu dipaksa untuk pindah homeschooling. Toh, banyak anak yang juga berprestasi ketika menimba ilmu di satuan pendidikan formal.
Sebaliknya, mereka yang memutuskan untuk mengambil homeschooling pun diharapkan tak dilabeli negatif. ”Jangan lantas dibilang malas, bodoh, berkebutuhan khusus, dan sebagainya,” tegasnya.
Yang harus jadi poin krusial adalah menyediakan lingkungan belajar yang tepat untuk anak. Sehingga, anak bisa nyaman untuk menuntut ilmu. Tidak sekadar belajar iptek, tapi juga pendidikan karakter dan lainnya. (mia/c17/hep)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
