Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 November 2021 | 03.36 WIB

Episcia, Tanaman Hias Jadul yang Kembali Dilirik

PERAWATAN TANAMAN: Episcia tak perlu disiram terlalu sering karena akan cepat busuk. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS) - Image

PERAWATAN TANAMAN: Episcia tak perlu disiram terlalu sering karena akan cepat busuk. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)

Episcia, tanaman hias dengan penampilan khas. Yakni, daun berwarna-warni dan bunga yang berwarna cerah. Ukurannya pun mungil. Tanaman hias jadul tersebut kini banyak yang suka karena keindahan daunnya.

---

DI tanah air, episcia telah lama jadi langganan penghias rumah. Meski sempat tergusur keluarga aroid seperti filodendron serta aglaonema, tanaman tersebut tetap punya penggemar setia. Salah satunya, Gien Karyadi. Di lantai 2 rumahnya, episcia dalam berbagai corak dan warna ada. Dari yang telah membentuk rumpun rimbun sampai yang masih ”bayi” dengan dua daun.

Gien bercerita, dirinya rajin mengoleksi episcia sejak Juni lalu. Dari yang lokal hingga impor. ”Yang lokal, daunnya cenderung tipis. Sementara yang impor, bulu-bulu daunnya kelihatan tebal,” paparnya.

Karena berasal dari negara tropis, episcia pun bisa beradaptasi baik di tanah air. Baik di dataran tinggi yang sejuk maupun di dataran rendah dengan suhu tinggi seperti Surabaya. ”Yang penting, tetap mendapat teduhan,” lanjutnya.

Pemilik lapak daring Kebunku Semi itu menjelaskan, karakter tiap varian episcia berbeda-beda. Gien mengaku, butuh beberapa kali percobaan untuk mengetahui ”selera” tanaman. ”Ada yang suka sangat teduh. Tapi, ada juga yang bagus kalau dapat sinar matahari cukup banyak,” ungkapnya.

Photo

PERAWATAN SESUAI JENIS TANAMAN: Gien Karya menyemprot episcia koleksinya. Tanaman tersebut tak perlu disiram terlalu sering karena akan cepat busuk. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)

Dia mencontohkan, salah satu episcia jenis spring symphony koleksinya berubah warna karena diletakkan di tempat yang terlalu teduh. Warna daun cokelat kemerahan dengan tulang daun hijau berubah lebih redup. ”Sekilas, kata orang kusam. Tapi, inilah yang bikin khas,” lanjut Gien. Dia menyarankan, jika tanaman sudah mendapat ”spot” favorit, maka jangan terlalu sering dipindahkan.

Penyiraman juga tak perlu terlalu sering. Sebab, episcia punya cabang dan daun yang lunak. Dengan begitu, jika terlalu banyak disiram, tanaman malah busuk. Perempuan yang juga seorang arsitek itu menilai, episcia terbilang mudah dirawat walau butuh trial and error. ”Tanaman ini juga unik. Kalau enggak kita perhatikan, kadang malah lebih bagus dibanding saat kita rajin mupuk atau rawat,” papar Gien. (fam/c13/ai)




Photo

PERAWATAN TANAMAN: Episcia tak perlu disiram terlalu sering karena akan cepat busuk. (PUGUH SUJATMIKO/JAWA POS)

 

AGAR EPISCIA MAKIN RIMBUN


  • PERTUMBUHAN


Episcia memang relatif cepat. Namun, agar tanaman lekas rimbun, ada beberapa trik yang bisa dilakukan.

  • PANGKAS DAUN TUA


Ketika daun tua dipotong, nutrisi bakal ”dialihkan” untuk menumbuhkan tunas daun, bunga, dan anakan.

  • BERIKAN PUPUK KHUSUS DAUN


Gien menyarankan pemberian Gandasil D (sesuai takaran) sebulan sekali agar pertumbuhan daun lebih bagus.

  • LAKUKAN REPOTTING SECARA BERKALA


Jika daun sudah menutupi tepian pot, maka saatnya melakukan repotting. Ketika dipindah, pastikan sebagian media tanah lama masih menempel di akar tanaman.

  • SATUKAN RUMPUN


Jika tak ingin menggantung tanaman, maka stolon (atau anakan) yang tumbuh bisa diletakkan di pot. Namun, pastikan dulu ruang di pot masih cukup agar tak saling berdesakan.

 

APA SAJA YANG PERLU DISIAPKAN?

  • TEMPAT TANAM


Hindari menggunakan pot terlalu besar, karena hal itu bisa memicu akar tumbuh memenuhi pot. Pertumbuhan daun pun lebih lambat.

  • TEDUHAN


Idealnya, tanaman ada di luar ruangan dan di bawah teduhan. Jika tepian daun gosong, tandanya tanaman mendapat terlalu banyak paparan sinar.

  • MEDIA TANAM


Gunakan campuran sekam, tanah kebun, dan pupuk kandang untuk episcia. Untuk menahan kelembapan, bagian atas media bisa ditambah lumut segar.

 

TRIVIA

  • Banyak yang keliru menyebut episcia berasal dari Afrika lantaran masih satu genus dengan African violet.

  • Di tanah air, episcia identik dengan bunga berwarna merah cerah. Namun, ada varian lain yang memiliki bunga merah muda, oranye, kuning, bahkan putih.

  • Untuk pemula, Gien menyarankan episcia silver shield maupun episcia hijau yang relatif tahan banting.

  • Perbanyakan episcia melalui stolon, yakni bagian batang yang tumbuh menjuntai dan di ujung ruasnya ditumbuhi tunas baru. Akar tanaman baru biasanya tumbuh 1–2 minggu setelah anakan dipisah.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore