
KLANGENAN: Kian Santang pernah ditawar penggemar hingga Rp 40 juta. Namun, Panji tak melepasnya. (Angger Bondan/Jawa Pos)
Pepatah berkata, ”like father like son”. Atau, ”buah tak jatuh jauh dari pohonnya”. Itu bukan hanya berlaku pada manusia, melainkan juga pada burung berkicau. Dari induk jawara, anakan juara pun bisa didapat. Panji Winaryo, penghobi burung di Candi, Sidoarjo, sudah melakukannya.
---
RETINA matanya sama-sama berwarna merah. Demikian pula warna bulunya yang terkadang sama dengan induknya. ’’Gaya tarungnya persis bapaknya (induknya, Red). Kebetulan, namanya juga sama dengan bapaknya, Pajero,’’ ungkap Panji saat ditemui di kediamannya di tepi Jalan Lingkar Timur, Sidoarjo, Rabu (27/1).
Pajero yang dimaksud Panji adalah trotol dari keturunan salah satu gaco andalannya yang sudah dibeli salah seorang rekannya. Pajero merupakan satu di antara lima gacoan andalan Panji yang sudah dia cetak anakannya.
Selain Pajero, ada yang dinamai Kian Santang, Menthos, Selendang, dan satu lagi masih diberi inisial F4. Kecuali F4, indukan-indukan murai batu yang dipunyai Panji rata-rata pernah jadi bintang dalam perlombaan kicau burung. Kian Santang, misalnya, yang pernah masuk sepuluh besar lomba burung berkicau Piala Raja di Jogjakarta. Ada pula yang memenangi beberapa lomba di Sidoarjo dan sekitarnya.
Atas dasar prestasi burung-burung gacoannya itu, muncul ide Panji untuk mencetak anakan dari induk-induk trah juara itu. Dia memulainya sejak delapan tahun lalu. ’’Awalnya iseng saja, bosan main di lapangan, ingin melestarikan turunannya (trah juara),’’ kenang Panji.
Pada awal-awal merintis, pejantan trah juara miliknya dikawinkan dengan betina yang juga turunan trah juara. Dia punya pemikiran, semakin bagus indukan betina maka akan semakin bagus pula anakan yang dihasilkan. Bahkan, kualitasnya bisa melebihi yang dimiliki indukan tersebut.
Persilangan untuk menghasilkan anakan dari indukan juara ini tak segampang itu. Bahkan, penjodohannya pun sulit. Semua itu kembali kepada karakter murai batu sebagai burung petarung. ’’Berahinya tinggi,’’ cetus pria 38 tahun itu.
Dia mencontohkan, Kian Santang baru bisa menghasilkan anakan setelah membunuh empat ekor betinanya. Kian Santang baru bisa berproduksi setelah di betina kelima. Sementara itu, F4 membutuhkan dua ekor betina. Hanya Pajero yang paling cepat, cukup membunuh seekor betina.
Setelah menghasilkan banyak anakan dari induk trah juara, bapak dua orang anak itu pun sudah punya tip dan trik. Cukup dua faktor. Yakni, makanan dan ketelatenan dalam perawatan. Namun, itu saja belum bisa dijadikan garansi untuk 100 persen berhasil. ’’Trotol saja masih rawan. Sudah nangkring, kadang karena cuaca yang terlalu ekstrem, empat bulan sudah mati juga ada,’’ tuturnya.
Soal pemenuhan gizinya, vitamin alami diberikan ke murai batu piaraannya. Dari hasil sharing dengan sesama pencinta murai batu, dia memilih vitamin yang berbahan jahe, kunyit, dan kencur yang diblender. Kemudian, ramuan itu dikeringkan dan diberikan kepada jangkrik berjenis cliring. Jangkrik-jangkrik cliring yang sudah kenyang itu diberikan ke indukan murai batu itu. Selain jangkrik cliring, ulat hongkong dan ulat kandang juga dia berikan.
Begitu pula ketika sudah jadi anakan. Sebagaimana halnya Pajero yang sama dengan anakan dan indukannya, tak selamanya kasus tersebut bisa terjadi pada yang lainnya. Dengan kata lain, trah juara anakannya tidak akan 100 persen jadi jika pemiliknya tidak konsisten. ’’Kalau konsisten, enam bulan sudah bisa dicoba hasilnya,’’ klaim Panji. Irama kicauannya juga bergantung si pemiliknya.
Di antara murai batu piaraannya, F4 paling panjang durasi penyilangannya. Sudah enam tahun dia habiskan sampai mendapatkan F4 saat ini. Mulai mengawinkan murai batu borneo dengan betina sumatera yang kemudian menghasilkan murai batu Bordan. Nah, murai batu Bordan itu menghasilkan F2 setelah disilangkan dengan betina sumatera.
Dari persilangan F2 dengan betina sumatera, lahirlah murai yang dia beri inisial F3. Hasil persilangan betina F3 itu dengan jantan sumatera, jadilah F4. Inisial F4 ini yang diprospek untuk jadi indukan juara terbarunya.
---
MERAWAT ANAKAN SUPER
USIA 0–10 HARI
- Enam hari pertama dibiarkan di kandang dan diloloh (disuapi) indukannya. Lalu, dipanen setelah hari ke-7 dan diloloh sendiri.
- Ditempatkan di kandang yang diberi lampu bersuhu 29–30 derajat. Makannya voer untuk murai yang dicampur kroto.
TROTOL (10 HARI–5 SAMPAI 6 BULAN)
- Sudah tidak perlu diloloh. Mulai diajarkan makan jangkrik. Itu pun jangkriknya hanya diambil pada bagian perutnya. Agar maksimal, dicampur dengan voer dan kroto.
- Penempatannya pun sudah dipisah-pisah antara jantan dan betinanya. Sudah mulai berbunyi.
DEWASA
- Menu makannya sama dengan trotol. Hanya ditambah dengan dijemur tiap pagi dan dimandikan.
- Agar bisa menirukan bunyi burung-burung lain, di kandangnya ditempeli burung masteran seperti kolibri ninja, prenjak, platuk, dan cililin.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=dG112rSxvrU

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
