Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Januari 2021 | 22.48 WIB

Slow on Wheels, Utak-atik si Roda Dua Jadi Teman Riding Ganteng

RIDING SELOW: Anggota Slow on Wheels saat Sunmori dengan rute Bangkalan–Kamal–Bangkalan pada Desember lalu. (Allex Qomarulla/Jawa Pos) - Image

RIDING SELOW: Anggota Slow on Wheels saat Sunmori dengan rute Bangkalan–Kamal–Bangkalan pada Desember lalu. (Allex Qomarulla/Jawa Pos)

Deru suara motor terdengar bersahutan di kawasan Gelora Bangkalan pagi itu. Sekawanan pria menunggangi motor masing-masing, berkumpul di belakang stadion seusai Sunmori (Sunday Morning Ride) dengan rute Bangkalan–Kamal–Bangkalan.

---

JIKA diperhatikan, motor-motor yang mereka kendarai berbeda dengan motor yang dipajang di diler-diler. Ada yang mempunyai stang terlalu rendah, ada juga yang posisi stangnya sejajar bahu. Ada yang bannya kurus tipis, ada juga yang bannya tebal dan gemuk. Mereka tergabung dalam Slow on Wheels, komunitas motor custom dan klasik.

Wahyu Handoko, founder Slow on Wheels, mengatakan, komunitas itu mewadahi sekitar 40 pencinta motor custom dan klasik. Motor-motor custom mengusung beragam style, mulai chopper, japstyle, cafe racer, scrambler, tracker, hingga bobber. Ada juga motor lawas serta motor anyar yang dipermak hingga menyerupai motor klasik.

Selain Sunmori, Slow on Wheels juga pernah mengadakan acara kamping bareng bertema Beach Moto Camp serta riding dalam rangka donasi yang bertajuk The Distinguished Gentleman’s Ride (DGR). ’’Kami juga sering mengajak teman-teman dari kota lain se-Madura dan Surabaya untuk riding bareng. Di Madura sini justru ramai jadi lokasi riding karena jalanannya sepi dan banyak spot bagus untuk foto-foto,’’ papar Wahyu yang saat itu menjadikan distronya sebagai titik kumpul Sunmori.

Menyulap motor biasa menjadi luar biasa butuh kreativitas, kesabaran, dan ketelatenan. Sebab, untuk menghasilkan motor yang unik, ada serangkaian proses yang harus dijalani. Apalagi jika klien banyak maunya. ’’Motor ini cuma mesinnya yang enggak berubah. Lainnya handmade,’’ ungkap Erfan Putra, builder yang juga ikut Sunmori kala itu.

Bagian-bagian yang dibuat personalized itu, antara lain, rangka (frame), jok, rem, stang, dan pijakan kaki (footstep). Adapun bagian mesin, ban, dan tangki, kebanyakan menggunakan spare part yang sudah jadi. Untuk merakit motor custom itu, dibutuhkan waktu 1–3 bulan. Namun, lamanya proses tersebut juga bergantung pada tingkat kesulitan, ketersediaan spare part, dan kelengkapan alat yang dimiliki builder.

Motor milik Erfan dan Wahyu memang hanya tersisa mesinnya. Bagian-bagian lainnya full customized. Motor Erfan adalah scandinavian chopper dengan basic Honda GL 125 cc, sedangkan milik Wahyu adalah skinny chopper dengan basic Yamaha Scorpio 225 cc.

Motor custom dapat dijual sebagaimana motor pada umumnya. Namun, mencari pembeli motor custom gampang-gampang susah. Sebab, tak semua orang paham dengan seni pada motor tersebut. Salah-salah, bisa jadi si pembeli tidak mengerti nilainya dan akan menawar motor itu dengan harga yang sangat anjlok.

Merawat motor custom sebenarnya tidak begitu sulit. Yang penting, pastikan mesin motor dipanaskan setidaknya seminggu sekali. Perhatikan juga keamanannya karena terkadang motor custom menggunakan besi yang tipis. Saat musim hujan seperti sekarang, sebaiknya juga lebih berhati-hati. Sebab, air dan debu dapat masuk ke mesin dan mengotori motor. ’’Makanya, kalau musim hujan begini, kegiatan kami kurangi,’’ tutur Wahyu.

Tren motor custom diminati lantaran motornya yang ’’nyeni’’ dan unik. Konsep-konsep modifikasi yang beragam dan memungkinkan untuk pengubahan secara mayor membuat tren motor itu semakin digemari. Mirza Agiandra salah satunya. Dia baru bergabung dengan Slow on Wheels tahun lalu. Sejak mengundurkan diri dari tempat kerjanya dan memilih untuk menjadi pengusaha, pria 32 tahun tersebut memiliki lebih banyak waktu luang.

Baca Juga: Wuhan yang Mencekam saat Awal Munculnya Covid-19, Kini Semakin Ceria

’’Gabut. Jadi, menekuni passion dan biar keren juga hahaha,’’ tuturnya. Dia juga mengaku senang bergabung dengan komunitas karena ada kesempatan beramal melalui acara DGR. Motor Mirza adalah Kawasaki Ninja 250 FI. Motor berkapasitas 250 cc itu disulap dengan konsep cafe racer sehingga posisi stangnya memaksa si pengendara untuk membungkuk. Joknya pun diubah, dari double seat menjadi single seat.

Untuk mengubah motor itu, Mirza berpindah bengkel demi mendapatkan builder yang cocok. Dia menghabiskan dana Rp 15 juta untuk modifikasi motornya yang didominasi warna merah dan hitam itu. ’’Kalau total sama motornya, habisnya Rp 46 juta,’’ ucap mantan karyawan bank tersebut.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/e48GL4c8nwI

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore