Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 September 2020 | 22.48 WIB

Kameleon, Pemarah yang Unik Menawarkan Eksotisme Perpaduan Warna

USIA INKUBASI PANJANG: Foto kiri, Adrian Budi menunjukkan dua chameleon yang dikembangbiakkannya. (Adrian Budi for Jawa Pos) - Image

USIA INKUBASI PANJANG: Foto kiri, Adrian Budi menunjukkan dua chameleon yang dikembangbiakkannya. (Adrian Budi for Jawa Pos)

Chameleon (kameleon) merupakan salah satu famili kadal yang dikenal mampu mengubah warna. Namun, bukan seperti kadal lokal yang hanya menyesuaikan diri dengan tempat berpijak. Kameleon justru menawarkan eksotisme perpaduan warna. Membuat siapa pun kesengsem dan ingin meminangnya.

---

SECARA fisik, kameleon sangat mudah dibedakan dengan jenis kadal lain. Hewan itu tidak mampu bergerak cepat. Perawakannya tenang dan kalem. Saat ada predator, spesies tersebut lebih memilih untuk berdiam diri sebagai strategi mengelabui musuh.

Jangan membayangkan kameleon seperti bunglon pada umumnya. Yang mengubah warna sesuai dengan tempatnya menempel. Kameleon justru mengubah warna sesuai dengan suasana hatinya.

’’Reptil ini moody banget. Jadi, ia akan berubah kalau sedang marah, stres, berkelahi, atau mau kawin untuk menarik pasangan,” ujar breeder kameleon asal Ponorogo Adrian Budi Purnomo.

Warna tersebut menjadi komunikasi antarkameleon juga. Saat sedang marah atau masuk waktu kawin, warnanya akan semakin cerah dan menyala. Pada kameleon betina, warna yang gelap menandakan bahwa ia tidak ingin dikawini si jantan.

’’Terkadang untuk melihat warna aslinya, saya tes dengan mendekatkan dua jantan pada satu pohon, tapi beda batang. Kalau kondisi marah, warna merah kameleon terlihat sangat cerah dan merah banget,” ungkap Adrian.

Keunikan lain hewan itu ada pada indra penglihatan. Dua matanya mampu berputar 360 derajat, memungkinkan untuk melihat penuh lingkungan sekitarnya. ’’Kemudian sisi kiri dan kanan itu bisa bergerak sendiri-sendiri, tidak sinkron satu sama lain,” ujar pria yang beternak kameleon sejak tiga tahun lalu itu.

Saat ini ada dua jenis kameleon yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Pertama, veiled chameleon. Pemilik nama latin Chamaeleo calyptratus itu paling menonjol dari bentuk kepala yang seperti memiliki tudung. Veiled berasal dari Yaman. Jenis itu memiliki warna dominan hijau. Kemudian, ada perpaduan kuning, putih, atau merah. Veiled chameleon bisa tumbuh hingga memiliki panjang 40 sentimeter.

Jenis kedua adalah panther chameleon. Dibanding dengan veiled, pemilik nama latin Furcifer pardalis tersebut lebih kaya warna. Perpaduan oranye, merah, kuning, biru, hingga tosca. Kemudian, tidak ada tudung di kepalanya.

’’Asalnya dari Madagaskar, bisa tumbuh dengan panjang 35 sentimeter,” terang Adrian.

Selain dua jenis itu, sebenarnya masih banyak yang lainnya. Ada hampir 120 jenis. Belum lagi lokalitasnya. Untuk panther saja misalnya, di Madagaskar ada lebih dari 20 jenis. Tiap wilayah memiliki ciri khas warna masing-masing.

Dua jenis itu dianggap yang paling mampu beradaptasi dengan kondisi iklim di Indonesia.


Adrian mengatakan, iklim di sana hampir sama. ’’Ada jenis lain yang membutuhkan hawa sangat dingin, sangat sulit berkembang di tanah air,” katanya.

Salah satu tantangan menangkarkan kameleon ada pada usia inkubasi yang sangat panjang.

Paling tidak dibutuhkan waktu hingga tujuh bulan untuk bisa sampai menetas. Kameleon mampu bertelur hingga 20 butir untuk satu induk.

Butuh Tempat Lembap dan Pohon Hidup



Berencana meminang kameleon? Beberapa hal harus disiapkan untuk memiliki reptil satu ini.

Breeder kameleon Adrian Budi Purnomo mengatakan, salah satu hal dasar yang perlu diperhatikan adalah penataan kandang.

Kameleon merupakan reptil yang sangat teritorial. Ia tidak bisa disatukan dengan sesama jenisnya. Satu kandang hanya ditempati satu kameleon. ’’Kalau digabung, kameleon pasti bertarung meski itu dengan betina,” katanya.

Yang paling penting, kandang harus memiliki sirkulasi udara yang baik. Akuarium tidak disarankan untuk menjadi tempat memelihara kameleon. Kandang juga harus diberi tanaman hidup untuk menyesuaikan dengan habitatnya. Tanaman lokal seperti sirih gading dan walisongo bisa menjadi pilihan.

Kandang harus dilengkapi dengan air untuk minum dan menjaga kelembapan. Adrian mengatakan, kameleon tidak minum dari genangan air sehingga kandang harus dilengkapi dengan tetesan air. ’’Nah, ia akan minum dari daun yang basah. Bisa juga diberi sprayer,” katanya.

Dia menyarankan memelihara kameleon di lingkungan outdoor. Kalaupun di dalam ruangan, harus ada UVB. Itu pun tetap perlu dijemur matahari langsung minimal 30 menit tiap hari.

Makanan kameleon hanya serangga. Mulai jangkrik hingga ulat. Namun, Adrian menyarankan pemelihara untuk memberikan jangkrik plus kalsium jika ingin tumbuh kembangnya cepat.

Soal jenis kameleon, panther saat ini yang paling diminati. Salah satu penyebabnya, warnanya lebih beragam jika dibandingkan dengan veiled chameleon. ’’Harga veiled chameleon berkisar Rp 1 juta–Rp 1,5 juta. Sedangkan harga panther chameleon bisa mencapai Rp 3 juta–Rp 4 juta untuk usia 2–3 bulan,” terangnya.

Indonesia memiliki pangsa pasar kameleon yang unik. Betina justru lebih sering dicari. Berbeda jauh dengan pasar luar negeri yang lebih tertarik memelihara jantan. Menurut Adrian, banyak yang memelihara kameleon untuk di-breeding lagi.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=vmCLPe2qNeU

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore