Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 7 Agustus 2023 | 01.17 WIB

Cerita Jecelyn ”Mami Biawak” Bareng Zuzu si Cerdik yang Sering Kabur dari Kandang

Jecelyn (kiri) dan suami bersama Lulu dan Zuzu.

JawaPos.com - Reptil jenis savannah monitor itu diberi nama Zuzu. Warnanya cokelat pudar dengan corak totol-totol. Usianya belum genap 1 tahun, tapi panjangnya sudah mencapai 70 sentimeter. Reptil asal Afrika itu lebih kalem dan mudah dijinakkan dibandingkan biawak asli Indonesia.

Melihat badan besar memanjang dengan kulit tebal bersisik dan cakar yang tajam, cukup bikin ciut hati untuk memeliharanya. Hal yang sama dirasakan Jecelyn Chandra saat sang suami menyampaikan keinginannya memelihara biawak.

”Awalnya aku nggak setuju karena geli ya, gede juga. Tiba-tiba sudah dibawa ke rumah. Kami adopsi Zuzu pas masih usia peralihan dari baby ke juvenile,” tutur Jecelyn.

Zuzu bukan biawak asli Indonesia. Jenisnya savannah monitor dari daerah gurun di Afrika. Jika biawak lokal memiliki corak warna-warni, yang satu ini warnanya lebih pudar. Karakternya pun lebih kalem sehingga gampang dijinakkan.

”Dia tuh mager banget. Nggak butuh satu hari buat jinakin Zuzu. Sering dikasih makan dan dipegang aja biar kenal bau kita,” ungkapnya.

Reptil yang habitat aslinya di gurun pasir itu harus ditempatkan di lokasi yang panas dan kering. Pastikan kandangnya tidak lembap. Bisa dengan dipasangi lampu UV A. ”Tapi, tetap aku sediakan baskom isi air di dalamnya. Sebab, dia nggak mau buang kotoran di tempat tidurnya, pinter banget,” lanjut Jecelyn.

Savannah monitor memang termasuk jenis biawak yang cerdas. Tak terhitung berapa kali Zuzu berhasil meloloskan diri dari kandang kacanya. Tingkahnya itu bikin Jecelyn gemas. ”Jadi, dia garukin pintu kandangnya. Tapi, pas ada aku, dia langsung pura-pura tidur. Begitu aku nggak kelihatan, dia coba kabur lagi. Pinter emang,” serunya.

Selain persoalan kandang, Jecelyn cukup concern pada makanan Zuzu. Dia memberikan serangga seperti jangkrik, ulat jerman, dan kecoak dubia sebagai makanan. Kalau di Afrika, mereka memakan kalajengking. ”Yang paling penting, makanannya harus dikasih kalsium. Sebab, reptil rawan kena metabolic bone disease (MBD), jadi tulangnya bisa skoliosis,” beber Jecelyn.

Sebagai pencinta reptil, Zuzu bukan peliharaan pertama ”Mami Biawak” ini. Apalagi, Jecelyn tidak bisa memelihara hewan seperti kucing dan anjing karena alergi hewan berbulu. Selain Zuzu, Jecelyn punya satu biawak savannah monitor lagi bernama Lulu.

Lalu, ada Pip si bearded dragon, Mico dan Maco si crocodile skink, serta tiga panana (blue tongue skink) Dono, Bogel, dan Pishang. Semuanya bukan appendix atau hewan langka yang dilindungi.

Savannah monitor masih banyak ditemui di Afrika. Pip juga bukan appendix, dia jenis bearded dragon yang corak warnanya biasa. Kalau appendix, harus ada surat izinnya, ya,” tandas Jecelyn. 

Editor: Candra Kurnia Harinanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore