Jecelyn (kiri) dan suami bersama Lulu dan Zuzu.
JawaPos.com - Reptil jenis savannah monitor itu diberi nama Zuzu. Warnanya cokelat pudar dengan corak totol-totol. Usianya belum genap 1 tahun, tapi panjangnya sudah mencapai 70 sentimeter. Reptil asal Afrika itu lebih kalem dan mudah dijinakkan dibandingkan biawak asli Indonesia.
Melihat badan besar memanjang dengan kulit tebal bersisik dan cakar yang tajam, cukup bikin ciut hati untuk memeliharanya. Hal yang sama dirasakan Jecelyn Chandra saat sang suami menyampaikan keinginannya memelihara biawak.
”Awalnya aku nggak setuju karena geli ya, gede juga. Tiba-tiba sudah dibawa ke rumah. Kami adopsi Zuzu pas masih usia peralihan dari baby ke juvenile,” tutur Jecelyn.
Zuzu bukan biawak asli Indonesia. Jenisnya savannah monitor dari daerah gurun di Afrika. Jika biawak lokal memiliki corak warna-warni, yang satu ini warnanya lebih pudar. Karakternya pun lebih kalem sehingga gampang dijinakkan.
”Dia tuh mager banget. Nggak butuh satu hari buat jinakin Zuzu. Sering dikasih makan dan dipegang aja biar kenal bau kita,” ungkapnya.
Reptil yang habitat aslinya di gurun pasir itu harus ditempatkan di lokasi yang panas dan kering. Pastikan kandangnya tidak lembap. Bisa dengan dipasangi lampu UV A. ”Tapi, tetap aku sediakan baskom isi air di dalamnya. Sebab, dia nggak mau buang kotoran di tempat tidurnya, pinter banget,” lanjut Jecelyn.
Savannah monitor memang termasuk jenis biawak yang cerdas. Tak terhitung berapa kali Zuzu berhasil meloloskan diri dari kandang kacanya. Tingkahnya itu bikin Jecelyn gemas. ”Jadi, dia garukin pintu kandangnya. Tapi, pas ada aku, dia langsung pura-pura tidur. Begitu aku nggak kelihatan, dia coba kabur lagi. Pinter emang,” serunya.
Selain persoalan kandang, Jecelyn cukup concern pada makanan Zuzu. Dia memberikan serangga seperti jangkrik, ulat jerman, dan kecoak dubia sebagai makanan. Kalau di Afrika, mereka memakan kalajengking. ”Yang paling penting, makanannya harus dikasih kalsium. Sebab, reptil rawan kena metabolic bone disease (MBD), jadi tulangnya bisa skoliosis,” beber Jecelyn.
Sebagai pencinta reptil, Zuzu bukan peliharaan pertama ”Mami Biawak” ini. Apalagi, Jecelyn tidak bisa memelihara hewan seperti kucing dan anjing karena alergi hewan berbulu. Selain Zuzu, Jecelyn punya satu biawak savannah monitor lagi bernama Lulu.
Lalu, ada Pip si bearded dragon, Mico dan Maco si crocodile skink, serta tiga panana (blue tongue skink) Dono, Bogel, dan Pishang. Semuanya bukan appendix atau hewan langka yang dilindungi.
”Savannah monitor masih banyak ditemui di Afrika. Pip juga bukan appendix, dia jenis bearded dragon yang corak warnanya biasa. Kalau appendix, harus ada surat izinnya, ya,” tandas Jecelyn.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
