
Jemaah saat melaksanakan shalat di Masjid Amir Hamzah di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Ramadhan selalu menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda di setiap masjid. Ada yang menawarkan kemegahan kubah raksasa, ada pula yang memikat lewat sejarah panjangnya.
Namun di jantung Ibu Kota, tepatnya di kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat, berdiri sebuah masjid dengan wajah yang tak lazim: tanpa kubah, berbalut beton ekspos, dan dikelilingi kolam air yang menenangkan. Itulah Masjid Amir Hamzah.
Di bulan suci, masjid ini menjadi destinasi menarik bagi kamu yang ingin merasakan suasana ibadah berbeda, lebih intim, lebih sunyi, sekaligus menyatu dengan lanskap seni dan arsitektur modern.
Masjid Modern di Tengah Pusat Kebudayaan
Masjid Amir Hamzah bukan sekadar tempat ibadah biasa. Ia berada di antara Gedung Teater Jakarta dan Graha Bhakti Budaya, bersebelahan dengan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Lingkungannya dipenuhi aktivitas seni, diskusi, pementasan teater, hingga pemutaran film.
Namun ketika kamu melangkah ke pelataran masjid, atmosfernya berubah drastis: lebih tenang dan kontemplatif.
Masjid ini pertama kali diresmikan pada 1977 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Seiring waktu, bangunannya mengalami relokasi dan revitalisasi mengikuti penataan ulang kawasan TIM. Pada 3 Juli 2020, wajah barunya diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta kala itu, Anies Baswedan, sebagai bagian dari revitalisasi total kawasan seni tersebut.
“Masjid ini sudah dua kali mengalami pembongkaran dan pemindahan. Tapi semangatnya tetap sama, menjadi ruang ibadah yang terbuka untuk siapa saja, termasuk seniman dan mahasiswa,” ujar Edi Junaedi, Pengurus Masjid Amir Hamzah.
Tanpa Kubah, Justru Makin Ikonik
Jika kebanyakan masjid di Indonesia identik dengan kubah besar dan menara tinggi, Masjid Amir Hamzah justru tampil sebaliknya. Arsiteknya, Andra Matin, merancang bangunan ini dengan pendekatan modern-minimalis dan futuristik.
Tidak ada kubah konvensional. Atapnya datar, dengan garis-garis geometris tegas. Struktur beton ekspos dibiarkan tampil apa adanya, menciptakan kesan jujur sekaligus elegan.
Bagi sebagian orang, desain ini terasa tidak biasa. Namun justru di situlah daya tariknya.
Di bagian dalam, langit-langit masjid memadukan balok kayu dengan skylight kaca transparan. Sinar matahari masuk secara alami, membasuh ruang salat dengan cahaya lembut. Saat siang hari, kamu hampir tidak membutuhkan pencahayaan buatan.
Desain ini juga mencerminkan pendekatan ramah lingkungan. Pepohonan rindang di sekitar masjid tetap dipertahankan dari tata ruang sebelumnya.
Di sekeliling bangunan terdapat kolam air atau reflection pond yang bukan hanya elemen estetika, tetapi juga berfungsi sebagai penyejuk alami sekaligus kolam retensi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Bali United FC vs Sabah FC di Dewata Challenge Series 2026: Serdadu Tridatu Berpesta!
Pegawai Diskominfo Kukar Bakar Kantor Usai Wajah Dijadikan Stiker WA
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Eks Dewas KPK Albertina Ho Tak Lolos Seleksi CHA di KY, TII Bandingkan dengan Politikus Golkar Ini
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
3 Fakta Gonzalo Ritacco, Pemain Incaran Persebaya Surabaya yang Pernah Lawan Son Heung-min
HUT ke-81 RI, Naik Suroboyo Bus dan Wira Wiri Cuma Rp81, Berlaku Sepekan
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Everton vs Newcastle di Stadion Scottish Gas Murrayfield
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
