Anak-anak saat mengikuti pawai obor sambut Ramadhan yang diinisiasi oleh Mushola Nurul Iman di kawasan Cinere, Depok, Senin (16/02/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Penetapan awal Ramadhan di Arab Saudi kerap lebih dulu diumumkan dan tak jarang berbeda dengan keputusan di Indonesia. Padahal, kedua negara sama-sama menyatakan menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan bulan sabit sebagai penentu 1 Ramadhan. Lalu, di mana letak perbedaannya?
Tahun ini, Arab Saudi menetapkan 1 Ramadhan setelah menerima laporan terlihatnya hilal dari sejumlah titik pemantauan. Otoritas setempat langsung mengesahkan kesaksian tersebut, sehingga puasa dimulai lebih awal dibanding sebagian negara lain yakni mulai hari ini, Rabu (18/2).
Namun menurut Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN sekaligus Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama (Kemenag), perbedaan bukan terletak pada metode rukyatnya, melainkan pada kriteria yang digunakan dalam menerima laporan terlihatnya hilal.
“Rukyat di Saudi tidak menggunakan kriteria imkan rukyat. Walau posisi bulan sangat rendah, kesaksian rukyat langsung diterima oleh otoritas Saudi,” jelas Thomas kepada JawaPos.com.
Ia menambahkan, praktik rukyat di Saudi juga kerap dipengaruhi oleh Kalender Ummul Qura, yang sejatinya merupakan kalender sipil, bukan kalender ibadah.
Kalender tersebut menggunakan kriteria wujudul hilal, yakni cukup dengan terpenuhinya posisi geometris bulan di atas ufuk, tanpa mempertimbangkan tingkat visibilitasnya secara empiris.
Sementara itu, Indonesia bersama negara-negara anggota forum MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) menggunakan kriteria imkan rukyat (IR) atau visibilitas hilal. Kriteria ini disusun berdasarkan data rukyat jangka panjang.
Dalam kesepakatan MABIMS, hilal dinyatakan berpeluang terlihat jika saat maghrib memenuhi syarat: tinggi bulan minimal 2 derajat dan elongasi minimal 3 derajat atau umur bulan minimal 8 jam.
Dalam praktiknya, parameter tinggi 2 derajat menjadi acuan yang paling sering digunakan sebagai batas minimal kemungkinan hilal dapat dirukyat.
Artinya, jika posisi bulan masih terlalu rendah atau belum memenuhi kriteria visibilitas, maka meski ada klaim terlihatnya hilal, di Indonesia laporan tersebut tidak otomatis diterima. Pemerintah tetap mengacu pada data hisab dan kriteria ilmiah yang telah disepakati bersama.
Perbedaan standar inilah yang membuat awal Ramadhan, Idul Fitri, atau Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi bisa berbeda satu hari. Secara metode sama-sama rukyat, tetapi standar penerimaan dan parameter astronomis yang dijadikan rujukan tidak identik.
Dengan memahami perbedaan kriteria ini, masyarakat diharapkan tidak lagi melihat selisih awal Ramadhan sebagai bentuk perbedaan prinsip, melainkan sebagai konsekuensi dari pendekatan ilmiah dan kebijakan keagamaan yang berbeda di masing-masing negara.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
