Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 April 2022 | 05.18 WIB

Muslim Wajib Tahu, Ini Keistimewaan 10 Hari Terakhir Ramadan

Warga beribadah di Masjid Jamie Darussalam yang berlokasi di, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/4/2022). Masjid Jamie Darussalam merupakan salah satu masjid dengan arsitektur yang indah dan unik di Jakarta. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos. - Image

Warga beribadah di Masjid Jamie Darussalam yang berlokasi di, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (6/4/2022). Masjid Jamie Darussalam merupakan salah satu masjid dengan arsitektur yang indah dan unik di Jakarta. Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.

JawaPos.com - Bulan Ramadan kini sudah memasuki malam ke-22. Itu artinya kita melaksanakan ibadah puasa mulai memasuki 10 hari ketiga atau 10 hari terakhir bulan Ramadan di tahun ini.

Keistimewaan yang terkandung dalam 10 hari terakhir sangat besar adanya kemungkinan malam lailatul qadar. Meskipun tak diketahui secara pasti kapan persisnya malam yang lebih baik dari 1000 bulan ini datang, Rasulullah yang meningkatkan ibadah dan rutin melakukan iktikaf di masjid mengindikasikan malam lailatul qadar ada pada 10 hari terakhir.

Pada 10 hari terakhir bulan Ramadan, disebut sebagai pembebasan dari api neraka atau itqun minan nar sesuai dengan hadits Nabi. 10 hari pertama rahmat, 10 hari kedua maghfirah dan 10 hari terakhir itqun minan nar.

Dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Qur’an (PTIQ), Dr. Abdul Muid Nawawi mengatakan, antara rahmat, maghfirah dan itqun minan nar adalah satu kesatuan yang berkelanjutan.  Untuk mendapatkan ketiganya sekaligus harus dimulai dari keseriusan kita sejak awal Ramadan sampai akhir dalam melaksanakan ibadah dan menempa diri dengan amalan kebaikan.

Selain melaksanakan ibadah puasa dan amalan ibadah lainnya di 10 hari pertama bulan Ramadan, juga membuka diri kita untuk memberikan rahmat, kasih sayang ke orang-orang.

Demikian juga pada 10  hari kedua bulan Ramadan, untuk mendapatkan maghfirah atau ampunan dari Allah, kita juga mensucikan diri kita dari penyakit hati seperti iri, dengki, sombong, jahat ke orang lain, dan sejenisnya. Sebaliknya kita berusaha membuka diri kita memberikan maaf ke orang orang dengan harapan kita juga mendapatkan ampunan dari Allah.

Dan di 10 hari terakhir bulan Ramadan, level mental dan spiritual kita seharusnya naik lagi. Untuk dapat terbebas dari api neraka, kita harus memiliki sifat penyayang, suci dari penyakit hati, membuka seluas luasnya pintu maaf ke orang lain dan melakukan hal-hal yang dapat membebaskan penderitaan atau kesusahan orang lain. Menurut Abdul Muid Nawawi,  neraka tidak hanya diartikan di akhirat kelak. Segala bentuk kesusahan di dunia juga termasuk neraka.

"Mau kah kita mendapatkan pembebasan dari api neraka di akhirat? Bebaskan neraka atau kesusahan orang di bumi ini. Untuk mampu membebaskan orang dari kesusahan, orangnya harus penyayang penuh rahmat, harus pemaaf, baru dia akan mampu punya kekuatan untuk membebaskan kesusahan- kesusahan orang," tutur Abdul Muid Nawawi. "Kita tidak perlu banyak bermimpi terbebas dari neraka ketika di dunia ini sering membuat neraka bagi orang lain," imbuhnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore