
Penjual dadakan menjelang buka puasa
JawaPos.com - Pada bulan Ramadan ini, sepanjang jalan akan ramai oleh penjual takjil. Menu-menu berkolesterol tinggi, seperti gorengan, adalah makanan andalan masyarakat. Tapi, seorang pedagang gorengan mengaku kalah saing dengan penjual dadakan di bulan puasa ini.
Adalah Irfan, seorang pedagang gorengan yang telah berdagang makanan berminyak ini selama 20 tahun. Di pinggi jalan Mal Kota Kasablanka sendiri, pria ini mengaku telah berdagang selama 4 tahun.
"Kalau soal pendapatan sama saja, tidak ada peningkatan, baik di bulan puasa maupun bulan-bulan lain. Soalnya saya kalah sama yang jualan gorengan dadakan," katanya, di Jalan Casablanca, Jakarta, Senin (21/5).
Pria yang berjualan di samping mall Kota Kasablanka ini mengungkapkan, ia kalah berdagang karena menu yang disajikan pedagang gorengan dadakan lebih lengkap. Irfan sendiri, yang mengaku telah berjualan di Casablanca dari mall ini dibangun, tetap menjual gorengan dengan menu yang sama seperti bulan-bulan lain.
"Saya kalah saing sama pedagang gorengan dadakan karena mereka ada sambel, lontong, martabak telur, dan lain-lain. Saya cuma modal cabai rawit saja," ungkapnya.
Pedagang yang telah asam garam kehidupan di perdagangan gorengan ini menambahkan, ia berjualan dari pukul 15.30 WIB sampai 01.00 WIB. Di hari biasa, Irfan menjelaskan bahwa ia menjajakan dagangannya dari pukul 18.00 WIB. "Saya jual gorengan Rp 1000 satunya. Meski kalah saing, saya tetap berjualan disini karena pendapatan stabil," tuturnya.
Di tempat yang sama, bisa ditemui pedagang gorengan lainnya. Juniar, adalah pedagang gorengan yang hanya berjualan disaat bulan puasa. Saat hari normal, perempuan ini mengaku membantu usaha ibunya di rumah makan yang letaknya persis di belakang dagangan gorengannya.
"Saya sudah empat tahun berjualan gorengan disaat bulan puasa saja. Kalau omset, saya kotornya terima Rp 1,1 juta. Terima bersih saya bisa dapat sekitar Rp 500 ribu per hari," beber Juniar.
Ia sendiri, berdagang dari pukul 15.30 WIB sampai 18.30 WIB. Gorengannya, satunya ia jual seharga Rp 2500. "Bulan Ramadan ini berkah mas. Kalau menjelang sebelum Lebaran dan sesudah Lebaran, saya jualan ayam goreng. Soalnya kan tidak ada yang berdagang selama Lebaran," jelasnya.
Perempuan ini mengungkapkan, dari H-10 Lebaran sampai H+10 Lebaran, ia mengambil sekitar 30 ekor ayam untuk dijual per harinya. Mengenai untung, diakui lebih besar.
"Kalau dari ayam goreng, kotornya saya bisa dapat Rp 1,6 juta dan bersihnya jadi Rp 700 sampai Rp 800 ribu. Pendapatan ini kan tergantung saya ambil berapa ekor seharinya," imbuhnya.
Di sore sampai waktu berbuka puasa, lalu lintas di sekitar mall Casablanca macet. Kemacetan bukan disebabkan pedagang tajil, melainkan berhentinya angkutan umum dan ojek online.
Ada berbagai macam pedagang yang menjual makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Mulai dari gorengan, cimol, es kelapa muda, bakso, dan masih banyak lagi.

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Analisis Prediksi Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kans Besar Three Lions Lolos ke Semifinal!
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: Tembok Tebal La Roja Bakal Sulitkan Setan Merah!
Rekor 12 Pertemuan Norwegia vs Inggris: Three Lions Superior, Mampukah Erling Haaland Cs Mematahkan Dominasi?
Sepak Bola Indonesia Berduka, Tokoh Suporter Persebaya Surabaya Andie Peci Meninggal Dunia
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
