Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Juni 2017 | 22.45 WIB

Begini Cara Para Pentashih Mengoreksi Al Quran dari Kesalahan Tulis

TELITI: Dari kiri, Ida Zulfiya, Ahmad Jaeni, Fahrur Rozi, Ahmad Nur Qomari, dan Ahmad Khotib menunjukkan naskah yang mereka tashih - Image

TELITI: Dari kiri, Ida Zulfiya, Ahmad Jaeni, Fahrur Rozi, Ahmad Nur Qomari, dan Ahmad Khotib menunjukkan naskah yang mereka tashih

Setiap Alquran yang terbit di Indonesia harus melalui tim Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kemenag RI. Penemuan Alquran tanpa Surah Al Maidah ayat 51-57 yang menghebohkan hanyalah salah satu kasus.


KHAFIDLUL ULUM, Jakarta


Selain mengoreksi mushaf Alquran biasa, lajnah melakukan tashih terhadap Alquran digital. Sejak 2015, ada beberapa penerbit yang mengajukan tashih. Ada 4 Alquran digital yang sudah ditashih. Saat ini tim pentashih menangani satu naskah digital.


Proses tashih tidak jauh berbeda dengan naskah manual. Penerbit harus menyerahkan bentuk digital dan bentuk print-out. Jadi, pentashih akan meneliti dan mencocokkan versi digital dengan print-out. ”Koreksinya ya di naskah yang print-out,” katanya. Setelah selesai tashih, penerbit diminta memperbaiki sesuai dengan hasil koreksi di print-out.


Dalam melakukan koreksi, pentashih harus teliti dan sangat jeli. Yang paling penting, pentashih tidak boleh sombong atau meremehkan. Jika meremehkan, bisa dipastikan ada saja kesalahan yang luput dari penglihatannya.


Misalnya, ada pentashih yang menganggap naskah yang telah dibaca benar semua. Kalau kalimat itu yang diucapkan, tidak menutupkan kemungkinan masih ada kesalahan yang terlewatkan.


Sikap meremehkan tersebut pernah dilakukan salah seorang penulis mushaf baru. Setelah menulis satu lembar, dia yakin semua sudah benar dan tidak mungkin salah. Dia juga sudah berulang-ulang membaca. Namun, dalam hatinya, ada sikap meremehkan.


Setelah satu lembar itu ditashih, ternyata ada kesalahan yang sangat fatal. Padahal, dia yakin sudah tidak ada kesalahan.


”Satu lembar naskah itu kemudian ditulis ulang. Padahal, biaya untuk menulis satu lembar itu mencapai Rp 5 juta karena tintanya bagus dan mahal,” ungkap alumnus UIN Sunan Kali Jaga Jogjakarta tersebut.


Selain mentashih mushaf untuk orang normal, lajnah mengoreksi Alquran braille. ”Tahun lalu ada dua naskah yang masuk,” timpal Ahmad Jaeni, salah seorang pentashih.


Tidak semua pentashih bisa mengoreksi naskah braille. Di antara 25 pentashih, hanya lima orang yang bisa mentashih. Lima orang itu sudah mengetahui sistem penulisan ayat Alquran dalam bentuk braille. Ada dua yang dilihat, yaitu antara tulisan Arab dan tulisan Braille-nya. Kadang tulisan Arab-nya benar, tapi Braille-nya salah.


Rozi menambahkan, lembaganya menangani cukup banyak naskah Alquran. Dalam setahun, ada sekitar 200 naskah yang ditashih. Jadi, dalam sebulan bisa 10-12 naskah yang ditashih. Proses pentashihanAlqurandilakukan sejak 1957. 


Namun, saat itu belum berbentuk lembaga tersendiri. Jika ada naskah yang perlu ditashih, baru dibentuk tim. Baru pada 2007 dibentuk LPMQ yang di dalamnya terdapat timpentashihyang sekarang beranggota 25 orang.


Selasa (23/5) masyarakat juga dihebohkan penemuan Alquran tanpa Surah Al Maidah ayat 51-57. Alquran itu diterbitkan penerbit Suara Agung Jakarta. Setelah dicek, ternyata surah itu berada di halaman lain. Jadi, ada kesalahan penempatan materi dalam halaman.


Rozi menuturkan, sebenarnya kesalahan tersebut terjadi pada 2015. Saat itu, Suara Agung menerbitkan 400 eksemplar. Setelah dicek, ternyata ada kesalahan pada tata letak halaman.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore