
Ilustrasi juru rawat menunjukan kartu keanggotaan BPJS Kesehatan. (Dok.JawaPos.com)
Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menegaskan bahwa keberadaan bidan mitra menjadi tulang punggung pelayanan primer. “Bidan sebagai jejaring FKTP BPJS Kesehatan memiliki peran besar dalam memperkuat layanan primer, mulai dari pemeriksaan kehamilan hingga persalinan normal, termasuk menjangkau wilayah-wilayah terpencil,” ujarnya, Jumat 19/06.
Ia menjelaskan bahwa dalam kurun 2021–2025, layanan persalinan normal di FKTP tetap menjadi andalan dengan 4,14 juta kasus dan total pembiayaan sekitar Rp3,19 triliun. Namun di sisi lain, pemanfaatan layanan persalinan di rumah sakit juga masih tergolong besar. Data BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa jumlah persalinan caesar secara konsisten berada pada angka tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Pada 2021 tercatat sekitar 1,04 juta kasus persalinan caesar, kemudian meningkat secara bertahap menjadi 1,16 juta pada 2022, sekitar 1,34 juta pada 2023, 1,35 juta pada 2024, hingga mencapai kurang lebih 1,40 juta kasus pada 2025, dengan total pembiayaan selama 5 tahun mencapai lebih dari Rp36,2 triliun,” jelas Rizzky.
Ia menambahkan bahwa tren tersebut menunjukkan pemanfaatan layanan di rumah sakit tetap tinggi, terutama untuk tindakan persalinan caesar, meskipun peningkatannya berlangsung bertahap. Hal ini menjadi salah satu perhatian dalam mendorong optimalisasi layanan persalinan di tingkat primer.
Selain itu, pemanfaatan layanan persalinan di rumah sakit juga tergolong tinggi. Persalinan pervaginam di rumah sakit mencapai ratusan ribu kasus setiap tahun, sementara persalinan caesar tetap mendominasi layanan di tingkat rujukan.
Melihat tren tersebut, Rizzky menekankan pentingnya penguatan peran bidan sebagai solusi.
“Pemanfaatan persalinan di rumah sakit sebenarnya masih dapat ditekan melalui penguatan peran bidan di layanan primer. Jika kasus-kasus persalinan normal dapat ditangani optimal di FKTP, maka rujukan ke rumah sakit bisa lebih selektif dan sesuai indikasi medis,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa ke depan diperlukan evaluasi kebijakan, termasuk dari sisi tarif layanan. “Rasionalisasi tarif ke depan yang akan dievaluasi oleh Kementerian Kesehatan menjadi bagian penting agar layanan persalinan berjalan lebih efektif dan efisien sesuai level pelayanan,” lanjutnya.
Menurut Rizzky, efektivitas pemanfaatan layanan persalinan akan berdampak luas terhadap keberlanjutan Program JKN. “Jika pemanfaatan layanan persalinan sudah efektif, yakni kasus yang bisa diselesaikan di layanan primer tidak perlu naik ke rumah sakit. Dengan demikian secara tidak langsung akan memperkuat Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan serta menjaga kesinambungan Program JKN ke depan,” tegasnya.
Data BPJS Kesehatan hingga 2026 juga menunjukkan besarnya dukungan jaringan layanan oleh bidan, dengan 8.698 praktik bidan jejaring dan 159.379 bidan di fasilitas kesehatan yang bekerja sama.
Bidan Garda Terdepan untuk Pelayanan Berkesinambungan

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
