
Ilustrasi gejala penyakit Difteri
JawaPos.com – Banyak orang tua lupa atau lalai mengenai jadwal imunisasi buah hati mereka. Khususnya untuk mendapatkan vaksinasi menangkal kuman difteri. Jangan sampai, karena anak lupa diimunisasi atau tak lengkap jumlahnya, mereka terancam penyakit mematikan itu di saat dewasa.
Karena itu, Kementerian Kesehatan akan melanjutkan program ORI (outbreak response immunization) tahun ini. Mereka yang bukan pasien difteri, harus dilindungi dengan tambahan suntikan 3 kali walaupun imunisasinya sudah lengkap. Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Soedjatmiko, menjelaskan sebelum masuk sekolah, anak semestinya sudah mendapatkan imunisasi difteri minimal 4 kali.
“Semua orang tua mengatakan imunisasinya lengkap, tapi kalau kita cek ternyata belum. Imunisasi yang lengkap jika sampai umur 2 tahun DPT itu harus 4 kali. Pokoknya divaksin dengan yang ada huruf D nya itu,” tegasnya dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika baru-baru ini.
Orang tua belum memahami jenis vaksin yang diberikan pada anaknya. Misalnya mereka hanya mengetahui vaksin hepatitis, BCG, polio. Jikapun mengetahui soal vaksin DPT, tetapi orang tua belum memahami berapa kali batas minimal anak divaksin.
“Padahal yang mengandung vaksin D-nya harus 4 kali. Sebelum masuk SD harus 4 kali,” jelasnya.
Kemudian saat di sekolah, siswa kelas 1,2,3 mendapat vaksin difteri. Sehingga, sebelum siswa lulus SD mendapat tambahan vaksin tiga kali. Hal itu untuk memutus mata rantai penyebaran kuman difteri agar tak membuat daerah berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Gerakan imunisasi harus luar biasa. Cakupannya harus luas karena penyakit difteri cepat menyebar. Di wilayah dengan kantong-kantong cakupan yang rendah, maka kuman akan cepat tertular,” jelasnya.
Lalu, apakah orang dewasa perlu divaksin? Soedjatmiko menegaskan orang dewasa perlu divaksin minimal 1 kali. Apalagi bagi mereka yang lahir sebelum tahun 1978 di mana usia saat ini adalah 40 tahun.
“Maka dianjurkan 3 kali pemberian sebaiknya secara mandiri. Yakni sekarang, bulan depan dan selanjutnya. Tapi kalau pasien dewasa kontak dengan pasien, imunisasi akan ditanggung gratis,” ujarnya.
Soedjatmiko menegaskan imunisasi wajib diberikan untuk mencegah penularan kuman. Vaksinasi berbeda dengan ASI ataupun obat herbal. Dia juga meminta masyarakat agar tidak mempercayai hoax seputar vaksin.
“Silahkan jika mau dengan herbal dan ASI, tetapi vaksinasi juga sambil berjalan beriringan,” tutupnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
