Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 31 Oktober 2023 | 15.00 WIB

Skrining dan Deteksi Dini Mampu Tingkatkan Angka Kesembuhan Kanker Payudara

kanker 

Ilustrasi deteksi dini kanker payudara untuk mendeteksi benjolan.

JawaPos.com - Terlepas dari banyaknya kampanye edukasi kanker yang telah dilakukan selama lebih dari lima tahun terakhir, saat ini kanker payudara masih menduduki peringkat pertama sebagai kanker terbanyak di Indonesia dengan tingkat kematian yang tinggi (Globocan 2020).

Padahal, tingkat kesembuhan kanker payudara sangat tinggi apabila kanker diketahui sejak dini. Dua strategi terpenting dalam mencegah kematian akibat kanker payudara adalah dengan mendeteksi kanker payudara secara dini dan mendapatkan perawatan kanker yang cepat dan tepat.

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Onkologi dari Mayapada Hospital Surabaya, dr. Nina Irawati, Sp.B(K)Onk-KL menekankan, “Kanker payudara yang terdeteksi secara dini, ketika masih kecil dan belum menyebar, lebih mudah diobati dengan sukses. Melakukan pemeriksaan berkala adalah cara yang paling dapat diandalkan untuk mendeteksi kanker payudara secara dini.

Kanker payudara seringkali ditemukan setelah gejala muncul, tetapi banyak wanita menderita kanker payudara tanpa merasakan gejala di awal. Inilah mengapa pemeriksaan kanker payudara secara rutin begitu penting.”

Apa itu Deteksi Dini dan Pemeriksaan Skrining?
Deteksi dini berarti menemukan dan mendiagnosis penyakit lebih awal bahkan sebelum munculnya gejala. Sedangkan pemeriksaan skrining merujuk kepada tes dan pemeriksaan yang digunakan untuk menemukan penyakit pada seseorang yang tidak memiliki gejala apa pun.

Tujuan dari pemeriksaan skrining khususnya untuk kasus kanker payudara adalah agar sel kanker ditemukan sedini mungkin, sebelum sampai menyebabkan gejala (misalnya gejala seperti benjolan di payudara yang bisa dirasakan).

Kanker payudara yang ditemukan selama pemeriksaan skrining kita harapkan masih berukuran kecil sehingga kecil juga kemungkinannya kanker mengalami penyebaran di luar payudara. Pada tahap skrining dan deteksi dini, ukuran kanker payudara dan sejauh mana sel kanker menyebar menjadi faktor penting untuk memprediksi prospek atau tahap penanganan berikutnya dari seseorang yang terkena kanker payudara.

Pentingnya Deteksi Dini SADARI dan SADANIS
Untuk menemukan kanker payudara pada stadium yang lebih dini, penting bagi kita untuk selalu waspada dan melakukan deteksi dini kanker payudara dengan dua hal, yaitu Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dan Pemeriksaan Payudara secara Klinis (SADANIS).

Jika seseorang menemukan kelainan pada saat melakukan SADARI, penderita dapat memeriksakan diri lebih lanjut ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan SADANIS.
Ditekankan oleh Dokter Francisca Badudu, Spesialis Bedah Konsultan Onkologi dari Mayapada Hospital Bandung, “Perempuan harus peduli untuk secara mandiri mengenali bentuk payudara nya dan harus awas jika ada perubahan yang terlihat maupun terasa dengan SADARI. Walaupun manfaat dari pemeriksaan SADARI terbatas, namun sebaiknya dilakukan sebulan sekali saat hari ke-7 sampai hari ke-10 saat menstruasi, dan jika menemukan perubahan apapun, segeralah konsultasi ke dokter.”

Meskipun American Cancer Society tidak mewajibkan secara rutin pemeriksaan payudara klinis (SADANIS) atau pemeriksaan payudara yang dilakukan oleh tenaga medis, ini tidak berarti bahwa SADANIS tidak boleh dilakukan sama sekali. Dalam beberapa situasi, misalnya untuk para perempuan yang ragu akan perubahan bentuk payudara atau untuk perempuan yang memiliki faktor risiko tinggi, SADANIS dapat dilakukan bersamaan dengan konseling tentang risiko dan pemeriksaan deteksi dini lainnya.

Rekomendasi Pemeriksaan untuk Perempuan Berisiko
Dokter Nina, yang banyak mengikuti program fellowship bedah rekonstruksi untuk kanker di berbagai negara ini menjelaskan, “Menurut American Cancer Society (ACS), ada panduan pemeriksaan untuk dua kelompok wanita, yaitu wanita yang berisiko tinggi terkena kanker dan wanita dengan risiko rata-rata (wanita pada umumnya).”
Berdasarkan panduan ACS, seorang wanita dianggap memiliki risiko rata-rata jika dia tidak memiliki riwayat pribadi kanker payudara, riwayat keluarga kanker payudara, atau mutasi genetik yang diketahui meningkatkan risiko kanker payudara, dan belum pernah menjalani terapi radiasi dada sebelum usia 30 tahun.

Dokter Nina memberikan rekomendasi frekuensi pemeriksaan dini untuk para Perempuan sesuai ACS. Ia mengungkapkan, “Perempuan berusia 40 sampai 44 tahun boleh memulai pemeriksaan mammogram secara berkala setiap tahun. Sedangkan perempuan berusia 45 sampai 54 tahun, direkomendasikan rutin mammogram setiap tahunnya. Kemudian bagi perempuan berusia 55 tahun ke atas, dapat melakukan mammogram setiap tahun atau dua tahun sekali. Pada intinya, dalam kondisi yang sehat, pemeriksaan mammogram ini diharapkan terus berlanjut dan dilakukan secara rutin bagi para perempuan.”

Perempuan yang memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara sebaiknya menjalani mammogram dan MRI setiap tahun. Pemeriksaan ini bisa dilakukan untuk perempuan yang berusia mulai dari 30 tahun dengan beberapa faktor risiko seperti memiliki riwayat keluarga kanker payudara, misalkan ibu atau neneknya, dan mempunyai mutasi gen BRCA1 atau BRCA2 berdasarkan hasil tes genetik yang mungkin sudah pernah dilakukan, serta pernah menjalani terapi radiasi di area dada saat berusia antara 10 dan 30 tahun.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore