
ILUSTRASI
PADA masa lalu, bulan puasa atau Ramadan mendapat beragam makna. Ibadah menjadi pokok meski memunculkan peristiwa-peristiwa imbuhan dalam kegembiraan. Kita masuk ke biografi Lantip, bocah yang diceritakan Umar Kayam dalam novel berjudul Para Priyayi (1992). Lantip di sekolah merasakan girang belajar dan bergaul bersama teman-teman.
Ia mengisahkan: ”Pada tiap hari menjelang liburan besar puasa dan kenaikan kelas, sekolah selalu membuat perayaan. Masing-masing kelas diperintahkan untuk menghiasi kelas kami masing-masing dengan tumbuh-tumbuhan, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang didapat di kebun sekolah.” Kita berimajinasi bocah-bocah girang dan terlibat dalam pemaknaan berkaitan dengan puasa.
Pendidikan dan puasa tema panjang dalam kesejarahan Indonesia. Debat pernah berkepanjangan: libur atau masuk. Murid-murid mengalami beragam kebijakan pemerintah dalam mengartikan Ramadan di rumah dan kampung atau berkutat di sekolah. Debat berpijak argumentasi dan bantahan. Debat itu menambahi keseruan saat orang-orang sering berbeda dalam penentuan awal Ramadan.
Di sepucuk surat bertanggal 14 April 1897, Snouck Hurgronje menulis: ”Berkaitan dengan ini, tidak usah heran jika di negeri ini pun hampir setiap tahun timbul perbedaan setempat mengenai awal dan akhir puasa, bahkan terkadang terjadi antara kampung-kampung yang berdekatan… Di Aceh, sejak zaman dahulu berlaku kebiasaan untuk merayakan pesta-pesta rakyat di ibu kota, 2–3 hari sebelum puasa.” Intelektual Belanda itu memberi hasil pengamatan saat berperan sebagai penasihat dalam urusan agama di Nusantara.
Snouck Hurgronje ikut memasalahkan liburan. Kita membaca keterangan dalam surat bertanggal 23 Oktober 1923: ”Jika dalam menilai masalah puasa orang menempatkan diri pada pendirian yang lugas sepenuhnya, maka nyaris tidak mungkin ada perbedaan pendapat mengenai perlunya penghapusan liburan itu pada semua sekolah, yang muridnya mungkin berkepentingan untuk meneruskan pelajaran mereka pada lembaga-lembaga pengajaran Eropa. Pernyataan dengan demikian penunaian kewajiban ibadah akan mengalami hambatan, saya rasa merupakan keberatan yang dicari-cari. Kebanyakan di antara pelajar yang dipersoalkan di sini tidak bisa berpuasa.” Surat-surat itu mengungkapkan pemaknaan puasa berlatar masa kolonial, memiliki lanjutan-lanjutan debat sampai sekarang.
Snouck Hurgronje memberi nasihat-nasihat kepada pemerintah kolonial Belanda. Nasihat penting saat bertumbuh gerakan dakwah dan Islam-politik di tanah jajahan. Nasihat demi kepentingan kolonial ketimbang kebaikan-kebaikan bagi bumiputra. Kita tinggalkan nasihat cap kolonial berganti nasihat berkaitan dengan lakon manusia dan religiusitas. Di Rembang, 1413 Hijriah, A. Mustofa Bisri (Gus Mus) menggubah puisi berjudul Nasihat Ramadan Buat A. Mustofa Bisri. Ia sedang melakukan monolog, tapi kita terlibat dan merasa dinasihati.
Kita mengutip: Mustofa,/ Jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan/ Ramadan bulan ampunan apakah hanya menirukan Nabi/ atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang/ menggerakkan lidahmu begitu. Nasihat itu gamblang. Nasihat menuntut jawaban dan amalan. Gus Mus melanjutkan: Mustofa,/ Bukan perut yang lapar bukan tenggorokan yang kering yang/ mengingatkan kedhaifan dan melembutkan rasa./ Perut yang kosong dan tenggorokan yang kering ternyata/ hanya penunggu/ atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa./ Barangkali lebih sabar sedikit dari mata tangan kaki dan/ kelamin, lebih tahan/ sedikit berpuasa tapi hanya kau yang tahu/ hasrat dikekang untuk apa dan siapa.
Kita meragu jika puisi berhasil dibacakan sebagai pengganti kultum biasa dilaksanakan di masjid-masjid setiap Ramadan saat malam. Jemaah meningkatkan ibadah, tapi mengerti peningkatan pengajian atau khotbah kadang menjemukan. Mereka dalam situasi tak keruan untuk mendengar dan mengartikan saat sekian perkara repetitif dan berakhir klise. Puisi mungkin bisa menjadi selingan. Puisi itu digubah ahli agama. Puisi mengandung nasihat: bergerak dari pribadi berlanjut jemaah. Diri selama bulan puasa bersama puisi-puisi mungkin mengantar ke pemaknaan berlapis, dari lapar sampai ketuhanan.
Kita bisa menambah daftar nasihat dengan membaca puisi berjudul Ragi yang digubah Emha Ainun Nadjib (1986). Puisi cukup singkat penuh nasihat. Emha mengingatkan: kalau berpuasa untuk menghayati kemiskinan/ maka ramadan itu milik orang kaya/ sebab apakah orang melarat berpuasa/ dengan menikmati kekayaan selama sebulan// berpuasa ialah memeras jasad/ melembut jadi ragi ruhani/ sebab pemahaman terhadap ilmu akhirat/ ialah menahan diri terhadap yang tak abadi. Kita merasakan arah dan nuansa nasihat berbeda dari sajian Gus Mus. Kita bertambah pengertian mengenai puasa melalui puisi, bukan khotbah-khotbah. Puisi sebagai bacaan. Puisi bisa pula disimak berbarengan dengan pembacaan.
Pada masa lalu, Ramadan diperdebatkan dan dijelaskan melalui surat-surat. Kita mengetahui puasa itu ibadah istimewa bagi Snouck Hurgronje menentukan nasib tanah jajahan. Ia memberi nasihat-nasihat, bukan puisi. Pada masa berbeda, kebijakan-kebijakan pemerintah biasa menimbulkan polemik berkaitan dengan agama, politik, dan pendidikan. Ramadan memang memuat rapat, khotbah, pengumuman, dan lain-lain.
Kita sempat mengingat sejarah, tapi bertambah mengerti saat bertemu puisi-puisi. Sajian dari Gus Mus dan Emha membekali kita agar puasa itu puisi. Kita bergerak dan merenung melalui puisi. Di situ, nasihat-nasihat disampaikan dengan kegamblangan atau metafora. Di hadapan puisi, kita kadang menjadi pembaca serius ketimbang mengantuk dan tertidur saat khotbah-khotbah.
Di akhir, kita mengutip sebait dari Emha: berpuasa itu membatasi benda/ berpuasa itu mengkritik kenyataan dusta/ berpuasa itu menyaring kemegahan/ berpuasa itu mempertanyakan kemajuan. Pada abad XXI, larik-larik itu masih terpahami meski situasi berpuasa kita makin berubah. Kita menantikan puisi-puisi (baru) tak melulu nasihat, tapi memberi sengatan dalam pemaknaan di zaman (makin) amburadul. Begitu. (*)
BANDUNG MAWARDI, Pedagang buku bekas

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Jadwal Piala AFF U-17 Timnas Indonesia U-17 vs Timor Leste, Siaran Langsung, dan Daftar Skuad Garuda Muda
Bupati Gresik Gus Yani Buka Suara soal Kasus SK ASN Palsu, Korban Rugi hingga Rp 150 Juta
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
