Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 Juli 2023 | 18.36 WIB

Politik Sebatang Pohon Soekarno di Padang Arafah

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Diplomasi sebatang pohon intaran di Arafah, oleh karena itu, adalah simbol dari suluh menjaga api ekologi. Seperti intaran yang bisa berumur 200 tahun dan batang berdiameter 2 meter, sepanjang itu juga waktu dari suluh api ekologi itu dijaga.

Di bawah naungan intaran itulah, prajurit tauhid –ini istilah sosiolog Iran Ali Syariati– mengumpulkan logistik untuk berperang melawan tiga berhala perusak bumi, tiga karakter yang menjadi musuh kemanusiaan: ula, wushtah, aqabah.

Trinitas itu tidak berdiri sendiri, tetapi bekerja sama. Ali Syariati menyebut ketiganya adalah perlambangan Balam (ilmuwan/legitimator moral), Karun (oligarki), Firaun (penguasa despotik).

Di bawah naungan intaran di Padang Arafah, seperti kita saksikan di bulan Juni/haji tahun ini, laskar tauhid dari semua bangsa berjibaku mengambil peran dalam perang penyelamatan ekologis.

Jika intaran dimaknai sebagai pohon hayat, sebagai keberlanjutan dan peneduh kehidupan, tiga berhala di Mina berada di posisi sebaliknya: perusak dan pembunuh pohon-pohon.

Pesan dari politik pohon Soekarno itu jelas, betapa pentingnya pohon bagi sebuah bangsa, betapa signifikannya hutan raya bagi sebuah negeri seperti Indonesia yang berada di sabuk khatulistiwa ini.

Pohon juga adalah inspirasi bagi akar keindonesiaan kita. Tanyalah Soekarno, dari mana asas kenegaraan bernama Pancasila ia rengkuh? Jawabnya, di bawah pohon sukun di mana ia mengaso berjam-jam sambil menyaksikan hamparan laut biru Nusa Tenggara.

Jika persatuan nasional adalah azimat bangsa, dari mana Soekarno meletakkan metafora beringin kalau bukan dari kisah waringin sungsang yang terkenal dalam kisah leluhur. Ilmu pemungkas di mana akar beringin menghadap terbalik dari mana energi hidup bumi bermuasal.

Kecintaan kepada pohon yang besar (beringin) dan pohon yang berumur panjang (intaran) kemudian menginsafi kita mengapa Soekarno menuliskan wasiat: aku mendambakan bernaung di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus.

Pohon, oleh karena itu, bukan sekadar syajarah, sejarah, narasi. ”Syajarah Soekarno”, demikian nama yang diberikan Raja Saud atas mimba atau intaran.

Menurut saya, ”pohon Soekarno” adalah sumbangan Soekarno terpenting dan nubuat politik ekologi berkelanjutan untuk mengikat persahabatan di Tanah Haram.

Labbaik Allahumma labbaik. Itu. (*)

MUHIDIN M. DAHLAN, Penulis dan dokumentator partikelir di @warungarsip

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore