
ILUSTRASI
Diplomasi sebatang pohon intaran di Arafah, oleh karena itu, adalah simbol dari suluh menjaga api ekologi. Seperti intaran yang bisa berumur 200 tahun dan batang berdiameter 2 meter, sepanjang itu juga waktu dari suluh api ekologi itu dijaga.
Di bawah naungan intaran itulah, prajurit tauhid –ini istilah sosiolog Iran Ali Syariati– mengumpulkan logistik untuk berperang melawan tiga berhala perusak bumi, tiga karakter yang menjadi musuh kemanusiaan: ula, wushtah, aqabah.
Trinitas itu tidak berdiri sendiri, tetapi bekerja sama. Ali Syariati menyebut ketiganya adalah perlambangan Balam (ilmuwan/legitimator moral), Karun (oligarki), Firaun (penguasa despotik).
Di bawah naungan intaran di Padang Arafah, seperti kita saksikan di bulan Juni/haji tahun ini, laskar tauhid dari semua bangsa berjibaku mengambil peran dalam perang penyelamatan ekologis.
Jika intaran dimaknai sebagai pohon hayat, sebagai keberlanjutan dan peneduh kehidupan, tiga berhala di Mina berada di posisi sebaliknya: perusak dan pembunuh pohon-pohon.
Pesan dari politik pohon Soekarno itu jelas, betapa pentingnya pohon bagi sebuah bangsa, betapa signifikannya hutan raya bagi sebuah negeri seperti Indonesia yang berada di sabuk khatulistiwa ini.
Pohon juga adalah inspirasi bagi akar keindonesiaan kita. Tanyalah Soekarno, dari mana asas kenegaraan bernama Pancasila ia rengkuh? Jawabnya, di bawah pohon sukun di mana ia mengaso berjam-jam sambil menyaksikan hamparan laut biru Nusa Tenggara.
Jika persatuan nasional adalah azimat bangsa, dari mana Soekarno meletakkan metafora beringin kalau bukan dari kisah waringin sungsang yang terkenal dalam kisah leluhur. Ilmu pemungkas di mana akar beringin menghadap terbalik dari mana energi hidup bumi bermuasal.
Kecintaan kepada pohon yang besar (beringin) dan pohon yang berumur panjang (intaran) kemudian menginsafi kita mengapa Soekarno menuliskan wasiat: aku mendambakan bernaung di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus.
Pohon, oleh karena itu, bukan sekadar syajarah, sejarah, narasi. ”Syajarah Soekarno”, demikian nama yang diberikan Raja Saud atas mimba atau intaran.
Menurut saya, ”pohon Soekarno” adalah sumbangan Soekarno terpenting dan nubuat politik ekologi berkelanjutan untuk mengikat persahabatan di Tanah Haram.
Labbaik Allahumma labbaik. Itu. (*)
MUHIDIN M. DAHLAN, Penulis dan dokumentator partikelir di @warungarsip

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
