
ILUSTRASI
Barangkali karena konsep ”puncak-puncak kebudayaan daerah” ini juga, sadar atau tidak, kita menemukan ada semacam upaya pemeringkatan mana daerah yang lebih dan mana yang kurang berbudaya. Seperti dicatat oleh Marije Plomp, pengarang Sunda Aoh K. Hadimadja, setelah masa kerjanya di Medan, pernah menyimpulkan bahwa Sumatera tak memiliki kebudayaan yang cukup bernilai untuk disumbangkan kepada kebudayaan nasional.
***
Kebudayaan, sebagai manusia yang menghasilkannya, akan terus berubah. Menuliskannya di buku ajar, membuat murid-murid sekolah terpaksa menghafalnya, dan terus menanyakannya untuk menuntut jawaban yang sama, tak akan membuat suatu kebudayaan bertahan. Kebudayaan ada dan berkembang karena ia terus hidup. Kebudayaan yang mati bukan lagi kebudayaan. Dan kebudayaan yang mati akan digantikan kebudayaan baru. Apakah ia baik, tinggi, atau adiluhung, atau justru dekaden dan mundur, hanya waktu yang menjadi penentu.
Merangkum kebudayaan hanya sebagai hafalan, atau gambar yang beku seperti di kotak-kotak korek api, bukan hanya mengebiri kebudayaan yang terus berubah, melainkan juga mengabaikan kompleksitas dinamikanya. Terus-menerus menyebut bahwa rumah berbentuk limasan adalah rumah khas suku Jawa, tanpa mengingat bahwa di masa kini ia kebanyakan identik dengan rumah makan (sok) etnik yang biasanya mahal, dan barangkali hanya jadi klangenan orang-orang kota yang mungkin sudah tak becus lagi bicara Jawa, adalah menipu diri. Mengglorifikasi baju kebaya sebagai asli dan mencibir kerudung atau jilbab sebagai asing, tanpa memikirkan konteks sosial-ekonomi yang membentuknya, adalah sikap arogan. Memuja gamelan yang dimainkan di pusat-pusat kekuasaan lama di Solo atau Jogja sebagai adiluhung, dan sama sekali tak tahu tentang musik kasidah di Semarang yang dinamis dan hidup, adalah bebal.
Barangkali tanpa disengaja, pabrik korek api dengan gambar pakaian dan rumah adat di kotaknya memberi kita metafora. Sebagaimana kebanyakan ”kebudayaan nasional” kita, kotak korek api hanyalah bungkus. Ia tak menyala sebagaimana batang koreknya. Belakangan, jika Anda mau sedikit melacaknya di internet, ia sudah dijual sebagai barang koleksi. (*)
---
MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
