Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Mei 2023 | 14.00 WIB

Kebudayaan ala Kotak Korek Api

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Barangkali karena konsep ”puncak-puncak kebudayaan daerah” ini juga, sadar atau tidak, kita menemukan ada semacam upaya pemeringkatan mana daerah yang lebih dan mana yang kurang berbudaya. Seperti dicatat oleh Marije Plomp, pengarang Sunda Aoh K. Hadimadja, setelah masa kerjanya di Medan, pernah menyimpulkan bahwa Sumatera tak memiliki kebudayaan yang cukup bernilai untuk disumbangkan kepada kebudayaan nasional.

***

Kebudayaan, sebagai manusia yang menghasilkannya, akan terus berubah. Menuliskannya di buku ajar, membuat murid-murid sekolah terpaksa menghafalnya, dan terus menanyakannya untuk menuntut jawaban yang sama, tak akan membuat suatu kebudayaan bertahan. Kebudayaan ada dan berkembang karena ia terus hidup. Kebudayaan yang mati bukan lagi kebudayaan. Dan kebudayaan yang mati akan digantikan kebudayaan baru. Apakah ia baik, tinggi, atau adiluhung, atau justru dekaden dan mundur, hanya waktu yang menjadi penentu.

Merangkum kebudayaan hanya sebagai hafalan, atau gambar yang beku seperti di kotak-kotak korek api, bukan hanya mengebiri kebudayaan yang terus berubah, melainkan juga mengabaikan kompleksitas dinamikanya. Terus-menerus menyebut bahwa rumah berbentuk limasan adalah rumah khas suku Jawa, tanpa mengingat bahwa di masa kini ia kebanyakan identik dengan rumah makan (sok) etnik yang biasanya mahal, dan barangkali hanya jadi klangenan orang-orang kota yang mungkin sudah tak becus lagi bicara Jawa, adalah menipu diri. Mengglorifikasi baju kebaya sebagai asli dan mencibir kerudung atau jilbab sebagai asing, tanpa memikirkan konteks sosial-ekonomi yang membentuknya, adalah sikap arogan. Memuja gamelan yang dimainkan di pusat-pusat kekuasaan lama di Solo atau Jogja sebagai adiluhung, dan sama sekali tak tahu tentang musik kasidah di Semarang yang dinamis dan hidup, adalah bebal.

Barangkali tanpa disengaja, pabrik korek api dengan gambar pakaian dan rumah adat di kotaknya memberi kita metafora. Sebagaimana kebanyakan ”kebudayaan nasional” kita, kotak korek api hanyalah bungkus. Ia tak menyala sebagaimana batang koreknya. Belakangan, jika Anda mau sedikit melacaknya di internet, ia sudah dijual sebagai barang koleksi. (*)

---

MAHFUD IKHWAN, Penulis asal Lamongan

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore