Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Februari 2021 | 01.28 WIB

Science Fiction dan Fantasi

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Silakan bayangkan, ketika pada akhir abad ke-19, BBC, radio yang paling canggih pada waktu itu, memancarkan siaran langsung mengenai makhluk-makhluk ajaib dari ruang angkasa, menyerbu bumi, dengan heat ray weapons, senjata supercanggih yang tidak pernah disaksikan oleh manusia.

---

JERIT-JERIT keputusasaan terjadi di mana-mana, darah berceceran di mana-mana, mayat pun bergelimpangan di mana-mana. Sekian banyak pendengar radio terketar-ketar, rasa ketakutan menyebar dengan cepat, dan mereka yakin bahwa setiap detik ada kemungkinan makhluk-makhluk ajaib itu menerobos rumah mereka.

Setelah siaran langsung usai, dan BBC mengumumkan bahwa siaran itu yang mereka dengarkan sebelumnya hanyalah fiksi belaka, barulah mereka merasa lega. Siaran itu didasarkan pada sebuah novel karya H.G. Wells, pengarang novel War of the Worlds (Perang Antardunia, 1898).

Dua tahun sebelumnya, dunia juga dibius oleh novel H.G. Wells, Time Machine (Mesin Waktu). Silakan masuk ke mesin waktu, duduklah, lalu pencetlah ’’masa lalu’’ atau ’’masa depan’’. Sesudah pencet ’’masa depan’’, pencetlah, misalnya saja, 100 tahun yang akan datang. Maka, mesin pun menunjukkan hari-hari yang akan datang dengan sangat cepat, dan setelah mencapai angka 100 tahun, otomatis mesin berhenti. Seketika terbentanglah apa yang akan terjadi 100 tahun ke depan. Kalau ingin melihat masa lalu, katakanlah 75 tahun yang lalu, klik tombol masa lalu, masukkan angka 75 tahun.

Dua novel itu hanyalah fiksi. Tidak ada dalam kehidupan nyata. Fiksi ini dilandasi oleh teknologi, dan teknologi adalah sains. Dari situ muncullah istilah ’’science fiction’’. Sebelum H.G. Wells sebetulnya ada pengarang science fiction juga, yaitu Mary Shelley, novelis Frankenstein (1818), kisah seorang dokter cerdas dan ambisius bernama Frankenstein. Dia ingin menghidupkan kembali mayat yang masih utuh, tapi kesulitan. Keluarga almarhum pasti tidak mengizinkan. Akhirnya dia menemukan mayat yang sudah rusak dan tidak diketahui asal usulnya, dan berhasillah usahanya. Maka, muncullah manusia baru yang tubuhnya sudah rusak dan penampilannya sangat menakutkan.

Sebagaimana manusia pada umumnya, juga memerlukan makan dan minum, teman, dan mencintai dan dicintai. Tapi, karena semua orang takut, dia tidak hanya dijauhi, tapi juga disiksa. Derita demi derita dialami, sampai akhirnya dia menjadi monster berbahaya untuk melampiaskan balas dendamnya. Siapa yang bertanggung jawab? Dokter Frankenstein, maka, monster ini pun diberi nama Frankenstein.

Di sini ada teknologi, dan karena itu novel ini layak juga dikategorikan sebagai science fiction. Tapi, tidak seperti H.G. Wells yang semata-mata berangkat dari teknologi, Mary Shelley berangkat dari mitologi Yunani Kuno mengenai makhluk setengah dewa, Prometheus, yang dihukum mati dengan sangat keji dihidupkan kembali dan dibikin mati lagi oleh para dewata. Karena itulah, judul lengkap novel ini Frankenstein the Modern Prometheus.

Sekarang cobalah tengok sebuah cerita pendek pengarang D.H. Lawrence, judulnya ’’The Rocking Horse Winner’’, mengenai seorang tukang kebun yang selalu mengamat-amati anak juragannya, Paul namanya. Paul mempunyai mainan kuda-kudaan terbuat dari kayu, dan kesenangan Paul adalah main kuda-kudaan. Mula-mula kuda-kudaan itu digoyang perlahan-lahan, lalu makin lama makin kencang. Sesudah kuda-kudaan bergoyang-goyang dengan kencang, tanpa sadar Paul selalu meneriakkan satu nama. Ternyata nama itu adalah nama kuda yang akan menang dalam lomba pacuan kuda. Mulailah tukang kebun dan Paul berjudi. Setiap ada lomba balap kuda, mereka selalu menang taruhan.

Titik berat cerpen ini adalah intuisi, dan tidak menyangkut teknologi, dan karena itu genre cerpen ini adalah fantasi, bukan science fiction. Tapi, dalam perkembangannya fantasi dan science fiction bisa tumpang-tindih. Spider-Man, misalnya, dilandasi oleh kemampuan meloncat dari satu pencakar langit ke pencakar langit, tanpa dilengkapi oleh teknologi. Tetapi, kemudian dia berhadapan dengan berbagai musuh yang mengandalkan teknologi untuk melawan Spider- Man, dan membunuh musuh-musuh lain. Karena itulah, science fiction dan fantasi tumpang-tindih.

Sementara filsuf Sir Thomas More mengharapkan masa depan akan penuh dengan kemudahan dan kesejahteraan dalam karyanya, Utopia (1516), science fiction lebih banyak kemurungan di masa depan melihat ke depan. Dan inilah distopia kebalikan dari utopia. Teknologi di masa depan tidak hanya menciptakan kenyamanan, tapi sebaliknya juga menciptakan ancaman akan kehancuran global. Dan pengarang yang benar-benar mencemaskan hasil negatif teknologi adalah Aldous Huxley dalam novel The Brave New World (1932) dengan setting futuristis. Sekarang kita sudah mengenal artificial intelligence, dan semua itu secara instingtif sudah ditebak oleh Huxley.

Dengan adanya liberalisasi pendidikan, perempuan mampu masuk ke banyak dunia kreativitas, dan karena itu lahirlah perempuan-perempuan pengarang science fiction dan fantasi. Teknologi dalam novel-novel mereka, misalnya novel Suzanne Collins The Hunger Games, tidak mencolok karena sifatnya hanyalah pengembangan teknologi yang sudah ada sebelumnya. Panah ajaib andalan tokoh sentralnya, pada hakikatnya, bukan senjata baru. Jagoan-jagoan dari sekian banyak distrik dia kalahkan bukan dengan panah ajaibnya, tapi karena kecerdikannya dalam bertarung. Dan yang paling mencolok adalah kemampuan dia untuk merekrut anak-anak muda dalam revolusi melawan tiran Snow. Karena itulah, kalau novel Suzanne Collins dianggap sebagai science fiction tidak seluruhnya benar, dan dianggap sebagai fantasi juga tidak seluruhnya benar. Ada tumpang-tindih, dan karena itulah novel ini dikategorikan sebagai science fiction/fantasi.

Selaras dengan liberalisasi pendidikan, para pengarang ini, dengan sendirinya, juga memunculkan jagoan-jagoan perempuan. Liberalisasi pendidikan menampilkan perempuan sebagai tokoh hebat, yang mampu menjadikan laki-laki warga kelas dua. Dan inilah yang mendominasi pengarang-pengarang perempuan, antara lain Le Guin, Veronica Roth, Veronica Rossi, dan Suzanne Collins sendiri. Dari tangan mereka, merebaklah genre science fiction/fantasi. (*)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=Gq-9b_Uubhc

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore