Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 September 2024 | 14.34 WIB

Kerala dan Sinema Orang Biasa

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Jika kita lepas peta Kerala dari keseluruhan wilayah India, kita akan temukan Sumatera kecil di sana. Sangat mirip, entah kenapa. Tapi, percayalah, beberapa hal dari Kerala yang akrab dengan kita tak berhenti sampai situ saja.

Pesisir Malabar dan Kota Kalikut (Calicut/Kozhikode) adalah dua tempat menonjol di Kerala sekaligus tak asing dalam sejarah Indonesia. Para penjelajah Arab, China, dan Eropa yang pernah singgah di bandar-bandar Nusantara pasti akan menyebut tempat itu juga.

Kerala juga satu-satunya tempat di wilayah India modern yang punya sejarah dengan kolonialis Belanda, sebagaimana kita. Baron van Imhoff, gubernur jenderal Hindia 1743–1750, pernah direpotkan urusan VOC di Malabar saat ia masih menjadi gubernur Seylon.

Kerala memutuskan memisahkan diri dari Negara Bagian Madras (Tamil Nadu) dan menjadi negara bagian sendiri pada 1956. Orang-orang Kerala membedakan diri dari orang Madras karena bahasa yang mereka tuturkan. Orang Madras berbahasa Tamil, sementara mereka berbahasa Malayalam.

Bahasa Malayalam dituturkan oleh sekitar 37 juta orang. Sebagaimana Tamil dan bahasa-bahasa lain di sisi selatan India, Malayalam diturunkan dari bahasa Dravidian, bahasanya bangsa Dravida. Malayalam adalah salah satu bahasa paling tua di India. Ia tak pernah mati selama 2.500 tahun.

Saya tak tahu bagaimana menjelaskan keterkaitannya (apakah lewat kitab-kitab keagamaan atau lewat penutur yang bermigrasi), tapi saya menjumpai beberapa kata dari bahasa ini ada pada bahasa kita. Saat orang Kerala mengatakan acar, appam, dan puttu, yang mereka maksudkan memang ”acar”, ”apam” (atau apem), dan (kue) ”putu” sebagaimana yang kita tahu.

Saya yakin, jika menelisik lebih jauh, kesamaan kita dengan mereka tak akan terbatas di tiga kata itu. Dan kita akan temukan kesamaan yang tak hanya terbatas kata jika lebih banyak menonton produk sinema yang mereka hasilkan: sinema (berbahasa) Malayalam. 


***

Kerala punya demografi keagamaan yang berbeda dengan kebanyakan wilayah India. Tetap didominasi Hindu, namun minoritas muslim dan Kristen yang besar menciptakan semacam kultur harmoni yang khas.

Meski memiliki sistem kasta yang lebih rumit dibanding wilayah lain India, beberapa kelompok di Kerala (Hindu maupun muslim) menganut matrilineal. Sistem ini memungkinkan perempuan Kerala punya kedudukan lebih istimewa dibanding kebanyakan perempuan di India. Sejak masa kolonial, angka keterdidikan perempuan Kerala jauh melebihi wilayah India lainnya.

Pemberontakan Malabar pada 1921–1922 adalah salah satu perlawanan paling keras sekaligus paling berdarah terhadap Inggris dan kelompok tuan tanah Hindu berkasta tinggi. Pemberontakan ini memang didorong motif Pan-Islamisme, namun semangat antikolonial, perjuangan kelas petani dan buruh, menjadi lahan subur bagi tumbuhnya ideologi kiri. Komunisme mulai menguat di wilayah ini sejak 1930-an dan menjadi kekuatan politik paling dominan di Kerala hingga kini.

Demografi, sistem sosial, juga corak ideologi ini membentuk corak sinema yang mereka produksi. Ketika perfilman Hindi dan Tamil memulai produksi sinemanya dengan film-film mitologis dari kitab suci maupun dari dongeng-dongeng kepahlawanan, sinema Malayalam langsung memulainya dengan film bertema sosial. Balan (1938), film bicara pertama yang berbahasa Malayalam, berkisah perjuangan dua anak yatim.

Film yang realis, tidak mengawang-awang, kemudian menjadi semacam cap dagang bagi sinema Malayalam. Ketika parallel cinema (gerakan alternatif bagi industri film yang dianggap terlalu komersial) merebak di India pada dekade ’50-an, sinema Malayalam adalah salah satu bagian pentingnya. Hingga ’70-an, para sineas paralel seperti Adoor Gopalakrishnan dan John Abraham mewakili citra sinema Malayalam secara keseluruhan.

Perubahan terjadi pada awal ’80-an dengan munculnya dua jagoan berkumis, Mammootty dan Mohanlal. Meski masih mempertahankan corak sinema yang relatif sama, sistem bintang membawa sinema Malayalam mendekati kecenderungan film India pada umumnya, yang lebih komersial dan massal.

***

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore