Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Juni 2024 | 15.46 WIB

Memaknai Arsip Hidup Tugu Pahlawan

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Oleh: KUKUH YUDHA KARNANTA

”Jang mulia minta dengan sangat supaja Tugu tersebut harus dibuka officieel tl.10 November 1952 dan kedua supaja dalam pembukaan resmi itu P.J.M Presiden diundang untuk membukanja sedang saja harus djuga diundang sebagai initiatiefnemer.”

KALIMAT dalam sepucuk kertas yang menguning karena usia itu ditulis oleh Doel Arnowo kepada Wali Kota Moestadjab pada 17 Maret 1952. Kalimat itu hanya satu di antara sekian pernyataan dan informasi dalam sebundel dokumen bernama Arsip Pembangunan Tugu Pahlawan. Tujuh puluh dua tahun setelahnya, tepatnya pada momen perayaan Hari Arsip Nasional 2024 bulan lalu, puluhan dokumen, gambar teknik, dan citra fotografis koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya itu resmi ditetapkan sebagai memori kolektif bangsa (MKB) oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Apa sebenarnya makna dan pelajaran yang terpetik dari penetapan itu?

Kolektivitas

Bahwa Tugu Pahlawan dibangun sebagai penanda peristiwa heroik pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, hal itu umum diketahui. Namun, fakta bahwa proses pembangunan Tugu Pahlawan ternyata tak kalah ”heroik” dan nekat, boleh jadi hal tersebut belum banyak diketahui publik. Hal itulah salah satu yang melatarbelakangi Dispusip Surabaya mengajukan Arsip Pembangunan Tugu Pahlawan sebagai MKB.

Menyimak lembar demi lembar, ”kenekatan” itu terbaca jelas: hingga 2 Agustus 1952, tiga bulan sebelum tenggat peresmian, baru terkumpul Rp 160 ribu dari total Rp 323.100 dana yang dibutuhkan. Sementara dari ibu kota, hasrat meresmikan tugu setinggi 45 yard berbentuk paku terbalik di reruntuhan eks gedung Raad van Justitie dan kempetai itu terus menggelora.

Berbagai upaya penghimpunan dana terus dilakukan. Di antaranya, upaya Wali Kota Moestadjab memperoleh dana via penyelenggaraan undian kupon sumbangan berhadiah rumah. Juga sumbangan swadaya dari lembaga maupun perseorangan seperti N.V. Sedia, Rahaju, Ganesha, Usaha Kita, Pa. Radjab, Cah Kok Tee, Liem Tiong Gwan, dan Sie Swie Giok. Klub sepak bola Persibaja (Persebaya) tercatat menyumbang sebesar Rp 4.428,60. Seluruh dokumen, baik berbahasa Indonesia ejaan republik maupun bahasa Belanda, merekam jelas kolektivitas arek-arek Suroboyo di fase penting itu.

Dalam penelusurannya, sejarawan Purnawan Basundoro dan Sarkawi Husain dari FIB Unair menemukan catatan, panitia pembangunan juga mengumpulkan dana publik melalui program ”Dompet Tugu Pahlawan” lewat surat kabar. Toko Mataliti Tundjungan, Hadji A. Karim, serta Roeslan Abdulgani, tokoh intelektual-pejuang asli Plampitan Surabaya, tercatat rutin menyisihkan gajinya demi pembangunan Tugu Pahlawan. Dalam waktu efektif kurang dari lima bulan, tugu yang dibangun dari 31.800 bata merah, 170 m³ beton kricak, 530 m³ pasir, dan 2.408 karung semen itu diresmikan tepat pada 10 November 1952.

Dalam pidato peresmian berjudul Selesaikan Jang Ketjil, Hadapi Jang Besar, Soekarno berpesan: ”Kalau nanti segala sesuatu sekeliling tugu itu telah berganti rupa dan keadaan… djalan kereta api atau gedung-gedung, puhun-puhun atau lorong-lorong telah lain, lain sama sekali dari sekarang, moga-moga tugu itu masih tetap berdiri menjulang ke langit, laksana ia tiap-tiap hari dan tiap-tiap detik mengatakan: di sini, di sinilah dulu pahlawan-pahlawan revolusi Indonesia memulai mengamalkan kepahlawanannya guna membela kehormatan tanah-air dan Negara. Tjontohlah, tirulah kepahlawanan mereka itu!”

Militansi dan semangat gotong royong masyarakat lintas etnis, agama, dan profesi yang terekam dalam arsip-arsip tersebut telah menginspirasi berbagai kajian dan publikasi hingga kini. Namun, bukan hanya dalam ranah akademik arsip-arsip tersebut bermakna. Arsip Pembangunan Tugu Pahlawan menemukan signifikansi maknanya justru karena ia tidak sekadar dipelajari, tapi juga ”dihidupkan” melalui serangkaian praktik kreatif berkelanjutan.

Arsip Hidup

Dalam artikel Living Archives and the Social Transmission of Memory, Sabiescu (2020) menjelaskan kerja kearsipan tidak lagi berkutat semata-mata pada pelindungan, melainkan juga archival performativity, yakni penghadiran arsip secara kreatif dan artistik melalui berbagai media. Arsip hidup memahami arsip bukan lagi sekadar dokumen, melainkan serangkaian praktik representasi yang berfungsi mentransmisikan ingatan bersama demi membangun serta mempererat identitas sosial masyarakat.

Dalam hal arsip pembangunan Tugu Pahlawan, beragam praktik archival performativity memang telah rutin dilakukan. Baik yang diinisiasi pemerintah kota maupun oleh komunitas-komunitas sejarah di Surabaya. Di antaranya, produksi film Soera Ing Baja (2023) yang mereka ulang peresmian Tugu Pahlawan. Juga pentas teatrikal reenactment rutin di lapangan Tugu Pahlawan maupun di lokasi-lokasi pertempuran lain. Tidak sedikit pula pameran foto dan arsip digelar di ruang publik seperti Surabaya Lintas Masa (2022), Surabaya Heroes Virtue (2023), Surabaya Merajoet Asa (2024), lengkap dengan diskusi. Praktik-praktik tersebut adalah sebagian contoh bagaimana arsip dihidupkan dan menghidupi semesta di mana arsip itu diterbitkan, baik sebagai edukasi maupun inspirasi praktik-praktik seni budaya.

Dengan demikian, penetapan Arsip Pembangunan Tugu Pahlawan sebagai MKB setidaknya bermakna dua hal. Pertama, bukan hanya Pertempuran 10 November 1945 yang legendaris, namun juga militansi, semangat gotong royong, serta keberanian mengambil langkah sejak Tugu Pahlawan masih dalam pikiran hingga konkret berdiri tegak menjulang, kini telah ditetapkan sebagai ingatan bersama bangsa Indonesia. Kedua, makin disadarinya pergeseran paradigma kerja kearsipan yang tidak lagi berkutat semata pada preservasi, melainkan juga representasi dan aktualisasi.

Sudah tak zaman, memang, arsip hanya disimpan seakan rahasia gelap masa lalu yang riskan diungkap. Sebagaimana konsep living archives, arsip harus terbuka sebagai inspirasi bagi penciptaan karya-karya seni budaya, sesuai dengan selera dan semangat zamannya. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore