
ILUSTRASI
Tak ada suara Nadin Amizah di Maumere. Atau, setidaknya, saya tak mendengar suaranya selama lima hari di Maumere, sepanjang keikutsertaan saya di Flores Writers Festival, 7–11 November 2023. Dan, entah kenapa, itu terasa menyenangkan.
MUNGKIN karena saya belum lama dari Jakarta dan merasa suara Nadin Amizah ada di mana-mana: di mobil Grab yang saya tumpangi, di kafe kecil sepi yang secara acak saya masuki, di headset bocor milik seorang penumpang di kereta yang duduk tak jauh dari saya, juga di cuitan-cuitan di platform X dari akun-akun yang kebanyakan tak saya kenal. Dan ketika saya balik ke Jogja, saya kembali menemukan suara Nadin Amizah ada di mana-mana.
Barangkali saya perlu minta maaf kepada Nadin Amizah dan terutama para penggemarnya sebelum menulis lebih jauh di kolom ini. Karena, pada dasarnya saya tak punya masalah dengannya, juga dengan musiknya –kecuali bahwa saya terlalu rural untuk terkoneksi dengan musik dan lirik-lirik lagunya, dan akan selalu lebih memilih ratapan Iis Dahlia dibanding dirinya jika bicara soal ditinggal kekasih. Saya hanya merasa ia, terutama hari-hari ini, berasosiasi dengan semua hal yang pusat, yang Jakarta, dan terutama dengan hal-hal yang terlalu dominan.
Ini mungkin tak adil untuk Nadin Amizah. Tapi, bagaimana lagi, begitulah asosiasi bekerja. Ia bisa benar, tapi bisa juga salah, atau malah salah besar.
***
Saya tak mendengar suara Nadin Amizah ketika keluar dari Bandara Frans Seda dan menginjak Maumere untuk kali pertama. Dan saya masih tak mendengar Nadin Amizah sampai saya kembali ke Jawa lima hari kemudian. Tak juga ada Hindia atau Reality Club. Pun Efek Rumah Kaca atau Payung Teduh atau Danila Riyadi atau Jason Ranti atau nama-nama sejenis mereka. Dan, sekali lagi, itu menyenangkan. Ia memberi jeda lumayan panjang yang melegakan.
Tak juga ada dangdut, atau musik yang membuat saya mengingat kepada dangdut. Ketika ”Rungkad” dibawakan seorang penampil pada malam apresiasi seni di Universitas Nusa Nipa yang menjadi salah satu venue festival, alih-alih mengingat dangdut atau perdebatan apakah lagu seperti itu dangdut atau bukan, saya justru lebih mengingat Presiden Jokowi dan lagu-lagu Jawa kesukaannya yang diusung ke istana.
Sejak masuk minibus yang mengantar kami ke hotel saat kami tiba, kuping kami dihantam oleh musik jenis EDM dengan nuansa bebunyian lokal. Dan musik yang sama diperdengarkan di bus-bus kampus yang menjemput kami ke lokasi diskusi, juga yang mengantar kami ke tempat-tempat penting di sekitar Maumere pada hari-hari berikutnya. Lagu yang kurang lebih sama juga diputar saat kami tak sedang dalam perjalanan, misalnya ketika panitia sedang kumpul-kumpul, atau ketika di waktu-waktu jeda acara. Sebagian lirik lagu-lagu bisa saya mengerti karena memakai bahasa Melayu dialek setempat, tapi sebagian besar sepertinya pakai bahasa lokal yang sama sekali asing.
Apakah itu semacam sajian bercita rasa lokal untuk para turis? Sepertinya tidak. Dan saya yakin tidak. Saya merasakan dan menyimak musik-musik itu sebagaimana saya merasakan dan menyimak musik koplo di bus-bus Surabaya–Jogja: musik itu adalah selera sopir; jika penumpang senang, mari bergabung; jika tidak, ya coba dulu. Dan saya rasa itu malah tepat: kami diperdengarkan apa yang mestinya didengar, bukan apa yang ingin kami dengar.
”Itu lagu pesta. Pelakunya disebut remixer pesta. Kalau pakai alat musik tradisional, namanya Musik Kampung,” jelas Eka Putra Nggalu, seniman asal Maumere sekaligus produser festival, kepada saya.
Yang membuat saya tak sepenuhnya terasing, di antara musik-musik elektronik itu terselip satu–dua lagu pop lawas. Saya sebenarnya berharap ada ”Antara Hitam dan Putih” dari Helen Sparinga atau ”Antara Benci dan Rindu”-nya Ratih Purwasih, atau lagu-lagu lain karya Obbie Messakh –musisi yang selama ini saya asosiasikan dengan Flores (meskipun ia orang Rote). Tapi, lagu-lagu Pance Pondaag-lah yang paling menonjol di antara yang sedikit itu. Tentu saja tak apa. Toh keduanya, juga Rinto Harahap, sama-sama produk JK Record, pabriknya pop cengeng ’80-an. Lagi pula, lagu-lagu Pance, orang Manado yang lahir di Makassar, sangat disukai orang Flores –begitu yang pernah ditulis bloger Surabaya asal Lembata, Lambertus Hurek.
Dan sesekali saya bisa ikut berdendang: ”Aku masih seperti yang dulu, menunggumu sampai akhir hidupku.”
***
Tapi, benarkah tak ada suara Nadin Amizah (atau suara dari nama-nama sejenisnya) sama sekali di Maumere? Sejujurnya saya ragu.
Barangkali karena saya tak ke mana-mana selain ke tempat-tempat diskusi di area kampus atau ke tempat-tempat penting atau bersejarah di sekitar Maumere. Saya tak mampir ke kafe kecil setempat, atau nongkrong di pangkalan ojek terdekat, atau jalan-jalan ke pusat keramaian. Dan boleh jadi karena tak ada headset bocor milik seorang kawan penulis yang mungkin saja sedang memutar lagu-lagu Nadin Amizah. (Atau Endang Maemunah, siapa tahu?)

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
