
Visa mendeteksi hampir USD 1 miliar atau Rp 18 triliun aktivitas yang berkaitan dengan penipuan (scam). (Dok. Visa)
JawaPos.com - Perkembangan transaksi digital di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Data Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital pada kuartal pertama 2026 mencapai 14,82 miliar transaksi atau meningkat 37,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi ini mencerminkan bahwa ekosistem pembayaran nasional semakin terkoneksi dan berlangsung secara real-time. Di sisi lain, konsumen menuntut pengalaman bertransaksi yang cepat, aman, dan konsisten di berbagai kanal pembayaran.
Saat ini, transaksi berlangsung melalui berbagai jaringan, platform, dan titik interaksi yang saling terhubung secara simultan. Bagi pelaku usaha, kondisi ini menuntut kemampuan untuk mengelola transaksi lintas sistem sekaligus mengambil keputusan terkait risiko dan otorisasi pembayaran secara cepat dan akurat.
Vira Widiyasari, Country Manager, Visa Indonesia, mengatakan, seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, fokus pihaknya sendiri adalah mendukung pertumbuhan tersebut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.
“Hal ini dilakukan dengan memperkuat kepercayaan di seluruh ekosistem layanan keuangan dan pembayaran digital, sehingga pelaku usaha dapat berkembang dengan lebih percaya diri dan masyarakat dapat bertransaksi dengan aman. Ketika sistem pembayaran berjalan secara andal dalam skala besar, hal tersebut akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan yang lebih luas di Indonesia,” ujar Visa Indonesia Client Forum 2026 di Bali, Kamis (4/6).
Salah satu isu yang menjadi perhatian utama dalam transaksi digital adalah meningkatnya ancaman fraud. Meski teknologi keamanan pembayaran terus berkembang, pelaku kejahatan finansial juga semakin adaptif dalam mencari celah baru. Tantangan ini semakin terasa di pasar yang didominasi transaksi berbasis ponsel, pembayaran instan, dan layanan digital yang terintegrasi dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.
Berdasarkan laporan Spring 2026 Biannual Threats Visa yang mengacu pada pemantauan jaringan global perusahaan, pola kejahatan pembayaran mengalami pergeseran signifikan.
Jika sebelumnya serangan lebih banyak menargetkan kelemahan sistem teknologi, kini pelaku kejahatan semakin mengandalkan teknik social engineering berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memanipulasi pengguna.
Selama periode Juli hingga Desember 2025, Visa mendeteksi hampir USD 1 miliar atau Rp 18 triliun aktivitas yang berkaitan dengan penipuan (scam), menjadikannya kategori fraud konsumen terbesar dalam periode tersebut.
Meski demikian, laporan yang sama juga menunjukkan hasil positif dari berbagai upaya penguatan keamanan. Fraud yang melibatkan token perangkat tercatat turun 9,6 persen secara tahunan.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
