
ILUSTRASI Gedung Bank Indonesia (BI). BI memastikan telah memperhitungkan pertimbangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi sebelum menaikkan suku bunga acuaan jadi 5,25 persen. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Bank Indonesia (BI) meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tetap berada pada prakiraan bank sentral, yakni kisaran 4,9-5,7 persen, meskipun suku bunga acuan (BI-Rate) diputuskan untuk naik sebesar 50 basis poin (bps) pada Mei.
"Dalam mengukur takaran berapa BI-Rate naik, tentu saja kami mempertimbangkan pertumbuhan, bagaimana pertimbangan yang seimbang antara pengendalian inflasi sesuai sasaran dan dampak yang tentu saja tidak terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.
Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (20/5), Perry mengatakan, otoritas moneter juga terus melakukan koordinasi yang erat dengan pemerintah, terutama terkait dengan kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Kami tegaskan bahwa dalam mengukur BI-Rate 50 bps, kami juga menakar bahwa mampu mengendalikan inflasi dalam sasaran dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi masih tetap berada dalam kisaran sasaran 4,9 sampai 5,7 persen," kata dia.
Terkait inflasi, Perry memastikan bahwa bank sentral terus memantau perkembangan inflasi domestik secara ketat dari bulan ke bulan, terutama terkait perkembangan harga minyak dan komoditas global yang berdampak pada harga-harga di dalam negeri termasuk barang impor.
Kenaikan harga komoditas dunia, catat dia, akan memicu imported inflation karena Indonesia masih bergantung pada bahan baku dan material dari luar negeri. Ia juga menilai bahwa penyesuaian harga energi non-subsidi turut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Oleh sebab itu, tegas Perry, kenaikan BI-Rate tidak hanya ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah tetapi juga untuk menjaga inflasi pada 2026-2027 tetap berada dalam sasaran sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen atau rentang 1,5-3,5 persen.
Seiring dengan hal tersebut, ia memastikan bank sentral bersinergi erat dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID) untuk menjaga inflasi volatile food dan dampak rambatan harga global agar tetap terkendali.
"Itulah kenapa kenaikan BI-Rate 50 bps ini kami meyakini mampu membawa perkiraan inflasi 2026-2027 akan berada tetap berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen yang ditetapkan pemerintah," kata Perry.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Celtic vs Ferencvaros di Liga Europa: Kans The Hoops Permalukan Lawan di Celtic Park
Prediksi Skor FC Seoul vs Persib di ACL Two: Maung Bandung Hadapi Ujian Berat di Korea
Prediksi Skor Olympiacos vs Jagiellonia Bialystok di Liga Europa: Thrylos Amankan 3 Poin Kandang
Prediksi Skor Malaga vs Villarreal di Liga Spanyol: Kapal Selam Kuning Siap Bombardir Tuan Rumah
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao: Duel Tim Papan Tengah LaLiga Berpotensi Berlangsung Ketat
Prediksi Skor Levante vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Los Leones Bidik Poin di Laga Tandang
Prediksi Skor Real Betis vs Getafe di Liga Spanyol: Los Verdiblancos Siap Sikat Perlawanan Tim Tamu
Prediksi Skor Lillestrom vs Torreense di Liga Europa: Kans Kanarifuglene Menang di Arasen Stadion
Prediksi Skor Besiktas vs Marseille di Liga Europa: Kara Kartallar Cabik-cabik Tim Tamu di Tupras
Prediksi Skor Levski Sofia vs Red Bull Salzburg di Liga Europa: Misi Die Roten Bullen Curi Poin

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022