Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Februari 2018 | 18.35 WIB

Ini Penyebab Rupiah Ambruk terhadap Dolar AS Sepekan Terakhir, Simak!

Ilustrasi penukaran mata uang asing di sebuah money changer - Image

Ilustrasi penukaran mata uang asing di sebuah money changer

JawaPos.com - Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan sepanjang pekan lalu menyusul terapresiasinya USD seiring meningkatnya permintaan akan aset-aset safe heaven di pasar valuta asing.


Nilai tukar rupiah terhadap USD melemah 1,30 persen dari sebelumnya melemah 3,18 persen. Di pekan kemarin, laju rupiah sempat melemah ke level 13.648 atau di bawah sebelumnya di level 13.450.


Sementara level tertinggi yang dicapai di angka 13.446 atau di bawah level sebelumnya di level 13.301. Laju rupiah di pekan kemarin bergerak di bawah target batas bawah (support) 13.456 dan di bawah batas atas (resisten) 13.438.


“Rilis angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07 persen tampaknya tidak cukup kuat menahan pelemahan rupiah,” kata Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada di Jakarta, Minggu (11/2).


Di sisi lain, kata Reza, masih terapresiasinya USD seiring dengan respons positif pelaku pasar terhadap kenaikan data ketenagakerjaan turut membuat laju Rupiah kembali melemah.


Bahkan, adanya pernyataan dari Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution yang optimistis perekonomian masih bisa tumbuh sesuai proyeksi pada 2018 yaitu 5,4 persen, meski ekonomi keseluruhan tahun 2017 hanya tumbuh 5,07 persen juga tidak banyak berpengaruh pada Rupiah.


“Adanya sentimen positif dari dalam negeri terhalangi dengan sentimen kekhawatiran akan kenaikan agresif suku bunga The Fed sehingga membuat rupiah kembali berada di zona merah. Pelemahan rupiah ini pun mendapat imbas tekanan pada EUR, GBP, dan mata uang hard currency lainnya terhadap USD,” tuturnya.


Selain itu, lanjutnya, pelemahan ini sejalan dengan komentar Bank Indonesia yang menyebutkan depresiasi nilai tukar Rupiah pada Kamis, yang menembus level Rp 13.600 masih tergolong "dinamika normal" karena pelaku pasar melakukan penyesuaian untuk menghadapi kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve yang diperkirakan terjadi Maret 2018.


Menurutnya, pergerakan Rupiah masih melanjutkan pelemahannya seiring masih terapresiasinya USD yang memiliki volatilitas tinggi dipicu oleh kekhawatiran tentang tanda-tanda inflasi di tengah membaiknya latar belakang ekonomi global dan AS hingga spekulasi apakah Federal Reserve dan bank sentral utama lainnya akan bertindak lebih cepat untuk menaikkan suku bunga.


Sementara itu, sentimen positif dari dalam negeri bahwa perkiraan BI terhadap Surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dapat berlanjut pada triwulan IV /2017 dengan defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali, serta perkiraan potensi lembaga pemeringkat lainnya untuk menaikan peringkat Indonesia setelah Japan Credit Rating Agency menaikkan peringkat surat utang Indonesia, tampaknya kurang kuat menghalau pelemahan rupiah.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore