
Ilustrasi budgeting. (Nina/Jawa Pos)
Tidak sedikit yang mengalami hal ini. Menghadapi teman yang tidak atau kurang bertanggung jawab melakukan (membayar) kewajiban mereka. Hal yang menjengkelkan, ya. Mau menagih atau bicara terus terang rasanya sungkan, apalagi kalau teman akrab. Namun, kalau tidak ditagih, itu kewajiban mereka.
---
SEHARUSNYA justru karena akrab, para teman itu seyogianya lebih bisa menjaga pertemanan, tidak malah meremehkan kewajiban atau malah (berlagak) lupa. Apalagi jika bukan orang tidak mampu.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal semacam itu kebanyakan terjadi pada tiga kasus ini. Pertama, teman meminjam uang, tapi lalai membayar. Kedua, teman ambil atau beli barang, tapi tak kunjung membayar. Dan, teman yang jarang ikut membayar, padahal selalu ikut makan bareng.
Widagdho (1999) menyatakan bahwa tanggung jawab adalah perbuatan manusia sebagai wujud dari kesadaran akan kewajibannya. Namun, sering kali kita dibikin tidak paham mengapa ada orang-orang yang tidak mau berbuat kebaikan sebagai wujud dari tanggung jawabnya. Entah tanggung jawab ekonomi (berutang) atau tanggung jawab sosial (misalnya, membiarkan orang lain terus membayar untuknya).
Jadi, bagaimana sebaiknya menghadapi yang semacam itu? Apa pun latar belakang penyebab mereka tidak bertanggung jawab itu, kita perlu mengambil sikap asertif. Tegas, terbuka, tapi tanpa sikap atau nada keras atau kasar. Sungkan? Tidak perlu. Sebab, seharusnya mereka yang justru wajib merasa sungkan dan malu.
Bila yang meminjam tak kunjung membayar:
- Ditagih dengan baik.
- Diingatkan kewajiban membayar.
- Sampaikan bahwa kita juga punya kebutuhan.
- Diberi keringanan mencicil bila ada kesulitan.
- Siapkan diri menghadapi kebandelan sikap peminjam.
- Jika jumlah sangat besar, ingatkan baik-baik bahwa kita tidak ingin hal itu menjadi kasus hukum.
Bila yang mengambil/membeli barang tak kunjung membayar:
- Sampaikan kalau sudah transfer tolong mengabari, karena harus cek dana masuk.
- Sampaikan bahwa dana transfer ditunggu, terima kasih.
Bila teman jarang mau membayar makanan yang dimakannya, bagaimana?
- Ketika muncul gagasan makan bersama, sampaikan kita patungan. Kecuali jika ada yang menyatakan akan mentraktir.
- Coba sesekali diam saja, bersikap pasif. Biar dia yang membayar.
- Uang dikumpulkan seseorang (kolektor) saat akan membayar. Berapa pun, semampu mereka.
- Semua itu adalah ikhtiar untuk mengingatkan kewajiban sosial maupun finansial mereka. Tetap dengan nada serta cara yang baik dan pantas.
- Bagaimana jika Anda yang kurang sadar akan kewajiban itu? Segeralah buka hati dan jaga citra diri. Hindari menjadi beban penyebab kesusahan atau ketidaknyamanan bagi orang lain. Bangun relasi dengan siapa pun dengan positive attitude. Jadilah pribadi yang membawa kenyamanan bagi siapa pun. Yang punya harga diri. (*)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
