Untuk kali kedua Henry masuk penjara. Untuk kasus yang sama pula. Kepemilikan ganja. Kini Henry berupaya bangkit melepaskan diri dari ketergantungan ganja. Menulis lagu dan beribadah. Sebab, di dalam bui, dia selalu teringat anak dan istri.
LUGAS WICAKSONO, SURABAYA
TUJUH bulan tinggal di Rutan Kelas I-A Surabaya di Medaeng membuat Hubert Henry Limahelu memiliki banyak kesempatan untuk berkarya. Basis Boomerang itu memanfaatkan waktu untuk menulis lagu. Kini ada sekitar 14 lagu yang diciptakan selama menjalani proses hukum. ’’Di kepolisian empat. Di sini (rutan) corat-coret sekitar sepuluh. Aku menulis begitu saja kalau dapat ide. Ingat tulis satu bar,’’ ujar Henry saat ditemui di Rutan Medaeng.
Tinggal di rutan bersama tahanan lain justru membuatnya mendapat banyak ide. Pria 51 tahun itu mengaku terinspirasi menulis lirik dari kehidupan tahanan-tahanan lain di dalam rutan. Banyaknya tahanan dengan berbagai latar belakang menginspirasinya.
’’Tema-tema lagu itu tentang apa yang ada di sini. Ada yang enggak bisa makan. Ada yang enggak punya siapa-siapa, enggak ada yang besuk. Istilahnya di sini anak hilang. Ada juga yang sudah dihukum masih saja sombong,’’ tuturnya.
Lirik-lirik itu rencananya diaransemen menjadi lagu-lagu ketika dirinya sudah bebas dari penjara. Hubert yang divonis 16 bulan penjara tinggal menyisakan kurang dari separo masa tahanan. Setelah itu, dia akan menghirup udara bebas. ’’Setelah nanti pulang akan aku coba kerjain utak-atik ini pasnya bagaimana,’’ ucapnya.
Henry yang berasal dari Desa Amurang, Minahasa, Sulawesi Utara, berencana kembali bermusik ketika sudah bebas. Kolega-koleganya, para personel Boomerang, sudah menunggu dirinya kembali bergabung dalam grup band legendaris tersebut. ’’Saya sudah ditunggu Boomerang. Aku juga banyak berterima kasih kepada manajemen yang sudah banyak membantu saya selama di sini,’’ katanya.
Di dalam rutan, dia juga aktif bermain musik bersama Prison Band. Grup band yang anggotanya tahanan-tahanan rutan. Selain itu, mereka kerap tampil di atas panggung untuk mengisi acara-acara rutan. Bermain musik menjadi salah satu cara bagi dia untuk mengisi waktu selama di dalam penjara. Tujuan lainnya, dia berusaha melepaskan diri dari ketergantungan ganja.
Pria kelahiran 8 September 1968 tersebut mengklaim sudah bebas dari ganja. Tidak sulit bagi dia lepas dari ganja yang sejak lama diisapnya. Ganja tidak secandu rokok dan alkohol.
Dia mengakui sejak remaja mengenal ganja. Daun kering itu juga dijadikan obat alternatif ketika dirinya sakit bronkitis pada 1995 sampai 1998. ’’Saya sudah baca dari literatur kalau ganja itu dijadikan obat sejak zaman sebelum Masehi,’’ ujarnya.
Setelah tahun-tahun itu, Henry masih terbiasa mengisap ganja. Akhirnya, dia ditangkap polisi pada 2003. Henry muda dinyatakan bersalah dan dipenjara di Rutan Medaeng selama lima bulan.
Setelah bebas, dia mengaku tidak pernah lagi menyentuh ganja selama sepuluh tahun. Lantas, dia sesekali kembali mengisapnya karena pengaruh lingkungan.
Namun, dia punya prinsip ketika konser dengan Boomerang. Tidak ada narkotika dan alkohol ketika sudah berada di atas panggung. Sebagai musisi, dia harus steril dari pengaruh zat-zat adiktif ketika bermain musik. ’’Di atas panggung aku steril. Aku tidak ingin bilang ini yang main ganja, ini yang main alkohol. Aku ingin yang main musik aku sendiri tanpa pengaruh apa pun,’’ ungkapnya.
Akhirnya, dia ditangkap polisi untuk kali kedua pada Juni 2019. Penyebabnya lagi-lagi ganja. Sepekan setelah konser Boomerang di Grand City Mall Surabaya. Dia mengaku tidak percaya saja dirinya ditangkap. ’’Kalau Boomerang saat itu tidak konser di Surabaya, mungkin saya tidak ditangkap,’’ kata, lantas tertawa.
Henry mengaku sempat berdebat dengan penyidik di Mapolrestabes Surabaya mengenai ganja. Dia kukuh menyatakan bahwa mengisap ganja bukan perbuatan kriminal. Ganja mengandung banyak manfaat bagi kesehatan.
’’Sampai penyidiknya juga googling. Tapi, dia bilang kalau sudah melanggar aturan hukum. Kalau pakai pendekatan hukum, iya saya mengaku salah,’’ ungkapnya.
Dua kali mendekam di Rutan Medaeng karena kasus yang sama membuat Henry depresi. Saat sendiri di dalam penjara, dia kerap teringat istrinya, Louretta Limahelu, dan tiga anaknya yang masih belasan tahun. ’’Beda dengan dulu ketika masih bujangan. Apalagi, saya itu sama anak-anak sudah seperti teman sendiri,’’ katanya.
Jika sudah demikian, dia berangkat ke gereja untuk mengingat Tuhan. Bagi dia, agama cukup penting untuk meringankan beban hidup. Beribadah menjadi salah satu kegiatan rutinnya selain bermusik. ’’Aku aktif di gereja. Istri bilang baca-baca Bibel biar lebih tenang,’’ ucapnya.
Kini Henry lebih mawas diri. Dia sudah mengakui kesalahannya mengonsumsi ganja. Apa pun alasannya, perbuatannya sudah melanggar hukum. Kini dia mulai menata kembali masa depannya. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama untuk kali ketiga. Sebab, yang dirugikan, selain dirinya, adalah keluarga dan orang-orang yang menyayanginya.