
Muhidin M. Dahlan dan buku Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998. Buku tersebut hasil kerja pengklipingan yang dimulai sejak belasan tahun silam.
Bersama sahabatnya, Zen RS, Muhidin M. Dahlan berburu kliping koran, tabloid, dan majalah untuk bahan buku Kronik 1998, lalu menata dan mendigitalisasikannya. Di sela pengerjaan yang menuntutnya duduk di depan laptop 20 jam sehari, berjalan-jalan ke TMP Kalibata jadi obat pengusir jenuh.
EDI SUSILO, Jakarta
---
DI ruang kos-kosan Pasar Minggu, yang tak jauh dari kompleks Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, kronik setebal 518 halaman itu disusun. Berdasar ribuan arsip koran, tabloid, dan majalah yang sudah Muhidin M. Dahlan dan sahabatnya, jurnalis Zen RS, guntingi serta digitalisasi selama belasan tahun.
Hanya butuh 11 hari baginya untuk merangkai ribuan sumber koran itu menjadi narasi panjang dan berurutan. Lahirlah Kronik Penculikan Aktivis dan Kekerasan Negara 1998 yang berisi rentetan peristiwa yang belum tuntas diselesaikan negara hingga hari ini.
”Untuk menyusun kronik ini, saya harus menyeleksi ketat,” kata Muhidin kepada Jawa Pos Senin (22/1) pekan lalu.
Dari 4 ribu arsip yang ada, dia harus mengeprasnya menjadi sekitar 400 kliping. Lalu menguntai dalam lima babak, begitu Muhidin menyebut bab kroniknya. Tema-tema yang dirangkai bak pertunjukan drama.
Dimulai asal usul peristiwa, siapa saja aktor yang terlibat, hingga para pelaku dan korban. Gejolak politik di tahun itu juga dia potret.
Dan, dia tutup dengan aktor utama, yang menjadi sentral perlawanan aktivis di tahun-tahun reformasi: Munir Said Thalib.
Lelaki kelahiran Donggala, Sulawesi Tengah, 13 Mei 1978 itu menyebut Munir sebagai Bayangkara Kekerasan Orde Baru. Daya kritis Munir dan catatan tajamnya lewat opini di berbagai pemberitaan membuatnya layak ditempatkan di posisi khusus.
Di buku terbarunya yang mulai dipasarkan pada 20 Januari tersebut, kiprah aktivis yang wafat akibat diracun di udara itu dia tempatkan di posisi khusus. Lantaran memiliki peran sentral.
Tak hanya soal menculik aktivis, Muhidin juga memotret di momen itu terjadi pula kekerasan negara yang masif. Di antaranya, Tragedi Semanggi, Kerusuhan Kebumen, hingga Operasi Naga Hijau yang menyasar di Jawa Timur.
Di bio akun X (dulu Twitter)-nya, Muhidin menyebut dirinya ”dokumentator Indonesia partikelir”. Sebutan yang tak berlebihan karena ketekunannya mengumpulkan dan merawat arsip.
Sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang dikenal sebagai pengkliping gigih adalah panutannya dalam semangat ini. Muhidin mengelola Warung Arsip, juga Radio Buku, yang bermarkas di Jogjakarta.
Muhidin menyebut peristiwa 1998 sebenarnya belum tuntas betul. Itu tampak dari kronik yang ditutup dengan alur antiklimaks. Dan, negara sengaja membiarkan kasus ini berlarut. Mengambang. Lalu berharap luntur dari alam pikiran anak bangsa. Itu yang berusaha diperjuangkan Muhidin untuk ditepis.

Komedian Temon Kristen Tapi Punya Banyak Istri, Begini Kata Pihak Keluarga
Hasil Norwegia vs Inggris 1-2 di Piala Dunia 2026: Brace Jude Bellingham Bawa The Three Lions ke Semifinal
Prediksi Argentina vs Inggris di Piala Dunia: Messi Ungkap Jalan Terjal ke Semifinal, Singgung Duel Panas Lawan Three Lions pada 1986
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Beri Nafkah Kecil ke Fangfang, Vicky Prasetyo: Dari Awal Kamu Tahu Saya Punya Anak Banyak
Tragis! Gadis 13 Tahun di India Diperkosa 30 Pria Selama 5 Hari, Para Tersangka Diarak Warga
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Vicky Prasetyo Menunggu Detak Jantung Janin Sebelum Nikahi Fangfang Secara Siri
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Sesi Foto Bersama di Pemakaman Komedian Temon Terbelah Jadi 2 Kubu
