Kesulitan untuk bisa terkoneksi dengan yang lain sebenarnya juga dialami Satriadi. Kadang, ada maksud dari pemikirannya yang sulit dipahami orang lain. Sementara, dengan member Mensa cenderung lebih gampang.
”Mungkin karena wavelength-nya sama, jadi lebih mudah,” ungkap pria dengan range IQ 130–139 tersebut kepada Jawa Pos di Jakarta Agustus lalu.
Saat ini, ada sekitar 145 ribu anggota yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Sebanyak 250 orang di antaranya berada di Indonesia dan tergabung di Mensa Indonesia.
Untuk anggota di Indonesia, ada yang mencapai 145 skor IQ-nya. Untuk masuk menjadi member Mensa Indonesia, selain syarat IQ 2 persen teratas, ada syarat lain: berusia minimal 14 tahun.
Usia tersebut dinilai paling ideal. Sebab, sebelum 14 tahun, kecerdasan seseorang masih bisa berubah sesuai dengan nutrisi dan pengasuhan yang diterima.
”Anggota kita ada yang 14 tahun 5 bulan, ayahnya anggota Mensa juga. IQ genetik gitu kan menurun,” katanya.
Mensa Indonesia kian membuka diri untuk merangkul para intelektual dengan berbagai jenis latar. Sebab, kecerdasan itu beragam dan luas. ”Bahkan, ada tukang kelontong (pemilik warung kelontong) juga yang jadi anggota,” tuturnya.
Dengan makin inklusif, Mensa Indonesia berharap bisa membantu memetakan dan mengembangkan anak-anak bangsa sehingga potensi mereka termaksimalkan. Terlebih, Indonesia akan dihadapkan pada bonus demografi pada 2045.
Karena itu, Mensa Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga memberikan pelatihan mengenai nilai kecerdasan dan logika. Kemudian membuat talent pool untuk anak-anak dengan kecerdasan luar biasa.
Nurul Qomariyah, salah seorang anggota Mensa Indonesia, mengaku mendapat banyak manfaat setelah bergabung dalam komunitas tersebut. Sebagai pengidap sindrom asperger, yang membuatnya sulit membaca ekspresi orang, Nurul sempat kesulitan untuk berkomunikasi secara efektif di bersekolah.
Dengan dukungan orang tuanya, Nurul mencoba untuk mengatasi hambatan dan keterbatasan tersebut. ”Setelah bergabung dengan Mensa, saya kini bisa menjadi analis, bisa menjadi dosen,” tuturnya.
Anda yang mungkin ber-IQ biasa saja, tapi kebetulan suatu hari berkumpul bersama orang-orang genius, juga tak perlu minder. Satriadi sudah memberikan clue tadi: ajak saja main jokes bapak-bapak.
’’Ayo, keripik-keripik apa yang nyambung?” misalnya. Kalau mereka kelimpungan, tambahi saja, ’’Coba, kue-kue apa yang bisa nyanyi dangdut?”... (*/c7/ttg)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
