Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 April 2021 | 22.09 WIB

Prestasi Harum dan Nama Baik Mengiringi "Patroli Abadi” sang Komandan

DUKUNGAN MORIL: Ninda Dwiyanti (kanan) dan Nany Hadi Tjahjanto di rumah duka almarhum Letkol Laut (P) Heri Oktavian di Surabaya (26/4). (UMAR WIRAHADI/JAWA POS) - Image

DUKUNGAN MORIL: Ninda Dwiyanti (kanan) dan Nany Hadi Tjahjanto di rumah duka almarhum Letkol Laut (P) Heri Oktavian di Surabaya (26/4). (UMAR WIRAHADI/JAWA POS)

Kebun Sayuran dan Kolam Ikan untuk Ketahanan Pangan Warga


Sebagaimana KRI Nanggala-402 yang dia pimpin untuk berpatroli selamanya, jejak kepemimpinan Letkol Laut (P) Heri Oktavian di lingkungan tempat dia tinggal juga bakal abadi.

UMAR WIRAHADI, Surabaya, Jawa Pos

---

KEBUN itu tak luas, sekitar 4,5 x 4,5 meter saja. Ada aneka sayuran dan buah tumbuh subur di sana: terong, cabai, bayam, serta jeruk dan singkong.

Persis di sebelah kebun itu ada kolam ikan.

’’Dulunya itu lahan nganggur, Pak Heri yang punya ide memanfaatkannya jadi kebun dan kolam. Dan, sampai sekarang sangat bermanfaat bagi warga,” kata Muhammad Dhofi, salah seorang warga RT 2, RW 4, Perumahan Dinas TNI-AL, Kenjeran, Surabaya, kepada Jawa Pos kemarin.

Heri yang dimaksud Dhofi adalah Letkol Laut (P) Heri Oktavian. Dia adalah komandan kapal KRI Nanggala-402 yang tenggelam di perairan utara Bali sejak Rabu (21/4). Heri beserta 52 kru lain dinyatakan gugur.

Kebun dan kolam di ujung timur perumahan yang dimaksudkan untuk ketahanan pangan warga di masa pandemi itu hanya secuil contoh mengapa kepergian Heri tidak hanya memukul istri, kedua anak, serta keluarga besar. Tapi, juga warga sekitar di RT yang dia pimpin.

Sebab, nama baik sosok yang dikenal ramah itu berjejak di mana-mana. ’’Kalau ada warga yang sakit, selalu datang menjenguk. Minimal bawa vitamin atau buah,’’ tutur Dhofi.

Jika sedang punya waktu luang, dia aktif membuat program perbaikan kampung. Pada Februari lalu, misalnya, dia menginisiasi perbaikan paving di Jalan Sahempa. Paving yang sudah keropos karena termakan usia diganti dengan paving baru.

Pavingisasi tersebut dilakukan sepanjang 200-an meter dan tuntas Maret lalu. Kini jalan itu pun terlihat lebih gres. ’’Bahkan, sebagian dananya dari uang pribadi beliau langsung,’’ tutur Dhofi.

Sekretaris RW 4 Kelurahan Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, Serma (pur) Syafi’i mengenal pribadi Letkol Laut (P) Heri Oktavian sebagai sosok yang bijaksana, tapi tegas. Sikap bijaksana itu, tutur dia, kerap muncul ketika menggelar rapat yang melibatkan para ketua RT di lingkungan balai RW setempat. ’’Beliau kan orangnya aktif memberi ide. Tapi kalau mayoritas tidak setuju, ya dia welcome saja. Tidak mentang-mentang gitu,’’ ujar Syafi’i.

Ide memajukan lingkungan setempat sering muncul dari Heri. Selain pavingisasi jalan, Heri juga meninggalkan kebaikan bersama di lingkungan tempatnya. Yaitu, pengadaan gerobak sampah. ’’Sekarang semua RT punya gerobak sampah. Ini sepele, tapi sangat bermanfaat buat lingkungan,’’ imbuh purnawirawan TNI-AL itu.

Saat Jawa Pos kembali berkunjung ke sana kemarin siang, suasana duka masih begitu menggelayut. Semua bendera Merah Putih dikibarkan setengah tiang. Baik yang tertancap di depan rumah-rumah warga maupun di jalan utama.

Begitu memasuki Jalan Sahempa, tempat rumah almarhum berada, ratusan karangan bunga berjejer di sisi kiri dan kanan jalan.

Mulai dari Presiden Joko Widodo sampai Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin. Termasuk dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Ninda Rija Dwiyanti, istri Heri, juga masih sangat terpukul atas kepergian sang suami bersama 52 kru Nanggala lain di laut sebelah utara Bali. Ibunda Nerissa Arinda Pramesthi, 10, dan Savaira Arinda Reswara, 8, itu memilih lebih banyak mengurung diri di kamar. ’’Ibu belum mau ditemui dulu. Beliau butuh istirahat,’’ kata Mursihana, salah seorang tetangga, kepada Jawa Pos.

Ninda, kata Mursihana, tentu berharap masih ada mukjizat. ’’Semua dari kami tentu saja juga berharap demikian,” katanya.

Saat kali pertama ke rumah duka pada Senin sore lalu (26/4), Ninda dengan mata sembap sibuk menerima tetamu yang datang silih berganti. Termasuk di antaranya istri panglima TNI, Nany Hadi Tjahjanto, yang datang selepas salat Asar.

Begitu turun dari mobil, Nany langsung memeluk erat perempuan berkerudung itu. Tatapan mata Ninda terlihat lemah. Beberapa kali dia mengusap matanya yang basah. Mereka lalu mengobrol sekitar 30 menit di teras rumah bernomor 19 itu.

Baca juga: TNI-AL Evakuasi Torpedo KRI Nanggala-402 dari Kedalaman 838 Meter

Letkol Laut (P) Heri Oktavian dikenal sebagai prajurit berprestasi. Pada 2019, Heri yang ketika itu masih berpangkat mayor sempat menjabat komandan Sekolah Awak Kapal Selam (Dansekasel) Pusat Pendidikan Khusus (Pusdiksus). Komandan Sekasel adalah unsur pelaksana di lingkungan Pusat Pendidikan Khusus (Pusdiksus).

Jabatan itu memiliki tugas membantu komandan Pusdiksus menyelenggarakan pendidikan pengembangan profesi lingkup sekolah yang bersangkutan. Hingga pada 3 April 2020, dia naik pangkat sebagai komandan kapal selam KRI Nanggala-402.

Pria berusia 42 tahun itu juga pernah menempuh pendidikan di luar negeri. Persisnya di Rajaratnam School of International Studies, Singapura. Heri juga sempat menjalani pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI di Jerman.

Prestasi dan nama baik itulah yang kini mengiringi kepergian Heri. On eternal patrol (patroli abadi) bersama anak buahnya di KRI Nanggala.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=u_CVVy_Uh_I
Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore