Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Maret 2019 | 00.14 WIB

Kampung Baca Bukik Ase, Merawat Literasi Minangkabau

Anak-anak berlatih randai di Kampung Baca Bukik Ase - Image

Anak-anak berlatih randai di Kampung Baca Bukik Ase

Peradaban bergerak maju secepat putaran zaman. Jika tidak terus dirawat, warisan leluhur yang menyala hari ini, tidak mustahil padam satu atau dua dekade mendatang. Berangkat dari kekhawatiran itulah lahir Kampung Baca Bukik Ase. Wadah literasi budaya Minangkabau yang hadirnya menjadi penyejuk di tengah ingar bingar Kota Padang.


Laporan: Riki Chandra, Sumbar


Pagi itu, Minggu, pekan terakhir di bulan Februari, Habib berlarian pulang ke rumah. Dia disuruh ayah menjemput dua abangnya, Hamid, 8, dan Hanif, 10, yang tengah asyik bermain dengan kawan sebaya tak jauh dari kompleks perumahan mereka.


Namanya hari libur, bocah 5 tahun itu tampak bersungut-sungut menaati perintah ayah. Apalagi, dia harus berjalan kaki menjemput dan menyuruh kedua kakaknya pulang. "Mau kemana yah? Nggak lama kan?," tanyanya kepada ayah dengan dahi mengernyit.


Sepertinya, murid TK Fadillah Amal Sungai Sapih, Kota Padang itu sudah punya agenda bermain dengan kawan sejawat. Berat rasanya Habib menerima ajakan ayah di hari libur untuk mengunjungi kampung baca yang berjarak sekitar 3 kilometer dari kediamannya.


Akhirnya, tiga bocah itu pun berboncengan sepeda motor ayahnya menuju Kelurahan Gunung Sariak, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar).


Meski pendatang baru, Habib, Hamid dan Hanif tak ragu melenggang masuk pondokan Bukik Ase setelah seorang guru menyuruhnya masuk sesaat turun dari sepeda motor ayah.


Ketiga bocah itu pun bergabung dan turut khidmat membaca buku bersama puluhan anak lainnya yang sibuk dengan agenda berkelompok. Lucunya, setelah dua jam di Bukik Ase, giliran bocah-bocah itu yang enggan beranjak saat ayahnya mengajak pulang.


"Nanti ke sini lagi. Ayah harus pulang. Ada gotongroyong musala," kata ayahnya, Taufik memberikan pengertian.


Kampung Baca Bukik Ase cukup jauh dari riuh Kota Padang. Paling tidak, sekitar 3 kilometer dari Bypass Padang. Letaknya di lereng Bukit Ase, Macang Gadang, Kelurahan Gunung Sariak, Kecamatan Kuranji. Lerengnya diapit gunung Sariak dan Bukit Lantiak. Ada pula Surau "Rumah Gadang" yang menjadi gerbang masuk menuju area belajar Bukik Ase. Sejuk pastinya.


Area belajar tidak terlalu luas. Ada dua pondok belajar yang keduanya beratap rumbia dengan tiang dari bambu. Satu pondok bernama 'munggu kaciak' dan satunya lagi disematkan nama 'alun parindu'.


Di sini, belajar dimulai pukul 09.00 WIB setiap hari Minggu. Semua anak-anak dibebaskan datang. Mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA. Syaratnya cuma satu, mau belajar segala sesuatu budaya Minangkabau.


Di Kampung Baca ini, tidak diperbolehkan memanggil abang atau kakak kepada yang lebih besar. Siswa SD harus memanggil uda kepada siswa lelaki SMP dan uni untuk perempuan. Begitu seterusnya.


"Yang besar dipanggil uda (laki-laki) dan uni (perempuan). Gaya bercakapnya memang harus dengan bahasa Minang," kata salah seorang relawan Kampung Baca Bukik Ase, Yuri Gita Putri pada JawaPos.com.


Gadis 22 tahun itu adalah satu dari 7 relawan yang masih menyandang status mahasiswa. Mereka tak digaji sepeser pun demi berbagi ilmu untuk generasi. "Saya tau ini dulu dari medsos. Katanya ada lowongan jadi relawan. Saya daftar dan diterima. Nggak kenal sama sekali dengan pengelola ini awalnya," kata Yuri yang pernah juga mengabdi di panti asuhan sebelumnya.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore