
UNTUK KULIT: Dari kiri, Rizki Amalia Arifiani, Kholidatul Fauziyah, Mazhar Ardhina Silmi, Diah Ayu Laraswati, dan Nursanti Arya Pratiwi membawa produk karya mereka. (Edi Susilo/Jawa Pos)
BANYAK yang menyukai semur jengkol, rendang jengkol, atau keripik jengkol. Namun, bagaimana kosmetik dari jengkol? Bisa dicoba juga. Klaimnya, kaya antioksidan untuk melawan penuaan dini dan mencerahkan kulit.
EDI SUSILO, Surabaya
Kemasannya mungil. Hanya sebesar jari telunjuk. Beratnya hanya 30 gram. Harganya Rp 10 ribu per kemasan. Cocok untuk dimasukkan ke tas kosmetik. Bisa dibawa ke mana-mana ketika bepergian. Simpel. Khas anak muda. Kelebihan itu mengawali promo Djengkolic. Yakni, produk facial wash sekaligus facial scrub dari kulit jengkol buatan Rizki Amalia Arifiani, Kholidatul Fauziyah, Mazhar Ardhina Silmi, Diah Ayu Laraswati, dan Nursanti Arya Pratiwi.
Di tepi danau Kampus C Unair Minggu (11/8), mereka memperkenalkan produk itu. Dari dalam tas, satu per satu produk dengan kemasan aneka warna mereka keluarkan. Setiap warna membedakan aromanya. Mulai original, apel, green tea, rose, sampai kopi.
”Varian aroma ini dipilih agar Djengkolic cocok untuk semua kalangan. Bisa cowok, bisa cewek,” ujar Ketua Tim Djengkolic Mazhar Ardhina Silmi. Komposisi skincare dari bahan alami itu tidak membuat kulit iritasi. Sehingga cocok untuk semua jenis kulit.
Ide pembuatan Djengkolic berasal dari tantangan kompetisi program kreativitas mahasiswa bidang kewirausahaan (PKM-K). Mereka pun sepakat untuk mengembangkan kosmetik yang kini pasarnya mulai dikuasai produk impor.
Mereka pun mempelajari negara mana yang kini kosmetiknya digemari orang Indonesia. Ternyata, yang mendominasi adalah Korea Selatan. Sebanyak 65 persen perempuan Indonesia memfavoritkan kosmetik dari Negeri Ginseng itu Riset pun mereka jalankan. Pertanyaan mengapa Korea Selatan begitu mendominasi terjawab. Korea Selatan membanjiri pasar kosmetik karena unggul di bidang bahan alam. Bahannya unik-unik. Mulai abu vulkanik, lidah buaya, hingga lendir siput.
Tak mau kalah dengan kesuksesan Korea Selatan, mereka bertekad menciptakan produk kosmetik yang tidak kalah unik. Bahkan, anti-mainstream. Dicarilah literatur di kampus. Ditemukanlah kulit jengkol yang ternyata menyimpan banyak senyawa yang bermanfaat bagi kulit.
Salah satunya adalah kandungan vitamin C dan metil galat yang tinggi untuk antioksidan sebagai anti-penuaan dan bisa mencerahkan kulit. ”Kadar antioksidan pada kulit jengkol ini lebih tinggi dibandingkan kulit petai,” jelas Silmi, sapaan akrab Mazhar Ardhina Silmi.
Setelah menentukan bahan yang akan dijadikan bahan baku kosmetik, mereka terjun ke lapangan untuk mencari petani jengkol. Di Surabaya mereka tidak menemukan yang dicari. Tapi, mereka tidak kurang akal.
Ziyah, panggilan akrab Kholidatul Fauziyah, langsung menuju pasar. Mencari penjual jengkol. Sambil tanya-tanya siapa pemasok jengkol kepada si pedagang. Ketemu. Pedagang memberi tahu bahwa pemasok jengkol berada di Kediri. Mereka pun bertemu dan meminta kontak petani jengkol kepada pedagang. Yang langsung disanggupi oleh petani. ’’Kami sepakat untuk kerja sama,” jelas Ziyah.
Selama ini, kulit jengkol memang tidak pernah dimanfaatkan oleh petani. Setelah dipanen dan biji jengkol diambil, kulitnya biasanya hanya dianggap sebagai limbah. Tidak dilakukan pengolahan.
Bahan yang mereka dapat kemudian diolah dengan teknik ala anak Farmasi. Bahan yang sudah kering langsung diekstraksi. Hasil ekstraksi itulah yang dicampur dengan bahan-bahan lain untuk jadi Djengkolic siap pakai.
”Awal nyampur gagal. Karena bahan campuran terlalu encer. Tapi, percobaan kedua langsung menemukan formula yang pas,” tuturnya. Campuran serbuk kulit jengkol dengan gel membuat tampilan Djengkolic cukup menarik. Butiran kulit jengkol dan gel menjadi semacam scrub alami. ”Makanya ini kami sebut Djengkolic 2 in 1,” tuturnya. Bisa digunakan untuk facial wash dan facial scrub.
Anggota Djengkolic lain, Diah Ayu Laraswati, mengungkapkan bahwa saat ini Djengkolic mulai dipasarkan. Strateginya melalui jaringan pertemanan dan lewat online shop.
Meski baru dimulai tahun ini, peminat Djengkolic sudah sampai ke beberapa daerah. Di Jatim ada yang dijual ke Blitar, Malang, Pasuruan, dan Trenggalek. Di luar itu, Djengkolic sudah laku di Cimahi, Bengkulu, hingga Papua.
Produk mereka sudah diuji lewat laboratorium Unit Layanan Pengujian Farmasi Unair. Ke depan, mereka mendaftarkan produknya ke BPOM untuk standardisasi produk. Selain Djengkolic, mereka berharap mampu menciptakan produk berbahan alam lain. ”Semoga bisa terus kami kembangkan kosmetik berbahan dasar alam Indonesia yang ramah lingkungan,” terangnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
